3 Lembaga Bersinergi Dorong Program Bimbingan Perkawinan dan Pelayanan Kesehatan Calon Pengantin

0
Foto bersama setelah penandatanganan kerja sama. (Foto: dok Dirjen Bimas Kristen)

Jakarta – Kamis (29/4/2021), bertempat di salah satu hotel, 3 lembaga yaitu Kemenag, Kemenkes, dan BKKBN bersinergi dalam pelaksanaan program bimbingan perkawinan dan pelayanan kesehatan bagi calon pengantin.

Hadir dalam penandatanganan kerja sama, Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes drg. Kartini Rustandi, Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury, Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro, Dirjen Bimas Hindu Tri Handoko Seto, dan Dirjen Bimas Buddha, Caliadi. Selain itu, dilakukan juga penandatanganan kerja sama antara Direktur Kesehatan Keluarga, Erna Mulati, dengan Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Konghucu Kementerian Agama, Wawan Djunaedi.

Menurut, drg. Kartini Rustandi sinergi ini dilakukan untuk mengoptimalkan program bimbingan perkawinan dan pelayanan kesehatan agar para calon pengantin siap secara fisik dan mental.

“Anak-anak yang lahir di tahun 2021 sampai 2024 inilah yang harus menjadi bayi yang sehat. Masalahnya, sampai saat ini 1 dari 4 anak yang lahir di Indonesia masuk dalam kategori stunting, 1 dari 9 anak kita mengalami obesitas (kegendutan). Tentu masalah tersebut nantinya akan berdampak pada pertumbuhan otak dan gangguan pada metabolisme tubuhnya. Yang lebih menyedihkan lagi, 30% dari anak-anak kita mengalami kurang darah atau anemia,” ungkapnya.

Baca juga:  Memperingati Holocaust Internasional Day: Jangan Lupakan Hari Tragedi Kemanusian bagi Orang Yahudi

Di sisi lain, Indonesia saat ini menempati posisi kedua dengan jumlah pernikahan dini terbanyak. Menurutnya, dari data yang ada etiap satu jam ada sekitar satu sampai dua ibu meninggal dunia akibat melahirkan dan dalam satu jam, delapan bayi meninggal dunia.

“Berdasarkan data, tahun 2019 ada 23.700 pernikahan dini yang meminta dispensasi dan tahun 2020 ada 24.000 kasus pernikahan dini yang meminta dispensasi. Faktanya, 97% dari mereka dikucilkan. Ini adalah angka yang sangat menyedihkan. Calon ibu atau calon pengantin wanita yang belum siap secara fisik dan mental, bagaimana bisa mempersiapkan anak yang baik, yang bisa menjadi generasi penerus bangsa,” paparnya.

Baca juga:  Mimpi Ps Dana Converstone Mengerikan, Benarkah Amerika Akan PERANG?

Drg. Kartini berharap para pemimpin umat tidak hanya memberikan bimbingan pra kawin tapi juga bimbingan dari sisi kesehatan.

“Sepengetahuan saya, setiap agama memberikan bimbingan sebelum menikah, alangkah baiknya, selain bimbingan keagamaan, kita juga memberikan informasi bagaimana mereka harus menjadi seorang ibu dan ayah yang sehat sehingga akan memiliki keluarga yang sehat,” jelasnya.

Sementara itu, Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury mengatakan bimbingan pra kawin dan pemeriksaan kesehatan pra kawin penting supaya kedua calon pengantin benar-benar siap mengaruhi bahtera rumah tangga.

“Kerjasama ini menjadi bagian dari upaya menata sistem yang harus kita upayakan sehingga generasi yang akan lahir dari sebuah pernikahan itu adalah generasi yang sehat, kuat dan berguna bagi masyarakat dan bangsa,” katanya dan berharap kerjasama ini bisa segera diimplementasikan dalam berbagai aksi yang konkret.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here