Alasan Israel Terdepan Dalam Vaksinasi Massal

0

Jakarta – Memasuki tahun 2021, seluruh dunia yang masih bergejolak dengan pandemic Covid-19 seperti mendapat secercah harapan dari vaksin Covid-19 yang sudah diproduksi dan sudah mulai didistribusikan untuk memulai program vaksinasi massal.

Vaksin diharapkan mampu menjadi jalan keluar atas masalah yang terjadi secara global ini, yang telah menghancurkan sektor-sektor kehudupan baik itu ekonomi, sosial dan lain sebagainya.

Tidak hanya kabar positif yang di dapat mengenai vaksin ini, keraguan masyarakat tentang vaksin pun juga muncul, mulai dari keamanan, efek samping. Hal itu mendasari pemikiran masyarakat yang beranggapan masakan hanya dalam waktu hampir satu tahun vaksin Covid-19 ini ditemukan.

Untuk menjawab keraguan masyakat akan keamanan dan efektifitas vaksin, sejumlah kepala negara siap menjadi orang pertama untuk menerima vaksinasi massal dan disiarkan secara langsung, sebut saja PM Israel Benyamin Netanyahu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden, sampai dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Beberapa negara yang sudah menerima vaksin sudah melakukan vaksinasi massal di negaranya, misalnya Singapura menjadi negara pertama di Asean yang melakukan vaksinasi massal, dan Indonesia yang rencananya akan dimulai pada pekan depan (13/01/20) dimana Presiden Joko Widodo akan menjadi orang pertama yang akan di vaksin.

Israel merupakan salah satu negara yang telah mendatangkan vaksin hampir 6 juta dosis vaksin, dimana total penduduk Israel itu sendiri sekitar 9 juta jiwa. Dimana hampir 60% warganya akan menerima vaksin Covid-19 ini.

Baca juga:  GKSI Gelar Sidang Sinode Terapkan Protokol Kesehatan Ketat Pada Peserta Sidang

Ini merupakan hal menarik lantaran kebutuhan vaksin yang tinggi di seluruh dunia, hanya Israel yang mampu mendapatkan jumlah vaksin yang banyak dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Kita bandingkan dengan Indonesia, dimana sampai dengan hari ini total vaksin yang datang baru sekitar 3 juta dosis vaksin dengan jumlah penduduk hampir 270 juta jiwa.

Aggapan pun mulai bermunculan, mulai dari Israel membeli dengan harga lebih mahal vaksin buatan Pfizer dan Moderna dibandingkan dengan negara-negara lainnya, sampai dengan adanya hubungan CEO Pfizer Albert Bourla yang merupakan keturunan Yahudi yang berasal dari Yunani.

Terlepas dari itu semua, seorang warga Israel Jeries Farah dalam keterangannya di program Youube “Kamu Hebat” bersama Pdt. Gilbert Lumoindong mengatakan perusahaan Pfizer dan Moderna memulai seperti istilah yang ada di Israel yakni “We Start On The Right Foot” maksudnya melangkah dengan kaki yang tepat pasti hasilnya baik.

“Penting sekali untuk Pfizer di tahap pertama vaksinasi pilih negara dimana sistem kesehatan yang sangat bagus supaya mendemonstrasikan kemampuan vaksinnya”, katanya.

Hal tersebut cukup beralasan dikarenakan dalam tahap awal pasti perlu pembuktian publik terhadap efektivitas vaksin keluarannya. “Tidak mungkin Pfizer memulai di negara-negara yang sistem kesehatan tidak bagus, tidak bisa tindak lanjut dengan pasien yang menerima itu (vaksin)”, tambahnya.

Baca juga:  Ini Aturan Misa Natal di Wilayah Keuskupan Agung Jakarta dan Semarang

Jeries Farah juga menambahkan setiap warga Israel punya rekam medis digital sejak bayi dan itu sudah berjalan selama 2 dekade. Maka dari itu menurut Jeries, Pfizer memilih Israel yang sudah sangat lengkap dengan data rekam medisnya, sehingga efektifitas vaksin dapat terlihat.

Jeries menjelaskan setiap warga negara Israel harus mendaftar di salah satu dari empat organisasi kesehatan Israel atau biasa disebut kupat holim, tidak hanya rekam medis tetapi juga akan mendapat fasilitas perawatan dan obat yang murah karena adanya subsidi pemerintah

“Israel punya asuransi kesehatan nasional, semua warga negara Israel punya asuransi ini, yang miskin, pengangguran, yang kaya dan semuanya bisa dirawat di rumah sakit”.

“Ini salah satu yang menbedakan negara Israel dengan banyak negara eropa dan banyak negara lainnya, Israel bukan murni kapitalism, Israel punya banyak sifat sosial”, pungkasnya

Jeries menambahkan data rekam medis digital ini sangat dirahasikan, hanya orang yang berkepentingan yang dapat mengaksesnya.

Dengan data medis digital yang sudah ada tidak perusahaan penyedia vaksin dapat dengan cepat mengetahui perkembangan pasien sebelum dan setelah vaksinasi. Dengan begitu keberhasilan vaksin buatan Pfizer dan Moderna ini dapat terlihata karena didukung dengan sistem data kesehatan yang baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here