Antara Digitaliasi dan Iman Jemaat di Lingkungan GKJ

0
Digitalisasi gereja
Ilustrasi : Sinode GKJ melakukan penelitian terkait digitalisasi pelayanan gereja dan pemeliharaan iman

Salatiga – Hampir 1 tahun pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia. Semua sektor mau tidak mau harus menyesuaikan diri, termasuk gereja. Semua gereja mengubah cara ibadahnya dari onsite (tatap muka) menjadi online demi tetap terlayani kebutuhan iman jemaatnya.

Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) merupakan salah satu dari sekian banyak sinode yang mengubah tata cara ibadahnya secara online.

Pdt. Imanuel Geovasky dari Pusat Kateketik Sinode GKJ (Puskat GKJ) memaparkan tentang hasil penelitian mengenai digitalisasi pelayanan gereja dan pemeliharaan iman. Menurutnya, pelayanan digital berpengaruh signifikan terhadap pemeliharaan iman jemaat gereja di lingkungan Sinode GKJ.

“Hal ini merupakan salah satu alternatif solusi terhadap kerinduan warga jemaat dalam kehidupan rohaninya, kendati memang belum dapat dikatakan sebagai substitusi sempurna dengan ibadah secara tatap muka,” ungkapnya dalam webinar “Gereja Digital” yang ditayangkan di kanal Youtube Sinode GKJ, Selasa (16/2/2021).

Pdt. Imanuel menjelaskan penelitian ini melibatkan 563 responden yang berasal dari warga GKJ di 32 klasis pada 10-27 November 2020. Adapun responden yang mengikuti secara daring sebanyak 390 orang dan yang mengikuti secara manual sebanyak 173 orang.

Dilihat dari rentan umur, paling banyak yang mengikuti penelitian adalah umur 36-50 tahun (35,6%), 21-35 tahun (26,3%), 51-56 tahun (26,1%), kurang dari 20 tahun (7,3%) dan lebih dari 65 tahun (4,7%). “Secara jabatan gerejawi paling banyak yang mengisi adalah jemaat (66%), Diaken dan Penatua (13%), serta pendeta (8%),” jelasnya.

Dari hasil penelitiaan sebanyak 31% warga GKJ sangat setuju metode ibadah daring lewat Youtube, rekaman suara atau suara di WA, siaran radio, Facebook, Instagram atau media lainnya. Sementara 29,9% setuju, 11,9% ragu-ragu, 21,5% tidak setuju dan 5,8% sangat tidak setuju. “Sebagian kecil responden yang merasa tidak puas terhadap metode ibadah daring disebabkan ibadah daring masih dirasa baru dan menjadikan responden belum dapat beradaptasi dengan kebiasaan atau bentuk baru ibadah ini,” paparnya.

BACA JUGA  Kenalan dengan Lusindo Tobing, Pendeta Jemaat GKJ dan Pencipta Lagu Rohani

Sementara itu, 9,7% (sangat setuju) dan 40,7% (setuju) responden merasa khusyuk dan nyaman mengikuti ibadah daring melalui Youtube, live instagram atau zoom meetng. Sedangkan sebanyak 18,5% ragu-ragu, 15,5% tidak setuju dan 1,3% sangat tidak setuju.

Namun sebanyak 3% (sangat setuju) dan 45% (setuju) responden memandang bahwa ibadah daring dengan liturgi yang dipersingkat kurang bisa dihayati dengan baik. Akan tetapi responden dapat menghayati ibadah Minggu daring (online) yang melibatkan generasi anak, remaja pemuda, dewasa, dan adiyuswa (intergenerasi).

Lainnya, 30,8 % ragu-ragu, 1% tidak setuju dan 1,1% sangat tidak setuju. “Hal tersebut dapat terjadi karena responden ragu dengan perasaannya secara pribadi untuk menghayati ibadah secara daring,” kata Pdt. Imanuel.

Terkait dengan pemeliharaan iman lainnya, sebanyak 39,9% ragu-ragu, 18,3% tidak setuju dan 1,3% sangat tidak setuju bahwa renungan pagi atau malam yang disiarkan melalui media sosial dan pemahaman Alkitab secara online dapat memelihara iman. Hanya 3,4% sangat setuju dan 36,9% setuju bahwa pelayanan semacam itu dapat memelihara iman jemaat.

“(Mungkin) responden tidak mengikuti renungan pagi atau malam dan PA daring atau responden juga bisa merasa tidak nyaman mengikuti PA daring. Tidak menutup kemungkinan responden memang merasa kurang terbantu kebutuhan pemeliharaan iman mereka,” jelasnya.

Namun jika dilihat dalam pemeliharaan iman secara keseluruhan, sebanyak 3,4% (sangat setuju) dan 45% (setuju) responden imannya tersentuh dengan ibadah daring.

Sementara itu sebanyak 30,6% ragu-ragu, 18,3% tidak setuju, 1,1% sangat tidak setuju. “Sebagian juga ada yang merasa ragu, hal ini dapat disebabkan adanya kemungkinan bahwa responden yang mengikuti ibadah tetap sedikit merasakan tersentuh secara iman dan juga merasakan adanya persekutuan walau ibadah dilakukan secara daring,” tuturnya.

BACA JUGA  Pentingnya Keluarga Jadi Pesan dalam Perayaan HUT GKJ ke-90

Terkait perjamuan kudus yang dilayani secara online, sebanyak 12,1% (sangat setuju), 31,2% (setuju) responden khusyuk mengikutinya. Walaupun ada tingkat keraguan yang cukup tinggi yaitu sebesar 29,3%, lalu 20,9% tidak setuju, 6% sangat tidak setuju.

“Kemungkinan sebagian responden tidak mengikuti sakramen perjamuan secara daring atau karena kurang yakin dengan sakramen perjamuan daring. Atau, responden dapat mengikuti namun tidak khusyuk terhambat oleh kendala teknis, seperti tampilan multimedia atau gadget responden yang terganggu,” tuturnya.

Di sisi lain, hal lainnya yang diteliti adalah tentang kebutuhan sakramen, perkunjungan, pelayanan kasih, pengadaan alat, rekaman + siaran langsung, akun media sosial, jumlah follower dan kebutuhan ibadah.

Menurut Pdt. Imanuel adanya keraguan terhadap pelayanan pemeliharaan iman secara daring oleh warga GKJ disebabkan karena masih membandingkan dengan cara pelayanan pemeliharaan iman secara tatap muka. “(Juga) relasi interpersonal masih diperlukan oleh jemaat dalam kehidupan gereja sebagai komunitas dan keluarga,” ungkapnya.

Puskat GKJ, lanjut Pdt. Imanuel mendorong majelis gereja untuk terus meningkatkan SDM dan layanan multimedia di masing-masing gereja. Juga majelis diminta untuk memastikan tersedianya media komunikasi untuk jemaat yang berada di pedesaan maupun adiyuswa. “Relasi intergenerasi dalam keluarga diperlukan untuk mengatasi kesenjangan kefasihan penggunaan media komunikasi dan media sosial,” ujarnya.

Lebih jauh, gereja juga diminta untuk memikirkan passive income untuk memenuhi kebutuhan anggaran peralatan multimedia. Hal ini dilakukan supaya tidak lagi bergantung pada pemasukan dari persembahan.

Selain itu juga diperlukan pembinaan teologi praktis yang berkelanjutan bagi warga jemaat dalam merespon perubahan konteks kehidupan yang cepat khususnya dalam teknologi digital. “(agar) jemaat lebih fleksibel, adaptif dan kritis merespon teknologi digital,” kata Pdt. Imanuel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here