Aplikasi Alkitab Bahasa Minang Diminta Gubernur Sumatera Barat Untuk Dihapus

0

Mengadapi pandemi Covid-19 pemerintah pusat, lewat Gugus Tugas mengimbau dan mengajak masyarakat untuk kerja bersama memutus mata rantai penjangkitan Covid-19, dengan menjaga jarak, menggunakan masker, bagi yang kurang sehat untuk tetap berada di rumah.

Di tengah masyarakat menaati himbauan pemerintah itu, muncul berita yang mengusik kehidupan beragama umat Kristiani di Indonesia. Di mana Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mengirim surat kepada Menteri Komunikasi dan Informatika, dengan Nomor 555/327/Diskominfo/2020 tertanggal 28 Mei 2020, berisi tentang permintaan penghapusan aplikasi Kitab Suci Injil Minangkabau yang tersedia di layanan distribusi digital Playstore karena masyarakat Minangkabau keberatan dan resah terhadap aplikasi tersebut.

Surat itu, seperti ditulis oleh CNN, ditembuskan kepada Kapolri, Jaksa Agung, Kepala Badan Intelejen Negara, Ketua DPRD Sumbar, Kapolda Sumbar, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar, Danrem 032 Wirabraja, Danlantamal II, Danlanud Sutan Sjahrir, Kepala Kanwil Kemenag Sumbar, Ketua MUI Sumbar, dan Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM).

Dikutip dari Kompas.com, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sumatera Barat (Sumbar) Jasman Rizal memberikan penjelasan mengenai surat nomor 555/327/Diskominfo/2020 tersebut bahwa pihak yang bernada negatif, tidak paham dengan falsafah orang Minangkabau, yaitu adat Basandi Syara-Syara Basandi Kitabullah, atau mereka tidak lah orang Minangkabau.

Baca juga:  Lewat Film Dokumenter Muncul Isu Dukungan Paus Fransiskus Kepada LGBT

Masih dikutip dari Kompas.com, Jasman Rizal mengatakan adat Minangkabau itu didasarkan pada syariat, dan syariat itu didasarkan pada kitab Al Quran. “Itu konsep dasar berpikir orang Minangkabau. orang Minangkabau adalah penganut Islam dan jika ada yang mengaku sebagai orang Minangkabau tetapi tidak muslim, secara adat tidak diakui sebagai orang Minangkabau,” kata Jasman.

Aplikasi sudah hilang Jasman Rizal mengatakan surat kepada Kemenkominfo tersebut sudah ditanggapi. Bahkan, sejak Rabu (3/6/2020), aplikasi tersebut tidak ada lagi di Google Play Store. “Kita sudah komunikasi langsung dengan pihak Kominfo. Mereka mengatakan akan menindaklanjuti. Sejak Rabu lalu tidak ada lagi aplikasi itu,” kata Jasman dan berharap aplikasi yang sama tidak ada lagi, karena bisa mengganggu ketentraman masyarakat.

Mantan Menteri Lukman Hakim Saifuddin dalam akun Twitter @lukmansaifuddin, seperti yang ditulis oleh media online akurat, menilai sesungguhnya: “menerjemahkan Kitab suci ke dalam bahasa daerah itu tak hanya boleh, bahkan amat disarankan, agar semakin banyak warga daerah yang memahami isi Kitab suci agamanya.”

Baca juga:  Berikut Kandungan Yang Terdapat Dalam Vaksin Sinovac

Masih kata Lukman, semakin Kitab suci dipahami, semakin tersebar nilai kebajikan di sekitar kita.

Pengurus Lembaga Alkitab Indonesia, (LAI) Dr. Sigit Triyono, saat dikonfirmasi berkata surat Gubernur Sumbar itu ditujukan kepada Menkoinfo. LAI tidak memiliki “legal standing” untuk menanggapi hal ini.

Sigit mengakui bahwa sejak 1996 LAI sudah menerbitkan Alkitab Bahasa Minang. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan umat Kristen yang berbahasa Minangkabau. Sama seperti kebutuhan umat Kristen di Jawa, Sunda, Bali, dll. akan Alkitab dalam bahasa mereka. “Kita tunggu Menkominfo jawab. Sabar saja,”tegasnya.

Kepada Vifamedia.com, Sigit menuturkan LAI bekerja dalam diam. Aplikasi yang terhapus bukan aplikasi LAI. Aplikatornya tidak kerjasama dengan LAI. “Dalam semangat oikumene kami juga menyayangkan hal itu. LAI memiliki 6 Aplikasi Alkitab Made in LAI, 16 Aplikasi kerjasama dengan aplikator lain. Semuanya masih ada di Google play store. Masih eksis dan aman. Ada 70 lebih aplikasi lain yang tidak bekerjasama dengan LAI. Dan hanya satu yang dicabut oleh aplikatornya. Selebihnya masih eksis dan aman. Demikian,”tuturnya. (Vifa5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here