Banyak yang Perlu Dibenahi dalam Pendidikan di Indonesia

0
Pendidikan di Indonesia
Ilustrasi pendidikan. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Pengurus Pusat (PP) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) menggelar webinar dengan tema “Potret Pendidikan Indonesia di Wilayah Tertinggal”, Senin (3/5/2021).

Dalam pembukaan, Kabid Pendidikan Kader dan Kerohanian PP GMKI, Robero Duma Buladja berharap webinar ini bisa menghasilkan gagasan untuk membangun pendidikan di desa khususnya daerah tertinggal.

“Target webinar seri pendidikan ini adalah akan membuat gagasan yang akan dibukukan tentang pendidikan di daerah tertinggal. Di penghujung rangkaian isu ini, (GMKI)akan membuat festival besar yang difokuskan di daerah tertinggal,” ungkapnya.

Pengurus Yayasan Nusantara Sejati sekaligus Akademisi UKSW, Dr. Dharma Putra Palekahelu menjelaskan sejak dulu hingga sekarang Indonesia memiliki 3 persoalan utama yaitu mutu pendidikan, pemerataan pendidikan dan tata kelola pendidikan.

“Kenapa isu tersebut masih sangat relevan sampai sekarang? Walaupun kalau dilihat secara kasar ada peningkatan (kuantitas), tapi pemerataan dalam konteks kualitas antar wilayah belum tercapai apalagi daerah pinggiran (terpencil,” katanya.

Baca juga:  Peran Generasi Muda Dalam Gereja Memasuki Tantangan Pandemi Dan Era Digital Tahun 2021

Dharma juga menyoroti tentang pengalokasian dana pendidikan sebesar 20% yang tertuang dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tidak menjamin pendidikan di daerah menjadi lebih baik.

Menurutnya, jeleknya pendidikan di Indonesia terjadi secara kompleks. Seperti dimasa pandemi ini, masih banyak guru yang tidak siap dengan pembelajaran jarak jauh secara online dan hanya berpikir bagaimana konten (mata pelajarannya) diajarkan tanpa memikirkan cara penyampaian yang tepat.

“Yang penting adalah bagaimana mendesain sebuah pembelajaran yang mengakomodasi lingkungan belajar di rumah (atau sekolah), lalu konten, kemudian bagaimana supaya anak bisa menerapkan cara itu. Dalam kondisi normal saja sulit, apalagi ini guru harus mengajar anak yang ada di rumah (secara online),” paparnya.

Dharma mengatakan budaya pendidikan di Indonesia harus diubah, sebab selama ini anak selalu diajarkan tergantung dengan seorang guru. Ketika sosok guru tidak ada, anak menjadi bingung harus mempelajari apa.

Selain itu, perlunya meningkatkan kreatifitas seorang guru. “Konteks pembelajaran harus jelas dimulai dari perancangan sistem pendidikan. Tapi saat ini semua didrop dari Jakarta hingga desain Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dari Jakarta, sehingga membuat guru hanya copas dan membuat (guru) jadi tidak kreatif,” tuturnya dan menambahkan saat ini anak didik membutuhkan guru yang bisa mengajarkan kecakapan anak agar bisa berkembang sesuai dengan ketertarikannya.

Baca juga:  Peduli Terhadap Lingkungan, GMKI akan Kaji Perda RTH di Kota-kota Besar

Di sisi lain, sering juga terjadi distorsi terkait sistem pendidikan di tingkat daerah yang disebabkan beragam hal, misalnya yang berhubungan dengan kebijakan yang diambil pemerintah daerah/provinsi.

Sementara itu, Ardyanto Kristofel Ranja Nggili dari Komunitas Peduli Pendidikan Sumba, NTT menceritakan pengalamannya menjadi pendidik di daerah terpencil. Menurutnya, ada banyak hal yang harus dibenahi supaya pendidikan di daerah terpencil (tertinggal) bisa maju.

“Anak di desa tidak mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik. Mereka bukan tidak pandai tapi mereka tidak mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik,” kata Kristofel yang juga pengurus Yayasan Charis Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here