Begini Cara Mengajak Generasi Z Terlibat dalam Pekabaran Injil dan Pemuridan

0
Cara penginjilan Generasi Z
Ilustrasi generasi Z. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Pekabaran Injil dan pemuridan merupakan satu kesatuan, namun masih banyak orang (umat Tuhan) yang salah persepsi. Hal tersebut diungkapkan Ketum PGI Pdt. Gomar Gultom dalam webinar Bilangan Research Center “Pelaksanaan Pemuridan & Pekabaran Injil dalam Konteks Indonesia Masa Kini”, Rabu (28/4/2021) malam.

“Ada yang beranggapan bahwa pemuridan hanya dilakukan hamba Tuhan. Pekabaran injil dan pemuridan adalah satu kesatuan,” ungkapnya.

Pdt. Gomar menjelaskan pemuridan akan terus berlangsung sepanjang hidup. Terkadang dalam proses tersebut juga umat bisa saja mengalami jatuh bangun dalam iman. Sedangkan pekabaran Injil adalah sebuah cara memperkenalkan kebenaran dan kehendak Tuhan untuk membawa orang kepada pertobatan.

Bicara soal generasi Z, Pdt. Gomar mengatakan perlunya cara khusus untuk membuat generasi Z ikut mengabarkan Injil dan memuridkan. Salah satunya adalah memberikan penjelasan tentang Injil dengan nilai-nilai yang lebih universal alias nilai yang menjadi ketertarikan dari generasi Z.

Baca juga:  Polres Depok Didesak untuk Segera Tuntaskan Kasus Pelecehan Seksual yang Dilakukan Seorang ‘Bruder’

“Salah satu ciri mereka (generasi Z) adalah peduli dengan lingkungan hidup dan HAM. Injil harus diterangkan dengan nilai-nilai universal. Saya yakin itu akan membuat tertarik generasi Z dan akan terlibat di dalamnya. Isu global saat ini misalnya, bisa kita ambil menjadi medium pekabaran injil,” katanya dan menambahkan banyak gereja yang lambat menangkap fenomena tersebut.

Dosen STT Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Rahmiati Tanudjaja pun mengatakan hal yang sama. Menurutnya, masih banyak mindset yang salah diantara umat tentang pekabaran Injil dan pemuridan.

Baca juga:  Pentingnya Gereja Memahami Generasi Z

“Saya melihat dari sisi mindset. Ada orang yang berpikir ketika berbicara keselamatan (maka) hanya bicara dari neraka ke sorga. Padahal firman Tuhan membicarakan bagaimana status orang berdosa (diselamatkan dan) menjadi orang kudus,” jelasnya.

Ia melihat masih banyak gereja yang belum memahami bahwa pekabaran Injil dan pemuridan adalah sebuah kesatuan. Sehingga konsennya hanya para pekabaran Injil saja, tidak pada pemuridan. Salah satu imbasnya adalah membuat rendahnya minat anak muda untuk mengabarkan Injil dan memuridkan.

Namun, Rahmiati tetap optimis kondisi tersebut bisa berubah asalkan gereja mau memperbaiki diri dengan mulai memprioritaskan pelayanan untuk para anak muda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here