Belajar dari Semangat Kaum Difabel

0
Difabel
Ilustrasi difabel. (Foto: Unsplash)

Jakarta – Semangat dari 3 orang difabel ini bisa dijadikan inspirasi bagi kita semua. Di tengah keterbatasan yang dimiliki, mereka tetap semangat berkarya.

Ketiga orang tersebut adalah Ritson Manyonyo, Caroline Anggiat dan Yosef Kosasih.

Menurut Ritson, sudah saatnya merubah mindset orang untuk kaum difabel. Saat ini yang sering jadi persoalan adalah banya orang  yang memberikan label difabel adalah kaum yang lemah dan tidak berdaya.

“Tunanetra sebenarnya manusia biasa juga sama seperti yang lain. Orang buta itu hanya buta secara penglihatan (bukan buta hati), tapi orang yang melihat juga banyak yang ‘buta’,” kata Riston dalam sebuah acara “Melihat Gelap dalam Terang” yang disiarkan secara live melalui kanal Youtube Lembaga Alkitab Indonesia, Selasa (23/3/2021).

Riston saat ini aktif dalam Yayasan Tunanetra Elsafan yang ia dirikan bersama beberapa rekan. Yayasan tersebut merupakan pusat pendidikan seperti sekolah luar biasa, panti sosial, PAUD terpadu dan pusat balai latihan kerja disabilitas.

Baca juga:  Bantuan Sosial Tunai wilayah Jakarta Utara dipermudah dan tepat sasaran

“Tunanetra bisa jadi apa saja sebenarnya. Tapi yang membuat tidak bisa adalah mindset dari orang sekitar,” tegasnya. 

Riston menuturkan para kaum tunanetra sebenarnya juga bisa melihat melalui 3 instrumen. Seperti, melalui indera peraba, indera pendengaran, dan indera penciuman.

Dalam hidup, kata Riston ia selalu memegang ayat dari Roma 12:12.” Ayat tersebut mengajarkan saya untuk terus berharap pada Tuhan,” ungkapnya. 

Sementara itu, Carolin Anggiat mengatakan ia selalu menyemangati dirinya sendiri agar dapat terus berkarya. “Sadari kita siapa dan terima keadaan kita. Kita juga harus sadari bahwa kita berharga di hadapan Tuhan dan Tuhan pasti punya tujuan untuk kita masing-masing,” kata Anggi.

Saat ini Anggi aktif melayani di sebuah rumah singgah untuk kaum tunanetra. Di sana ia mengajar para keluarga tunanetra, baik orang tua maupun anak-anaknya.

Baca juga:  Peringati Hari Kartini, Ini Pesan Pegiat dan Wanita Penyandang Difabel

“Tujuan kami ingin anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik, untuk itu kami memberikan pelatihan atau les,” ungkapnya. 

Di sisi lain, Yosef Kosasih selalu memegang ayat dari Filipi 4:4. Ia sadar bahwa sukacita bisa didapatkan bila hati selalu riang.

“Ketika lahir saya bisa melihat tapi low vision. Kemudian dioperasi dan penglihatan saya menjadi normal. Namun itu hanya berlangsung selama 3 tahun. Lalu lama-lama penglihatan menurun dan semakin menurun hingga saya menjadi buta permanen,” katanya.

Kini Yosef aktif melayani di sebuah klinik yang menangani pasien yang mengalami stres. Di sana ia bermain musik. Ia merasa senang bisa membantu orang agar bisa memperoleh kesembuhan.

“Di klinik ini pasien diterapi dengan musik untuk membantu proses penyembuhannya dan saya yang bermain musiknya sejak 2004,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here