Berapa Lama Gereja Dapat Bertahan Dimasa Pandemi?

0
ilustrasi gereja dan asrama pendeta jadi klaster baru covid 19.

Suka tidak suka gereja ikut terdampak dengan pandemic Covid-19. Tidak bisa dipungkiri juga hal tersebut berimplikasi dengan kondisi keuangan gereja.

Dari hasil penelitian Bilangan Research Center (BRC) tentang Dinamika Keuangan Gereja, didapati hasil bahwa pada bulan Mei VS April 2020 pendapatan gereja turun sebesar 43,1%, sedangkan pendapatan yang sama sebanyak 39.8% dan yang naik sebesar 17,1%.

Aliran Pantekosta/Karismatik paling banyak mengalami penurunan pendapatan hingga 50%. Hanya 35% yang pendapatannya sama dan 15% yang pendapatannya naik. Sedangkan aliran Mainstream sebanyak 44,7% mengalami penurunan, 32% pendapatannya sama dan 23,3% pendapatannya meningkat.

Sementara aliran Injili menunjukan data agak berbeda. Sebanyak 51,1% pendapatannya sama, 35% mengalami penurunan dan 13,9% mengalami kenaikan.

Dilihat dari daerah, sebanyak 36% gereja di Jabodetabek mengalami penurunan pendapatan, 50,3% gereja pendapatannya sama dan 13,7% pendapatannya naik.

Di Pulau Jawa, sebanyak 38,2% gereja sama-sama mengalami penurunan pendapatan dan sama pendapatan. Hanya 23,7% gereja yang mengalami kenaikan pendapatan.

Baca juga:  Perwakilan PGI Terima Vaksin Perdana: Tidak Ada Efek Samping, Tubuh Segar Bugar

Sedangkan di luar Pulau Jawa, 52,8% gereja mengalami penurunan pendapatan, 32,5% pendapatannya sama dan 14,7% pendapatannya naik.

Jika dilihat dari penerimaan kolekte tetap sama seperti bulan April 2020 dan tanpa adanya bantuan dari pihak luar gereja, survei membuktikan hanya 31% gereja yang dapat bertahan 1-3 bulan. Sedangkan hanya 24,1% gereja bertahan 4-6 bulan, 17,3% gereja bertahan 6-12 bulan dan 27,6% gereja bertahan lebih dari 12 bulan.

Kresnayana Yahya, Pengawas BRC dalam sebuah webinar BRC baru-baru ini mengungkapkan pendapatan gereja bisa meningkat dimasa ini karena memiliki jaringan yang kuat. “Gereja yang kondisi keuangannya terbuka mampu membangun keikutsertaan. Ini mungkin terjadi dalam gereja yang hubungan antara peronal dan gerejanya sangat baik,” ungkapnya.

Pdt. Bambang Widjaja (Foto: istimewa).

Sementara itu, Ketua PGI Pdt. Bambang Widjaja berkata saat ini gereja harus mampu membagi pengeluaran untuk hal yang bersifat esensial, baru untuk hal yang bersifat opsional.

Baca juga:  Rilis Single Terbaru, Franky Kuncoro Ajarkan Pentingnya Berharap pada Tuhan

Gereja, lanjut Pdt. Bambang juga harus belajar mandiri, belajar transparasi soal keuangan, dan perlu memiliki dana darurat.

Sedangkan untuk pemotongan gaji pendeta, hal tersebut tidak bisa disama ratakan karena masing-masing gereja memiliki sistemnya sendiri. Misalkan menganut sistem gaji, opsi memotong gaji pendeta haruslah menjadi opsi terakhir setelah memangkas pengeluaran yang bersifat esensial dan opsional. “Gaji pendeta adalah yang terakhir yang dipotong,” katanya.

Sementara, Pdt. Mulyadi Sulaeman, Fasilitator JDN menjelaskan gereja mau tidak mau memang harus hidup berdampingan dengan Covid-19. Tapi ia yakin jika Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umat, alias gereja tetap akan bertahan meskipun banyak goncangan.

“Gereja dalam hal ini harus menemukan model keputusan atau sikap atau kebiasaan baru yang cocok di daerah masing-masing, dengan latar belakang jemaat yang ada. Saya percaya gereja akan bertumbuh, paling tidak dapat bertahan dimasa-masa sulit. Apalagi bagi gereja yang sudah punya gedung sendiri,” pungkasnya. (Kontributor: LN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here