Berpastoral dalam Era Digital Dimata Para Rohaniawan Katolik

0
Era digital
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Pandemi membuat semua lini berubah termasuk dalam pelayanan, tidak hanya di Indonesia melainkan juga di negara lainnya. Semua pelayanan mau tidak mau harus beralih menggunakan teknologi digital. Hal tersebut diungkap oleh para rohaniawan Katolik yang tergabung dalam Ikatan Rohaniawan-rohaniawati Indonesia di Kota Abadi Roma (IRRIKA) beberapa waktu lalu dalam sebuah webinar.

Pada kesempatan itu, P. Theodorus I. Leton, O.Ss.T (Pst. Rekan di Paroki San Ferdinando Re-Livorno, Italia) menceritakan pengalaman pelayanannya di sana. Menurutnya, dunia digital sangat membantu dari segi pastoral katekis yaitu dalam memberikan penguatan maupun sharing bersama jemaat melalui media sosial.

Theodorus menjelaskan dalam saat-saat tertentu misa selain disiarkan secara online juga disiarkan melalui radio. Ini untuk menjangkau para jemaat yang rata-rata berada di atas peraiaran yang berprofesi sebagai pelaut.

Selain itu, Theodorus mengkungkapkan ia masih sering melakukan pelayanan secara tatap muka. Tatap muka yang dimaksud yaitu bertemu dan berkomunikasi serta saling sharing untuk memberikan penguatan kepada para jemaat.

Baca juga:  Melihat Pandangan Gereja Katolik Terhadap Waria

Sementara Sr. Leolisa Halovin, MSC (Pengajar di Scuola Materna P. Maria Pia Di Savoia-Spinazzola, Italia) mengungkapkan media sosial ia gunakan untuk membagi pengalaman hidup membiara. Itu semua ia bagikan melalui instragram, grup WhatsApps maupun kanal Youtube MSC International Youth.

Leolisa yang sudah tinggal di Italia selama 15 tahun menuturkan, apresiasi para pengikut di medsos cukup baik yang ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang dikirimkan melalui direct message. “Di medsos saya menjadi kenal dengan para pengguna yang rata-rata anak muda (lintas negara). Ada beragam pertanyaan yang masuk (hingga) kadang kami pun kebingungan menjawabnya karena keterbatasan waktu ketika membiara,” ceritanya.

Leolisa mengungkapkan karena banyaknya pertanyaan yang masuk dirinya berinisiatif membuat sebuah grup WhatsApp untuk mengakomodir para follower. Grup tersebut pun berkembang hingga kini memiliki ratusan anggota yang secara aktif berdiskusi maupun sharing beragam topik. Setiap minggu biasanya bertemu melalui zoom untuk saling sharing pengalaman.

Baca juga:  Anies Baswedan: Kebhinekaan Itu Ciptaan Tuhan

“Dari grup ini saya banyak belajar, bagaimana berkomunikasi dengan mereka, bagaimana perkembangan OMK di Indonesia, bagaimana cara pandang, bagaimana kebutuhan-kebutuhan mereka. Intinya secara pribadi saya merasa mengikuti perkembangan di gereja. Bahkan ada beberapa anggota grup yang saat ini sudah membiara,” ungkap Leolisa dan menambahkan dalam melakukan pelayanannya di medsos dirinya dibantu rekan sesama suster.

Di sisi lain, Romo Fransiskus E. Da Santo, Pr (Sekertaris Komisi Kateketik KWI) mengatakan gereja Katolik memang harus siap dengan kemajuan teknologi saat ini dan memanfaatkannya untuk kepentingan pastoral.

Romo Fransiskus menjelaskan untuk menghadapi perkembangan zaman dibutuhkan sumber daya yang mumpuni dan mau terus berinovasi agar tidak gaptek.

“Semua itu diperlukan untuk mempermudah dalam berpastoral, berkomunikasi. Maka itu siap tidak siap harus siap dengan perubahan. (Harus memiliki) kemampuan menyikapi teknologi dengan bijak dan kritis, membedakan apa yang baik dan kurang baik,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here