Bilangan Research Center: Rendahnya Spiritualitas Anak Muda Indonesia

0
Pemuda GKJ
Ilustrasi: Ibadah pemuda di sebuah gereja. (Foto: dok pri)

Jakarta – Pandemi Covid-19 menyebabkan ibadah secara onsite di gereja diubah menjadi online. Kurang lebih sudah satu tahun ini kondisi tersebut berlangsung. Dalam webinar yang diselenggarakan Bilangan Research Center (BRC) dengan topik “Indeks Spiritulitas Umat Kristiani Indonesia 2021” terungkap bahwa spiritualitas umat Kristiani sebesar 3.79.

“3.79 dari skala 5. Indeks ini menunjukan spiritualitas Indonesia relatif moderat,” ungkap Ketua BRC Handi Irawan, Kamis (18/3/2021) malam.

Handi memaparkan survei ini dilakukan secara kuantitatif dengan responden umat Kristiani di perkotaan. Adapun metode pengumpulan data dilakuka secara online survei. “Total ada 1.137 responden dengan margin of error 2,9%,” jelasnya.

Dilihat dari usia responden, dari generasi milenial (25-39 tahun) sebesar 38,1%, generasi X (40-55 tahun) sebesar 29,3%, generasi Z (15-24 tahun) sebesar 22,4% dan generasi baby boomer (56 tahun ke atas) sebesar 10.2%.

Baca juga:  PGI Minta Utamakan Pembinaan Pancasila Melalui BPIP, dan Mengapresiasi Penundaan Pembahasan RUU-HIP

Sementara dari aliran gereja, responden paling banyak berasal dari aliran mainstream sebesar 40%, Pantekosta/Kharismatik sebesar 33,6% dan Injili sebesar 26,4%. “Dilihat dari koridor, responden kami berasal dari Jabodetabek, pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali Nusra, Papua dan Maluku,” kata Handi.

Menurut Handi, jika dilihat dari aliran, indeks spiritualitas paling tinggi ditempati oleh Pantekosta/Kharismatik sebesar 3.84, kemudian Injili sebesar 3.81 dan Mainstream sebesar 3.75.

Bila berdasarkan gender maka kaum perempuan tingkat spiritualitasnya lebih tinggi yaitu sebesar 3.84 sedangkan laki-laki hanya 3.74.

Lebih jauh, jika dilihat dari peran di gereja maka aktivis/leader/staf lebih tinggi spiritualitasnya yaitu sebesar 4.19. Untuk jemaat sendiri tingkat spiritualitasnya 3.72. Menurutnya, hal ini menjadi PR tersendiri bagi gereja untuk membuat beberapa strategi dan program yang bisa melibatkan jemaat untuk pelayanan.

“Bila dilihat dari pendidikan terakhir, orang yang berpendidikan magister/doktor memiliki spiritualitas yang lebih tinggi sebesar 4.08, diploma/sarjana 3.86 dan SD/SMP/SMA 3.58,” tuturnya.

Baca juga:  Umat Katolik Peringati 500 Tahun Pelayanan di Filipina dengan Menanam Pohon.

Handi juga meminta gereja untuk konsen terhadap generasi muda. Sebab dari hasil penelitian usia 15-24 tahun memiliki indeks spiritualitas paling rendah sebesar 3.50, umur 25-39 3.79, umur 40-59 3.98 dan paling tingkat spiritualitas paling tinggi ditempati kelompok umur di atas 59 tahun sebesar 4.05.

“(Gereja harus) memberi prioritas bagi pertumbuhan spiritualitas jemaat generasi muda,” pesannya.

Survei ini, kata Handi dilakukan untuk memberikan kesadaran kepada gereja-gereja di Indonesia tentang pentingnya memahami tingkat spiritualitas anggota jemaatnya. Selain itu untuk memberikan masukan kepada gereja untuk memformulasikan strategi pelayanan yang efektif dalam meningkatkan spiritualitas anggota jemaatnya.

“Mendorong gereja dapat mengembangkan leadership dan capabilitynya untuk membangun gereja yang sehat dan bertumbuh,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here