BPH GBI Mendukung Pemerintah Lakukan Vaksin Covid-19

0
Ilustrasi : BPH GBI mengeluarkan sikap terhadap Vaksin Covid-19 (Foto : Ist-Google)

Jakarta – Covid-19 pertama kali terdeteksi ada di Indonesia, pada 2 Maret 2020. Hal itu langsung diumumkan oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo.  

“Ada orang Jepang yang ke Indonesia kemudian tinggal di Malaysia. Dicek di sana ternyata positif Corona. Tim di Indonesia langsung menelusuri,” kata Presiden, di Jakarta, Senin (2/3).

Sejak pengumuman itu, penjangkitan Covid-19 di Indonesia terus terjadi dengan cepat. Untuk itu pemerintah mengambil langkah kongkrit dengan membatasi pergerakan masyarakat Indonesia. Keputusan pemerintah itu lebih dikenal dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Pemerintah terus bekerja keras tetapi pandemi Covid-19, terus saja menyasar berbagai lini kehidupan manusia, bukan hanya soal kesehatan tetapi juga sudah merambah ke soal ekonomi. 

Makin banyaknya masyarakat Indonesia yang terjangkit Covid-19, tidak membuat pemerintah menyerah. Buktinya, Minggu (6/12/2020) pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengumumkan tibanya 1,2 juta vaksin Covid-19  di Bandara Soekarno-Hatta.

Vaksin pesanan Indonesia, buatan Sinovac Biotech dari Cina dengan nama CoronaVac, langsung dibawa ke Kantor Pusat Bio Farma di Bandung, Jawa Barat. Sebelumnya pemerintah sudah menetapkan enam vaksin COVID-19 untuk dipakai di Indonesia. Diantaranya, vaksin buatan Bio Farma, Sinovac, Pfizer, Sinopharm, Moderna, dan AstraZeneca.

Rencana masyarakat Indonesia akan menerima (dilakukan) vaksin Covid-19, mulai Januari 2021, ternyata tidak berjalan mulus. Berbagai perdebatan muncul di tengah masyarakat, sampai – sampai ada berita Presiden Republik Indonesia, dan Menteri Agama sekarang menawarkan diri, menjadi orang pertama di vaksin di Indonesia. 

BACA JUGA  Melanie Ricardo “Libatkan” Pendeta untuk Memutuskan Masalah Rumah Tangga

Di lingkungan Kristiani juga terjadi diskusi tentang teori konspirasi, misalnya ada yang mengatakan vaksin dilengkapi mikrocip dengan maksud untuk mendata setiap penerimanya. Mengenai hal ini, Badan Pengurus Harian (BPH) Gereja Bethel Indonesia (GBI), mengeluarkan surat yang dikirim oleh Ketua Umum, Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, kepada media ini, berjudul Sikap GBI Terhadap Vaksin Covid-19.

Dalam pendahuluan surat BPH, GBI, yang ditandatangani Pdt. Dr. Gernaida KR Pakpahan, Ketua Departemen Teologi, menegaskan  tidak ada satu perusahaan pun yang mengklaim menggunakan mikrocip pada liquid injection.

Juga tidak ada informasi atau penjelasan resmi otoritas kesehatan/pemerintah yang mengatakan demikian. Yang ada adalah di beberapa tempat menggunakan gelang barcode/QR code seperti yang umum digunakan oleh pasien inap di rumah sakit atau gelang penanda bayi yang baru lahir di rumah sakit. Ini untuk memastikan agar penerima sudah menerima injeksi pertama dan nanti yang kedua adalah yang sesuai dengan injeksi pertamanya. Jadi dari sisi pendataan penerima vaksin maka hal itu adalah wajar.

“Dengan demikian penolakan masyarakat terhadap vaksinasi bukanlah tindakan yang rasional dan merupakan sikap kurang bertanggung jawab. Apabila penolakan itu dilakukan warga gereja maka kita gagal menjadi teladan bagi masyarakat lainnya. Selain itu penolakan terhadap vaksinasi akan terbuka lebar jalan terjadinya penyebaran penyakit sehingga kita bukan menjadi berkat melainkan beban. Artinya, penerimaan vaksinasi yang direkomendasi oleh otoritas kesehatan dan kemudian ditunjuk pemerintah merupakan tanggung-jawab sosial gereja yang sangat membanggakan,”.

BACA JUGA  Membuka Sidang MPL PGI, Jokowi Ajak Umat Kristen Bantu Pemerintah

Surat BPH GBI memberikan catatan penting yang perlu dipahami, antara lain, sikap teologis GBI terhadap Mikrocip. Sudah sejak lama teknologi mikrocip dihubungkan dengan angka 666 dalam kitab Wahyu. Keterkaitan antara angka 666 dengan mikrocip belum ditemukan bukti kebenarannya. 

Terkait dengan pemahaman tentang mikrocip maka ada beberapa hal yang perlu dipahami, pertama, teknologi mikrocip adalah semikonduktor kecil yang fungsinya menyampaikan informasi lewat karakteristik listrik tertentu. Mikrocip ini sejenis sirkuit terpadu yang berfungsi untuk menerima, mengolah dan menyampaikan informasi. 

Kedua, penggunaan akal budi sebagai anugerah Tuhan merupakan tanggung jawab manusia ciptaan Allah. Namun perlu sikap kehati-hatian menggunakan seluruh teknologi dalam upaya peningkatan kualitas kehidupan manusia agar dapat berkarya secara maksimal untuk memuliakan Tuhan.

Ketiga, mempersembahkan seluruh hidup termasuk tubuh demi kemuliaan Tuhan. Untuk itu, pertimbangan etis teologis, diperlukan agar berhati-hati dalam mengimplankan benda asing ke dalam tubuh yang harus didasari untuk tujuan dan kemanfaatan yang bertanggung jawab. Dengan demikian tubuh manusia sebagai gambar Allah tidak dirusak.

Keempat, penggalian terhadap teks Alkitab perlu menggunakan perangkat hermeneutis yang memadai sehingga dapat memperoleh informasi yang berimbang antara konteks zaman penulisan Alkitab dengan konteks masa kini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here