Cara Isoman Covid-19 yang Benar, Ini Penjelasan Kepala Penanganan Covid-19 di RSUD Cengkareng

0
dr Benny Octavianus

Jakarta – Pandemi Covid-19 telah “mengepung”, dunia. Apalagi adanya varian baru, dikenal dengan varian Delta yang daya jangkitnya begitu dahsyat.

Varian delta ini membuat negara-negara yang tadinya sudah siap melepas penggunaan masker harus kembali diwajibkan menggunakan masker.  Untuk di Indonesia sendiri, sebelum adanya varian delta banyak yang positif Covid-19, dengan gejala ringan memilih untuk Isolasi Mandiri (Isoman) tanpa harus rawat inap di Rumah Sakit atau di tempat yang disediakan pemerintah.

Tetapi dengan adanya varian delta ini, setiap orang yang terpapar Covid-19 dengan gejala ringan menjadi ragu untuk  melakukan Isoman karena tidak sedikit yang meninggal dunia. Bagi yang terpapar Covid-19 berniat melakukan Isoman , Gereja Bethel Indonesia (GBI) Citra 2 digembalakan oleh Pdt. Markus Sudarji, menggelar webinar dengan mengadirkan pembicara seorang dokter specialis paru dan saat ini menjadi Asisten Menteri Pertahanan Republik Indonesia, bidang kesehatan, dr. Benny Octavianus.

Webinar yang diselenggarakan Rabu (28/7/2021) ini diberi teman  “Isoman yang Benar dan Mengatur Saturasi Oksigen Saat Terpapar”, kata Pdt. Markus Sudarji untuk mengajak jemaat menjadi agen edukasi Covid-19 dengan memberikan informasi yang tepat bagi keluarga maupun masyarakat sekitar yang melakukan Isoman. “Tujuan Webinar ini supaya semakin banyak orang yang paham dan tidak mudah termakan hoaks Covid-19,”katanya.

Pada kesempatan itu, Pdt. Markus Sudarji berterima kasih kepada Wakil Ketua Bidang Luar Negeri Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Pdt. Jacob Octavianus yang telah membantu menghadirkan dr. Benny Octavianus. “Hari ini merupakan berkat buat kami karena dokter Benny dapat memberkati kita sekalian,”tuturnya.

Sedangkan dr Benny Octavianus, mengawali pemaparannya menjelaskan asal usul hingga alasan kenapa Covid-19 disebut sebagai virus yang berbahaya, terlebih varian delta yang saat ini merebak.

“Varian delta berbahaya karena bisa mengelabuhi sistem imun. Juga lebih berdampak pada keparahan penyakit, replikasi yang cepat, menurunkan efektivitas vaksin, menyerang segala usia,” terangnya.

Baca juga:  Pdt. Kristina Faraknimella Bicara Hubungan Antara Pandemi dan Integritas

Untuk melawan virus yang terus bermutasi maka manusia juga perlu “bermutasi” yaitu pola hidup yang lama ditinggalkan dan mengikuti pola hidup yang ada saat ini yaitu Prokes. Tentu juga dengan terus mendekatkan diri kepada Tuhan, lewat doa.

“Jadilah agen edukasi untuk keluarga dan lingkungan sekitar.  Saya pakai APD, masker dobel dan sering cuci tangan, pokoknya sedikit-sedikit saya cuci tangan,” ungkapnya.

Kepala Penanganan Covid di RSUD Cengkareng ini, menekankan untuk umat Tuhan menjadi agen edukasi Covid-19. Karena saat ini masih banyak orang yang salah kaprah dalam menghadapi Covid-19. Apalagi menghadapi orang yang terpapar, jangan asal diberikan obat. Misalnya pasien (orang) tanpa gejala (OTG) cukup mengkonsumsi vitamin C, D, obat komorbid (bila ada), dan obat-obatan suportif.

“Pasien OTG tidak perlu over treatment. Selain obat, kasih vitamin dan cukup Isoman selama 10 hari sejak terdiagnosa,”paparnya.

Tempat Isoman, lanjut dr. Benny Octavianus, khususnya kamar harus memiliki ventilasi, cahaya dan udara yang baik. Pisahkan cucian pakain kotor milik sendiri dan keluarga lain yang ada di rumah. Begitupun harus disediakan  alat makan sendiri dan rutin periksa suhu tubuh serta saturasi oksigen. Jangan lupa selalu pakai masker, makan bergizi dan berjemur.

Bagi seseorang yang positif dengan gejala ringan, kata dr. Benny Octavianus, tidak jauh berbeda dengan orang yang OTG yaitu mengkonsumsi vitamin C, D, obat-obatan antioksidan, antivirus dan obat simtomatis. “Pasien gejala ringan ini bisa isolasi mandiri selama 10 hari sejak terdiagnosa ditambah 3 hari bebas gejala,”terangnya.

Untuk pasien dengan gejala sedang hingga berat, pengobatannya lebih kompleks dan perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Apalagi bila saturasi kurang dari 95%, sulit mengambil napas, napas lebih dari 20 kali per menit, wajah atau bibir kebiruan, kehilangan kesadaran, demam lebih dari 38 derajat, nyeri dada, batuk semakin parah, segera hubungi rumah sakit agar mendapatkan penanganan serius.

Baca juga:  Sambut Natal, Kemenag Siapkan Aturan Penyelenggaraannya

Mengobati Covid-19 dianalogikan oleh dr. Benny Octavianus ibarat memadamkan kebakaran. Misalnya dapur kebakaran, langsung disiram 5 ember air pasti api bisa padam. Tapi bila api tidak segera dipadamkan maka api akan menyambar kemana-mana dan akan semakin besar. Untuk itu bagi yang sudah mengalami gejala agak berat lalu 3 – 5 hari kemudian baru dibawa ke rumah sakit, itu bisa bahaya, bisa saja meninggal.

Pada kesempatan itu, dr. Benny Octavianus, menyarankan warga bangsa untuk aman dalam menggelar atau mengikuti rapat atau pertemuan dapat di ruangan terbuka. “Kami rapat di parkiran. Sempat ada yang protes karena dianggap tidak formal. Saya bilang tidak apa-apa tidak formal, yang penting isi materi rapatnya selesai. Situasi ini tidak main-main, minta tolong kepada semua agar tidak rapat di ruang tertutup,” sarannya.

Alasannya menyarankan berada di ruang terbuka untuk mengindari penularan Covid-19 melalui airborne (udara).  Sebab ada penelitian terbaru yangdiakui oleh WHO penularan tidak hanya melalui droplet atau tetesan air liur yang terjadi ketika pasien positif bersin atau batuk dan memercikan cairan yang mengandung virus. Tetapi juga karena percikan air liur pasien positif yang bisa bertahan di udara (airborne) dalam beberapa kondisi.

Idakhir, dr. Benny Octavianus mengajak semua warga masyarakat bangsa Indonesia untuk menjalani vaksinasi karena dengan vaksinasi Covid-19 memiliki kekebalan tubuh. Dan bila seluruh masyarakat bangsa sudah divaksinasi Indonesia akan tercapainya herd immunity.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here