CEO Christian Aid Jadikan Debora Inspirasi Perjuangan Mengatasi Kekerasan Gender

0
Amanda Khozi Mukwashi, CEO Christian Aid dan Thursday in Black Ambassador. (Foto: dok. Luke Macgregor/Christian Aid)

Jakarta – Nabi Debora menjadi inspirasi bagi banyak wanita di dunia untuk berjuang mengatasi kekerasan berbasis gender. Termasuk CEO Christian Aid, Amanda Khozi Mukwashi, yang terungkap dalam wawancara dengan World Council of Churches (WCC).

“Saya menemukan Deborah dari kitab Hakim – Hakim, sosok yang sangat menginspirasi dalam lebih dari satu cara. Dia (Debora) memimpin Israel menuju kemenangan dan perdamaian selama 40 tahun. Dia (Debora) mendapatkan kekuatan dan kepercayaan dirinya dari mempercayai Tuhan. Dia (Debora) berdiri dan berbicara dalam masyarakat yang sangat patriarkal. Ada alasan mengapa Alkitab menyoroti ceritanya dan saya bersyukur karenanya,”terangnya. 

Amanda Khozi Mukwashi, mengatakan menangani kekerasan berbasis gender tidaklah mudah karena dibutuhkan upaya kolektif bersama. Sselama ini banyak orang yang hanya fokus pada kekerasan tapi tidak fokus pada penyebab kekerasannya. 

“Data PBB menyebutkan, sebelum pandemi COVID-19, 243 juta perempuan dan anak perempuan berusia 15 – 49 tahun pernah mengalami kekerasan seksual dan atau fisik oleh pasangan intim dalam satu tahun terakhir. Sebagai bagian dari komunitas internasional, kita perlu melihat pengalaman perempuan, dan spektrum penuh hak asasi mereka,”sebutnya.

Baca juga:  Membuka Sidang MPL PGI, Jokowi Ajak Umat Kristen Bantu Pemerintah

Christian Aid, kata Amanda Khozi Mukwashi, memandang keadilan gender adalah syarat penting untuk pembangunan berkelanjutan secara global dan lokal serta untuk martabat, kesetaraan, keadilan bagi semua. 

“Di Christian Aid kami memahami dengan jelas bahwa agenda yang lebih komprehensif dan transformatif dalam menangani akar penyebab kekerasan. Yang dapat mengubah pengalaman perempuan dan pada akhirnya mempertahankan perdamaian, dan solusi yang berarti akan ditemukan ketika ada kemauan untuk mengatasi penyebab yang menghasilkan,” jelasnya. 

“Selain itu, pekerjaan kami membuktikan banyak orang beriman dan lembaganya dapat mendukung perempuan untuk memperjuangkan perdamaian, kesetaraan gender, dan memiliki pendekatan tanpa toleransi terhadap kekerasan terhadap perempuan. Ini juga berarti komunitas agama internasional harus mengatasi kegagalannya untuk bertindak,”tegasnya. 

Selama ini dijelaskan Amanda Khozi Mukwashi, Christian Aid bekerjasama dengan para pemimpin agama di Afrika, Amerika Latin dan Asia untuk mempromosikan norma gender progresi. Selain itu untuk menentang praktik berbahaya dalam komunitas agama serta untuk memperkuat suara wanita dan gadis yang secara historis terpinggirkan. Seperti wanita dan anak perempuan kulit hitam, adat serta Dalit. 

Baca juga:  Mahasiswa UPH Greta Elsa Nurtjahja Raih Prestasi Asia Young Designer of The Year 2020

“Pekerjaan kami juga melibatkan refleksi teologis dan sangat penting untuk mendekonstruksi stereotip gender yang membatasi hak dan hak pilihan perempuan. Misalnya, laporan Christian Aid Of The Same Flesh: Exploring a Theology of Gender, mengeksplorasi bagaimana bahasa iman dan norma-norma sosial sering kali menjadi kunci, membentuk ekspektasi wanita dan pria tentang siapa mereka seharusnya atau bisa jadi,”terangnya.

Di sisi lain, Amanda Khozi Mukwashi, senang ditunjuk sebagai Thursday in Black Ambassador. Pasalnya dengan menjadi duta besar dirinya bisa lebih leluasa membangun jaringan untuk mengatasi kekerasan berbasis gender.  

“Menjadi duta Thursday in Black menawarkan saya kesempatan bergabung dengan jutaan wanita lain untuk mengadvokasi kepribadian wanita agar dihormati dan bermartabat. Saya akan bekerja dan kampanye untuk memberikan suara dan hak pilihan kepada perempuan di zona konflik atau yang bergerak setelah situasi konflik. Saya juga akan menggunakan suara saya untuk menyoroti persimpangan antara ketidakadilan rasial dan gender,” paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here