Cerita Pandemi di Negeri Orang

0
Covid-19
Ilustrasi : Covid-19 yang melanda dunia (Foto: istimewa)

Tidak ada yang siap menghadapi pandemi Covid-19. Kira-kira itu yang dirasakan banyak negara, termasuk Indonesia. Ada beragam kebijakan yang dibuat pemerintah, tujuannya untuk meminimalisir dampak negatif dari pandemi ini.

Lantas bagaimana dengan negara di luar? Andika Mongilala menceritakan pengalamannya menghadapi pandemi di negara Australia. Menurutnya, ketika pandemi melanda pemerintah langsung menutup semua perbatasan, hingga lockdown.

“Warga Australia di luar negeri diminta kembali secepatnya dan non resident segera pulang ke negara masing-masing. 20 Maret penerbangan ke Australia ditutup sampai saat ini dan nasional lockdown dari Maret sampai Juni 2020,” ungkap Andika Mongilala dalam webinar “State Strategy and Colaborative Role of Global Youth in Treating Covid-19 yang diadakan PP GMKI, Kamis (18/2/2021).

Andika yang juga National Treasurer Australian Student Christian Movement ini menjelaskan, disamping lockdown pemerintah Australia memberlakukan beberapa kebijakan yang ditujukan untuk masyarakat maupun pelaku usaha.

Misalnya untuk masyarakat ada jobseeker (jika di Indonesia Pra Kerja) yang diberikan 2 kali lipat, jaminan hari tua bisa dicairkan lebih cepat dan bantuan tunai sebanyak 4 kali kepada welfare (pensiunan, penyandang cacat, single parent).

Baca juga:  Penambahan kasus baru Covid-19 di Indonesia, Tembus Rekor Tertinggi

Kemudian untuk para pelaku usaha ada jobkeeper (mempertahankan pekerja), bantuan cash dan insentif pajak dari penghapusan penyusutan aset. “Pemerintah langsung take over membayar gaji karyawan yang perusahaan/usahanya menurun 30%,” katanya dan menjelaskan semua dana yang dikeluarkan pemerintah berasal dari sovereign wealth fund (dana cadangan) dan quantitative easing.

Selain lockdown, di Australia juga ada beberapa karantina yaitu nasional, wilayah, hotel dan mandiri. Menurutnya karantina ini berjalan secara baik dan pemerintah tegas dengan setiap orang. “Jika melanggar dendanya (kalau di rupiahkan) Rp 10 juta,” jelasnya.

Lebih jauh, di Australia pemerintah melakukan testing Covid-19 dengan dua cara yaitu PCR tes yang digratiskan untuk semua orang dan sewage test. “Sewage tes melakukan tes yang sampelnya diambil dari pusat saluran kotoran,” tuturnya.

Baca juga:  Penyataan Dewan Gereja Dunia dan Konferensi Kristen Asia Terhadap Mayanmar

Ia merasa cukup nyaman menghadapi pandemi di Australia karena menurutnya pemerintah begitu cepat dengan melakukan lockdown. Kalaupun ada kasus baru dari orang yang pulang, maka langsung diadakan karantina lokal sampai kembali menjadi 0 kasus.

“Semua bisnis dan masyarakat patuh karena ada kebijakan dan bantuan serta denda yang besar Juga kepadatan penduduk yang tidak telalu padat sehingga pemerintah mudah menutup akses perbatasan,” ungkapnya.

Sementara itu, Mika Purba seorang pendeta Huria Kristen Batak (HKBP) Indonesia Manyar, Surabaya yang terpilih dalam program pertukaran Pendeta United Evangelical Mission (UEM) di Jerman menceritakan kebijakan yang diambil pemerintah saat pandemi melanda.

Mika menjelaskan di Jerman sama seperti di Indonesia bahwa ada kelompok yang menganggap covid hoaks atau covid adalah sebuah kebohongan yang dilakukan pemerintah. “Tapi biasanya orang-orang seperti itu ketika dirinya atau keluarganya kena, baru menyadari covid berbahaya,” kata pendeta yang kini melayani Jemaat di Kleve dan Geldern, Jerman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here