Ciri Gangguan Mental yang Tidak Disadari Milenial

0
Milenial depresi
Ilustrasi: Banyak generasi milenial mengalami gangguan mental. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Tingkat persaingan yang tinggi tidak jarang membuat generasi milenial merasa tertekan hingga depresi. Hal itu sebenarnya wajar, tapi menjadi berbahaya bila tidak mampu mengelola kesehatan mental.

Dr. Rode Rini, seorang dosen Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia mengatakan saat ini ada banyak milenial yang terganggu kesehatan mentalnya. Hal ini perlu penanganan yang serius agar kesehatan mentalnya tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari.

“Gangguan mental adalah penyakit yang mempengaruhi emosi, pola pikir dan perilaku penderita. Penyakit ini mengganggu seseorang dan bisa menyerang ketentraman batin seseorang. Ini bisa berbahaya untuk dirinya maupun orang sekitar,” kata Rode dalam webinar beberapa waktu lalu yang diadakan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Menurut Rode, gangguan mental bisa berupa biologis maupun psikis. Namun biasanya, gangguan yang berupa biologis biasanya bisa dilihat dari fisik. “Biologis seperti faktor genetik, faktor kimiawi, faktor paparan lingkungan, kurang nutrisi,” jelasnya.

Baca juga:  Inovasi Lembaga Alkitab Indonesia di Era Digital

Lanjutnya, gangguan mental berupa psikis biasanya sulit dilihat secara fisik. Ada banyak faktor yang menyebabkan seperti pertempuan militer, kematian seseorang, pelecehan seksual dan lain-lain. “Saya pernah melakukan penelitian terhadap korban pelecehan seksual. Ketika korban pelecehan seksual tidak mendapatkan penanganan dengan baik, maka kondisi psikisnya akan lebih buruk,” paparnya.

Media sosial, kata Rode juga bisa jadi penyebab seseorang mengalami gangguan mental. Biasanya ini terjadi para kaum milenial yang aktif menggunakan media sosial. “Media sosial bisa jadi berbahaya. Seorang anak bisa terganggu secara psikis ketika melihat kehidupan orang lain (di media sosial) dan tidak merelate dengan kehidupan pribadi. Ingat, setiap orang bisa jadi siapapun dalam media sosial, ketika kita tidak mampu menyaringnya maka kita akan jadi stres,” ungkap Biro Litbang DPA GBI ini.

Baca juga:  Eratkan Tali Kasih Persaudaraan, Pesan Ketum LAI dalam Hari Doa UBS

Namun, kata Rode saat ini banyak orang khususnya milenial yang tidak sadar jika sedang mengalami gangguan mental. Biasanya hal tersebut dianggap sebagai kelelahan biasa karena aktifitas yang padat. “Ciri-cirinya biasanya sering merasa sedih, kehilangan konsentrasi, takut berlebihan, perubahan mood yang drastis, menarik diri dari lingkungan, mengalami masalah tidur, tidak mampu mengatasi stres, paranoid, dan lain-lain,” ungkapnya.

Supaya terhindar dari gangguan mental, Rode menekankan pentingnya self reference atau referensi diri sendiri. Refensi diri sendiri adalah sebuah rasa puas ketika berhasil mencapai sebuah pencapaian yang lebih baik dibanding masa sebelumnya.

“Ketika sedang mengejar (jadi seperti) orang lain, disaat yang sama orang lain juga sedang berusaha naik. Jadi, kita sampai kapanpun tidak akan bisa mengejar dia hingga akhirnya bisa stres sendiri,” kata Rode.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here