Da’i Ini “Khotbah” di GBI Amanat Agung

0
Gus Miftah
Gus Miftah. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Ada yang berbeda saat peresmian gedung gereja GBI Amanat Agung di Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/4/2021). Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah da’i, dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta ikut “berkhotbah” (memberikan sambutan) tentang kerukunan.

Turut hadir Gubernur DKI Anies Baswedan, Ketua BPD GBI DKI Pdt. Kiky Tjahjadi, gembala GBI Amanat Agung Pdm. Johan Sunarto dan tamu undangan lainnya.

Dalam “khotbahnya” Gus Miftah memberikan perumpamaan bahwa Indonesia ibarat sebuah rumah yang memiliki 6 kamar. Kamar yang dimaksud adalah agama yang diakui pemerintah yaitu Kristen, Islam, Katolik, Budha, Hindu dan Konghuchu.

“Saya meyakini ketika orang Indonesia kembali ke kamarnya masing-masing, maka tidak akan ada masalah. (Tapi) yang jadi masalah ketika kembali ke kamar orang lain,” ungkapnya seperti dikutip dari Youtube GBI Amanat Agung.

Baca juga:  Kunjungan Kasih GBI VOT ke Panti Jompo Pniel

Gus Miftah mengingatkan supaya setiap orang dapat memahami toleransi secara benar dan jangan sampai kebablasan. Misalnya, kalimat ‘semua agama itu benar’ benar tapi kurang tepat. “Yang benar adalah semua agama benar bagi penganutnya, karena kalau benar untuk semuanya maka orang yang memeluk tidak jadi memiliki identitas (agamanya),” tegasnya.

Perbedaan, lanjut Gus Miftah merupakan sumber keindahan di Indonesia yang tertuang dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Toleransi menjadi sulit ketika orang lupa bahwa beragama itu untuk mengatur diri sendiri, bukan orang lain. Banyak orang beragama yang belum menggenapi nilai agama untuk dirinya sendiri sudah mengatur orang lain,” jelasnya.

Gus Miftah menegaskan bahwa akidah memang tidak bisa dicampur, tapi soal kebangsaan dan kenegaraan seharusnya setiap masyarakat Indonesia memiliki visi yang sama dengan ideologi Pancasila.

Baca juga:  Timmy Warouw Dorong Pemerintah Fokus Pada Pengembangan Infrastruktur

Diakhir Gus Miftah menutup dengan sebuah narasi sebagai berikut:

Di saat aku menggenggam tasbihku, dan kamu menggenggam Salibmu. Disaat aku beribadah di Istiqlal, namun engkau ke Katederal. Disaat Bioku tertulis Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan Biomu tertulis Yesus Kristus. Disaat aku mengucapkan Assalamualaikum, dan kamu mengucapkan Syalom. Disaat aku mengeja Al-Quran, dan kamu mengeja Al-Kitabmu. Kita berbeda saat memanggil nama Tuhan. Tentang aku yang mengenadahkan tangan, dan kau yang melipatkan tangan saat berdoa.

Aku, kamu, kita. Bukan Istiqlal dan Katederal yang ditakdirkan berdiri berhadapan dengan perbedaan, namun tetap harmonis. Andai saja mereka bernyawa, apa tidak mungkin mereka saling mencintai dan menghormati antara satu dengan yang lainnya. Terima kasih, Assalamualaikum, Syalom.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here