Dari Webinar Forum Keluarga Muda GKJ Nehemia, Pentingnya Pendidikan Seksual untuk Anak

0

Jakarta – Banyaknya pertanyaan seputar seksualitas dari anak kadang membuat orang tua bingung cara untuk menjawabnya. Forum Keluarga Muda (FKM) GKJ Nehemia pun sadar akan hal tersebut yang kemudian dituangkan dalam sebuah webinar dengan tema “Bincang-bincang tentang Seksualitas antara Orang tua dan Anak”, Sabtu (1/5/2021).

Hadir sebagai pembicara Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah, Elisabeth SA Widiastuty dan pendeta jemaat GKJ Nehemia, Pdt. Lusindo Tobing.

Elisabeth dalam pemaparannya mengungkapkan masih banyak orang tua yang tidak sadar tentang pentingnya pendidikan seks. “Seks disebut tabu karena orang tua zaman dulu berpikir anak akan hal tersebut. Ada juga anggapan seksualitas adalah hal yang negatif, buruk. Ada juga yang beranggapan pendidikan seksualitas adalah (tentang cara) berhubungan seks,” ungkapnya.

Dari sebuah hasil survei di Semarang tahun 2020, Elisabeth mengatakan banyak orang tua merasa canggung atau risih ketika berbicara tentang pendidikan seksual kepada anak. Ada pula yang bingung menyampaikan dengan bahasa yang tepat.

“(Ada) orang tua yang takut membahas karena tidak ingin anaknya jadi terstimulus melakukan hal yang tidak diinginkan. Ada orang tua yang merasa waktunya belum tepat dan takut salah menyampaikan.”

Baca juga:  Pdt. Prof. Joas: Perlunya Habitus Baru Bagi Gereja di Tengah Pandemi

Elisabeth menjelaskan pendidikan seksual mencakup banyak hal dan bukan pendidikan untuk mengajarkan cara berhubungan seks. Beberapa hal yang diajarkan dalam pendidikan seksual yaitu pengenalan identitas diri dan jenis kelamin; relasi antara laki-laki dan perempuan; fungsi organ reproduksi dan bagiaman cara menjaga kesehatannya; pengenalan emosi dan bagaimana mengendalikannya; keterampilan menghindarkan diri dari kekerasan seksual.

Elsabeth menuturkan, ketika anak berusia 3-6 tahun anak harus mulai diajarkan tentang bagian-bagian privat yang ada di tubuhnya, termasuk bagian mana yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Selain itu juga diajarkan tentang pengenalan gender (peran sosial dan identitas) dan toilet training.

Lalu ketika memasuki usia 7-10 tahun anak diajarkan tentang bersosialisasi. “(Misalnya) apa yang dilakukan ketika ada orang yang menyentuh (bagian tubuh privat) atau melakukan hal yang tidak menyenangkan. Diajarkan cara merawat organ reproduksi, persiapan pubertas, etika mandi, tidur dan perkenalan dengan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Baca juga:  Peran Generasi Muda Dalam Gereja Memasuki Tantangan Pandemi Dan Era Digital Tahun 2021

Bagaimana cara penyampaiannya? Elisabeth menjelaskan penyampaian bisa dimulai secara bertahap dan disesuaikan dengan umur anak. Kemudian, pilih saat yang tepat untuk menyampaikannya. “Pada saat berenang, mandi, cebok adalah saat yang baik untuk berkomunikasi tentang organ reproduksi dan harus dilakukan secara rileks,” katanya.

Setelah itu, orang tua harus mampu menggunakan bahasa yang tepat yaitu yang mudah dimengerti oleh anak. Misalnya, menggunakan bahasa yang benar untuk organ reproduksi seperti penis, vagina, scrotum, anus, payudara, dan lain-lain. “(Yang perlu ditekankan) ketika menyampaikan (menyebut) berikan kesan biasa, tidak risih atau tabu atau aneh,” tuturnya.

Alat bantu, lanjut Elisabeth juga bisa digunakan supaya anak lebih mudah mengerti. Alat bantu yang dimaksud berupa video, lagu, buku bergambar, cermin, foto, dan permainan.

Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sharing pengalaman dari Pdt. Lusindo Tobing dan istri dalam memberikan pendidikan seksual kepada kedua anaknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here