Dibalik Vaksin Nusantara, Ada Dr. Terawan

0
Terawan
Dr. Terawan (Foto: dok Biro Pers)

Jakarta – Siapa yang tidak kenal dengan dr. Terawan? Dia adalah dokter yang saat menjabat menjadi Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto pernah jadi perbincangan khalayak ramai karena metodenya untuk pengobatan stroke dengan terapi cuci otak.

Semenjak itu nama pria yang bernama lengkap Mayjen TNI Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) ini semakin terkenal di tengah ada yang pro dan kontra terhadap metode yang ia temukan tersebut.

Sejak kecil, pria kelahiran Yogyakarta, 5 Agustus 1964 ini memang sudah memiliki cita-cita sebagai dokter. Apa yang menjadi cita-citanya ia buktikan dengan masuk di Fakultas Kedokteran UGM.

Pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) periode kedua, Terawan didapuk menjadi Menteri Kesehatan. Sayang, karirnya sebagai menteri hanya bertahan kurang lebih satu tahun yaitu sejak 23 Oktober 2019 sampai 23 Desember 2020.

Namun kini namanya kembali diperbincangkan banyak orang karena pengembangan vaksin Covid-19 bernama Vaksin Nusantara yang digagas dirinya. Diketahui bahwa pembuatan vaksin ini digagas Terawan pada Oktober 2020 atau saat itu ia masih menjabat sebagai menteri.

Tepatnya 22 Oktober 2020, Terawan menghadiri penandatanganan perjanjian kerja sama uji klinik vaksin sel dendritik untuk COVID-19 antara Badan Litbang Kesehatan (Balitbangkes) dengan PT Rama Emerald Multi Sukses. Turut hadir saat itu di Kementerian Kesehatan, Kepala Balitbangkes Slamet dengan General Manager PT Rama Emerald Multi Sukses Sim Eng Siu.

BACA JUGA  “Tilik Belik” Cara SD Kanisius Kenalan Peringati Hari Air Sedunia

Sebenarnya, vaksin berbasis sel dendritik itu awalnya dikembangkan oleh AIVITA Biomedical, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat. Kemudian PT Rama Emerald Multi Sukses disebut telah memiliki lisensi untuk mengembangkannya di Indonesia.

Ketika dirinya diberhentikan oleh Joko Widodo, Vaksin Nusantara ini sebenarnya sempat mencuat hanya saja waktu itu namanya Vaksin Joglosemar dengan perusahaan pengembangnya PT Rama Emerald Multi Sukses.

Tiba-tiba tanggal 16 Februari 2021 lalu, muncul kabar uji klinis fase I Vaksin Nusantara telah selesai diujikan kepada 30 pasien dengan hasil yang baik alias aman. Uji klinis fase I dilaksanakan bulan Desember 2020 hingga akhir Januari 2021. Saat ini, uji klinis fase II sudah berjalan mulai Februari 2021di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Terawan mengungkapkan pengembangan Vaksin Nusantara melibatkan peneliti dari berbagai universitas dan rumah sakit. Seperti peneliti dari UGM, UNS, Undip dan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Juga tim uji klinis dibantu oleh salah satu peneliti dari AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat.

BACA JUGA  Vaksinasi Cara Pemerintah Lindungi Rakyatnya

Vaksin Nusantara merupakan vaksin berbasis sel dendritik yang bersifat personal. Secara garis besar, sel dendritik yang ada di dalam tubuh manusia dikeluarkan melalui darah kemudian dipaparkan dengan antigen dari Sars-Cov-2. Setelah itu kembali dimasukkan dengan harapan orang tersebut memiliki antibodi. Metode sel dendritik merupakan metode yang sudah kerap digunakan untuk pengobatan kanker hingga penyakit degeneratif selama ini.

Kepada awak media, Jajang Edi Prayitno, anggota Tim Uji Klinis Vaksin Nusantara menjelaskan vaksin ini dendritik bersifat T-cells atau berarti sekali suntik berlaku seumur hidup. Sehingga dari segi pembiyayaan akan lebih menguntungkan dan tidak menguras devisa negara karena ini diproduksi dalam negeri

Menurut Jajang, sekali suntik berlaku seumur hidup artinya “kualitas” Vaksin Nusantara mampu menangkal virus sekalipun virus tersebut bermutasi. Ia menyebut Vaksin Nusantara dapat digunakan bila sewaktu-waktu muncul pandemi baru.

Dikabarkan juga Vaksin Nusantara aman untuk segala usia juga aman bagi orang yang memiliki penyakit penyerta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here