Dibutuhkan Hati dan Kasih Sayang untuk Membangun Papua

0
Papua
Peta Papua

Papua – Gubernur Papua, Lukas Enembe mengajak warga Papua bergandengan tangan untuk membangun Papua. Menurutnya, selain bergandengan tangan juga dibutuhkan hati yang benar-benar cinta Papua.

“Utamakan hati dan kasih sayang untuk membangun Papua. Sebab, tanah ini sudah diurapi oleh Allah. Ketika kita melakukan sesuatu yang salah maka akan ada konsekuensinya,” ungkap Lukas dalam sambutan yang dibacakan Sekda Provinsi Papua, Lukas Enembe dalam ibadah syukur puncak perayaan perayaan Hari Pekabaran Injil (HPI) di Tanah Papua ke-166, seperti dikutip dari Youtube Channel “Transformasi Papua”, Senin (8/2/2021).

Lukas berharap gereja juga ikut dalam pembangunan Papua. Menurutnya gereja adalah pelopor pembantu pemerintah. Sebab gereja banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat, untuk itu kehadiran gereja sangat penting.

“Gereja sangat penting dalam pembentukan karakter religius. Gereja juga berperan sebagai agen pembaru dan pembangunan. Gereja juga menjadi misi yang melahirkan pelaku-pelaku handal,” jelasnya.

Injil, lanjut Lukas diperlukan khususnya untuk terus mewujudkan Tanah Papua damai. Injil akan selalu hidup dan menawarkan dinamika baru, baik yang menghasilkan teologi baru yang mengabdi pada kebutuhan zaman, teologi Kristen baru dalam budaya dan peradaban Papua maupun untuk memunculkan lagi daya transformatif penginjilan.

Baca juga:  67 Tahun Lembaga Alkitab Indonesia, Terus Berkaya Wartakan Tugas Mulia dari Tuhan

“Injil merupakan kebesaran Tuhan bagi Umat manusia. Atas seizin rencana Injil di Papua jugalah, kita semua bisa menyaksikan perubahan di tanah Papua. Pembagunan yang begitu pesat di Tanah Papua ini yang patut kita syukuri bersama,” katanya.

Sementara itu, Ketua HPI di Tanah Papua ke-166, Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw mengatakan moderasi agama sangat diperlukan untuk masyarakat Indonesia khususnya Papua. Sebab moderasi dapat membuat perbedaan menjadi seimbang. “Moderasi beragama yang berdasarkan nilai-nilai universal yaitu kehidupan dan kesepakatan bersama di tengah kemajemukan dan bertumpu pada upaya menciptakan ketertiban masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, moderasi beragama di Papua sudah ada sejak kedatangan Ottow dan Geissle di Pulau Mansinam. Waktu itu ketika menyebarkan Injil di tanah Papua, keduanya mendapat bantuan pengawalan dari kesultanan Tidore yang notabennya sebagai kerajaan Islam dengan perintah rajanya.

Baca juga:  PGI Berikan Pesan Dilangsungkan PILKADA 2020 di Masa Pandemi Covid-19

“Semangat dan karya nyata para pahlawan pewarta injil terus dikenang dan hari ini berdampak luas bagi masyarakat di tanah Papua,” kata Paulus.

Diakhir, Paulus mengajak gereja maupun para tokoh agama untuk memelihara kebersamaan dan keberagaman.

“Saya mengajak kita semua mewujudkan momen ke 166 tahun pekabaran injil di tanah Papua untuk membangun jiwa yang terang, sikap yang optimis, pikiran yang positif serta semangat yang kuat untuk membangun hari esok yang lebih baik. Marilah kita jadikan nilai-nilai keutamaan ajaran agama sebagai landasan moral dan etika dalam membangun kehidupan bersama yang lebih maju di tanah Papua,” pesannya.

Usai sambutan-sambutan ada pelepasan Balon ke udara sebagai Balon Pemersatu Umat Beragama dan pemersatu bangsa.

Sebagai informasi. Selain digelar secara onsite di halaman Gereja Graha Mercusuar Doa, Jayapura, ibadah syukur dengan tema “Moderasi Beragama Dalam Terang Injil” ini juga disiarkan secara live streaming. Khusus untuk onsite, perayaan digelar dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here