Dipulihkan Dari Gagap dan Kurang Percaya Diri, Keluarga Dipakai Tuhan Menjadi Kesaksian Hidup

0

Komunikasi merupakan bentuk interaksi antara manusia satu dengan lainnya. Dengan perbedaan bahasa dan kebudayaan. Bahasa yang merupakan identitas diri dari seseorang haruslah dimiliki dengan baik dan benar oleh setiap individu yang ada. Ketika dalam berkomunikasi, jika bahasa yang kita gunakan tidak sempurna penyampaiannya, tentunya pesan yang ingin kita sampaikan akan terganggu dan membuat komunikasi tidak lancar. Gagap merupakan suatu gejala yang sangat menghambat seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Para ahli mengaitkan gagap dengan faktor psikologis, umumnya pengalaman yang sangat sedih, traumatis memicu kecemasan dan stres. Reaksi atas stres yang meningkatkan kemungkinan untuk bicara tergagap. Lalu kata-kata gagap yang keluar membuat gugup bertambah, dan dipengaruhi gugup makin memperburuk kegagapan.


Tentu saja dengan gagap tersebut, rasa percaya diri seseorang akan menurun. Jika tidak diobati dan dibiarkan, maka akan sangat merugikan individual tersebut. Namun campur tangan Tuhan masih ada untuk menyembuhkan dan memulihkan umat-Nya yang memiliki kekurangan dalam diri mereka tersebut. Niko Yehezkiel, seorang pebisnis dan juga terjun dalam dunia pelayanan dan konseling, pernah mengalami gagap dan kurang percaya diri dalam dirinya. Pria kelahiran Jakarta 27 Oktober 1973 menceritakan bagaimana Tuhan menjamah dirinya dari gagap dan kurang percaya diri. Bahkan bukan sembuh saja, tetapi diberkati dengan rumah tangga dan bisa melayani di ladang Tuhan.
Niko menceritakan bagaimana background keluarga berasal dari non Kristen. “Rumah kami bertetangga dengan seorang pendeta dari GPI dulu ya Gereja Pantekosta Indonesia. Papa Mama sibuk ya untuk bekerja dari Senin sampai Minggu tidak ada hari liburnya sama sekali dan kami anak-anaknya di rumah karena Papa Mama sibuk ya dibebaskan begitu saja sampai Pak Pendeta kami itu waktu itu menyampaikan kepada Papa dan Mama untuk minta izin kalau anak-anaknya boleh nggak dibawa ke gereja, “ cerita Niko ketika masa kecilnya ia mulai mengenal akan pribadi Tuhan Yesus Kristus melalui tetangganya.

Niko,istri dan kedua putrinya.Sumber : doc pribadi.

Niko dan saudara-saudaranya mulai mengikuti ibadah dan mengenal priadi Kristus secara pribadi. Mereka bahkan sudah rajin ke gereja walaupun orang tua mereka pada waktu itu belom mau memeluk agama Kristen. Suatu saat Niko diajak ibadah Minggu seperti biasa di Gereja Pusat Pantekosta Indonesia (GPPI). Ketika sedang beribadah, dirinya tiba-tiba merasakan hal seperti dijamah Roh Kudus dan mulai merasa bahwa Tuhan memberikan kekuatan yang baru dalam dirinya. Ia menceritakan kepada saudara-saudaranya bahwa ia merasa sudah dijamah Tuhan dan kepenuhan Roh Kudus. Karena peristiwa tersebut, Niko memutuskan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat dan dibaptis pada tahun 1989 di Gereja GPPI. “Waktu itu baru saya mengerti yang namanya arti pertobatan hati mengikut Yesus jadi tahun 1989. Saya lahir baru di situ saya terima Yesus dan mulai mendalami serta mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Pada tahun 1990-an mulailah saya pelayanan,”kenangnya. Pada waktu itu ia mengingat dan menceritakan bagaimanan kuasa Roh Kudus mengipartasikan dalam suatu pelayanan doa. Niko menceritakan pada tahun itu, 1990, ada sebuah acara Kebangkitan Kebangunan Rohani (KKR) di Stadiun Utama Senayan Jakarta. Ketika itu dirinya digerakkan untuk mendoakan seorang kakek. Tuhan memakai dirinya saat itu sebagai konselor dan pendoa. “Pertama kali waktu itu saya ingat sekali mendoakan seorang bapak ya. Saya doakan dan ketika itu saya baru bertobat dan berapi-api melayani. Saya dan rekan tim pendoa menumpangi tangan dan berdoa dan puji tuhan di situ saya melihat yang tadinya si kakek pakai kursi roda lumpuh nggak bisa berdiri, dia bisa berdiri dan bisa berjalan, “ ceritanya. Dari pelayanan itulah dia kemudian diangkat oleh gerejanya GPPI menjadi PDM. Orang tua Niko yang tadinya sempat menegor dirinya karena terlalu bersemangat dalam melayani, bahkan sampai bisa berdoa didalam kamar 24 jam nonstop, pada akhirnya dijamah juga dan seisi keluarganya menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Pada Waktu itu Niko belum menikah dan dirinya sudah diberkati melalui pekerjaannya.

Baca juga:  Jerman akan Memiliki Rumah Ibadah untuk 3 Agama

Dipertemukan dengan istri yang dari Tuhan.
Walaupun ia sudah terjun dalam dunia pelayan, namun dirinya masih mengalami krisis percaya diri akibat gagap yang ia derita. Ketika Niko mulai mencari jodohnya, ia berkenalan dengan seorang gadis yang bernama Karen Wirianto. Niko ketika jumpa pandangan pertama dengan sang pujaan hati, merasa inilah jodohnya nanti. Ia membawa dalam doa, karena pergumulannya bukan sekedar mengungkapkan rasa cintanya kepada karen, tetapi karena Niko terbatas dalam penyampaian komunikasi dirinya karena dirinya gagap. Tapi Niko beranikan diri dan ungkapkan rasa cintanya kepada Karen. Akhirnya ternyata gayung bersambut, Karen menerima ketulusan cinta dari Niko walaupun keterbatasan dari diri Niko. Sedikit demi sedikit penyakit gagapnya hilang dan pada akhirnya Niko bisa normal seperti orang lainnya. Semua campur tangan Tuhan yang menjamah dirinya sejak ia mengadalkan Tuhan dan memberanikan diri mengambil keputusan untuk menikah dengan Karen Wirianto. Dengan sedikit kendala akan perekonomian yang dikala itu pas-pasan, Niko dan Karen berdoa bersama menyatukan hati agar Tuhan menjamah dan mencukupkan semuanya. Semua doa Niko dan Karen dikabulkan dan akhirnya tercapai juga pernikahan yang indah bagi kedua pasangan tersebut. Bukan saja sampai disitu saja, penikahan Niko dan Karen yang dikarunia dua anak gadis yang cantik dan pintar ini, perlahan tapi pasti bisa mengambil rumah dan akhirnya memiliki tempat tinggal yang layak bagi keluarga mereka.

Baca juga:  Jonathan Christian, Orang Pertama yang Berhasil Raih Beasiswa Musik di Rusia
Niko dan Karen,pasangan yang diberkati Tuhan.Sumber : doc.pribadi.

Disaat badai menerpa, keluarga menjadi alat Tuhan untuk menguatkan.

Didalam perjalanan kehidupan keluarga, Niko mengalami pasang surut dalam perekonomian keluarga. Pernah ketika itu Niko menceritakan dirinya terjun bebas hancur dalam bisnis dan pekerjaannya. Bahkan ia harus menjual beberapa aset. “ Saya sempat depresi dan stress berat. Bahkan saya pernah mengalami, sedang makan bersama-sama istri dan anak-anak, saya bisa menangis tersedu karena sudah tidak tahan dengan keadaan saya waktu itu. Tapi Tuhan pakai istri saya supaya saya tenang. Bahkan dikala saya gak bisa kerja dan hanya diam dan minum obat agar depresi saya hilang, istri saya justru menolong dan berjuang buat keluarga kami agar bisa menyambung hidup,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca mengingat masa-masa kritis tersebut. Niko didukung istri dan anak-anak agar bisa move on dan bisa bangkit dari keterpurukan.
Niko juga menceritakan ketika ia sudah kuat dan on fire kembali melayani Tuhan bersama istrinya, salah satu anaknya diijinkan untuk sakit. Niko sempat bersedih karena dia tidak bisa maksimal menolong anaknya. Namun dengan kegigihan dan tekad, Niko dan istri beserta anaknya berdoa dan memohon pemulihan keluarga kepada Tuhan. “Pada waktu itu saya ajak istri dan anak-anak untuk berdoa dalam suatu persekutuan doa dan kebetulan tema dari doa tersebut pemutusan kutuk rumah tangga. Doa saya dijawab, anak saya sembuh dan pulih seperti sediakala. Saya merasakan Tuhan benar-benar menyelamatkan anggota keluarga saya,” katanya dengan yakin dan percaya akan kuasa dari Tuhan.
Pada akhirnya Niko mengemukakan agar kembali kuat dalam mengarungi kehidupan. Sekarang Niko yang juga mengambil S2 Jurusan Pastoral Konseling di STTBI Petamburan, Jakarta mengungkapkan bahwa Tuhan selalu menolong dirinya. Bahkan dari keluarga, dirinya sekarang mantap melayani Tuhan bersama istri dan anak-anaknya. Niko mengakui bahwa keluarganya-lah sebagai penolong dan penghibur dalam kehidupan dirinya yang dianugerahkan dari Tuhan. (Jaya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here