Frank Gordon, Bertaruh Nyawa Melayani di Suku Pedalaman Papua

0
Penginjilan
Frank (berambut putih, memegang tongkat) bersama orang dari suku di Papua. (Foto-foto: DOK PRI)

Memberitakan Injil adalah sebagai tugas orang Kristen. Setiap pribadi yang sudah diselamatkan oleh Yesus Kristus memiliki tugas mutlak memberitakan Injil. Seperti yang dilakukan seorang misionaris asal Tazmania, Australia, Ps Frank Gordon Clarke.

Pada tahun 1960-an, Frank melintasi ribuan kilometer untuk menuju Papua. Waktu itu ia datang bersama dengan istri dan anak laki-lakinya yang baru berusia 4 bulan. Frank melayani bersama dengan Gereja Injili di Indonesia (GIDI). “Saya melayani di (distrik) Mamit. Mamit merupakan daerah lembah yan bagus di (Kabupaten) Tolikara,” kata Frank mengawali ceritanya.

Di Mamit, Frank melayani suku asli pedalaman yaitu Suku Dani. Persoalan paling mendasar ketika pelayanan waktu itu adalah soal bahasa. Sehingga dalam komunikasi sehari-hari, Frank berusaha mempelajari bahasa suku Dani, terkadang mencampurnya dengan beberapa bahasa isyarat. “Mereka masih primitif. Bahasa mereka benar-benar masih bahasa asli suku Dani yang mungkin belum dimengerti oleh siapapun,” ungkapnya.

Frank yang waktu itu masih berusia 26 tahun menjelaskan Suku Dani masih percaya animisme sehingga menyembah batu, pohon. Menurutnya, orang-orang di Suku Dani waktu itu juga memiliki kemampuan untuk membuat binatang atau orang jatuh sakit atau saat ini dikenal dengan bahasa santet.

“Suku Dani ini kondisinya waktu itu sangat miskin. Mereka juga hidup dengan penuh ketakutan karena percaya dengan roh-roh jahat,” katanya.

Frank membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa diterima Suku Dani. Alasannya, saat itu pengajaran yang dibawa Frank dianggap asing dan berbahaya. Ini membuat banyak orang ingin melenyapkan dirinya termasuk istri dan anak-anak. “Tuhan terus menolong sehingga kami tetap selamat. Bahkan salah satu orang yang ingin membunuh justru menjadi teman baik kami,” ungkap Frank.

BACA JUGA  Ini Profil Hanan Soeharto, Caleg DPR-RI Dapil Garut-Tasikmalaya

Lewat hikmat Tuhan, Frank mulai menemukan apa yang dibutuhkan Suku Dani. Saat itu ia melihat orang-orang di Suku Dani membutuhkan penyuluhan soal kesehatan dan cara untuk bertahan hidup. “Saya mengajarkan tentang kesehatan, kebersihan karena di sana jorok. Saya juga ajarkan cara bertani. Juga saya memberitakan injil dengan bantuan alat peraga agar mereka lebih mudah memahami,” jelasnya.

Apa yang dilakukannya perlahan-lahan membuahkan hasil. Beberapa orang di Suku Dani mulai menerima pengajaran-Nya dan mau menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat.

“Beberapa dari mereka bahkan menjadi martir yang mati karena pengabaran injil di beberapa suku. Mereka dibunuh dengan panah beracun dan sebagainya. Bahkan mayat mereka (ada yang) dimakan oleh suku lain di pedalaman Papua yang ketika itu masih primitif dan kanibal,” ungkapnya.

Hal lain yang masih membekas dalam ingatannya adalah ketika ia menjadi “bidan” untuk membantu proses kelahiran ketiga puterinya. Ini disebabkan waktu itu belum ada rumah sakit di sana. “Kebetulan almarhum istri seorang bidan, jadi dia memberikan instruksi kepada saya untuk apa yang harus saya lakukan,” tuturnya.

Selain di Suku Dani, Frank juga melayani suku-suku lainnya yang belum mengenal Tuhan. Ia bersama dengan istri dan anak biasanya harus berjalan kaki selama 8-10 jam sambil membawa berbagai perlengkapan untuk menuju sebuah desa.

BACA JUGA  Runner Up 4 Putri Pariwisata Indonesia 2020: Take The Chance, Lebih Baik Gagal Mencoba Daripada Tidak Sama Sekali

Bagi Frank, meskipun lelah dan berkali-kali nyawanya dan keluarga terancam, ia tidak tidak pernah sedikitpun menyesal datang ke pedalaman Papua. Ia justru merasa terhormat karena Tuhan mengizinkan dirinya bisa melayani suku pedalaman. “Saya merasa sangat terhormat Tuhan memakai saya sebagai alat-Nya,” kata Frank.

Kurang lebih Frank menghabiskan waktu penginjilan di Papua selama 25 tahun dan setelah itu ia kembali ke tempat asalnya. Namun meskipun begitu, secara rutin 2 tahun sekali ia masih sering kembali ke Papua.

“Terakhir tahun 2018 saya ke Suku Koroway. Disitu juga saya mendapatkan ‘kado’ 2 jari kaki harus diamputasi karena terinfeksi bakteri. Hingga sekarang (di Tazmania) saya masih harus bolak balik ke dokter untuk memeriksakan kaki karena bakterinya masih bersarang,” ungkapnya.

Frank berharap gereja atau para hamba Tuhan di Indonesia saat ini bergerak aktif melayani di pedalaman Papua. Pasalnya, saat ini pemerintah menutup akses bagi para misionaris asing untuk pelayanan ke Indonesia.

“Sarana dan infrastruktur di Papua sekarang sudah maju daripada tahun 1960-an. Sangat disayangkan semua yang telah dirintis oleh para misionaris tidak dilanjutkan. Jangan sampai kita tertinggal oleh agama lain yang mendahuluinya. Kita harus berjuang, berdoa dan mendukung pekabaran Injil di Papua,” pesannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here