Gereja Segera Selamatkan Anak Bangsa dari Narkoba

0
Ilustrasi Gereja menyelamatkan dari Narkoba.
Ilustrasi Gereja menyelamatkan anak dari bahaya narkoba.

Menyelamatkan Anak Bangsa dari Bahaya Narkoba, demikian judul dari Webinar online yang diselenggarakan oleh Paguyuban Media Online (PAMEO), didukung oleh Perkumpulan Multimedia Transformasi Indonesia (MATRA ID), dan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI), dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tgl 23 Juli.

Melihat tema utama Webinar ini, sudah pasti yang menjadi pembicara utama, dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Irjen Pol. Drs. Arman Depari yang menjabat Deputi Pemberantasan BNN RI.

Via aplikasi Zoom Meeting, Kamis 23 Juli 2020, jam 10 – 12 siang WIB, Irjen Pol. Drs. Arman Depari, mengemukakan sejumlah fakta yang mencengangkan. Prevalensi penyalahgunaan narkoba tahun 2020 sebesar 3,7016 juta jiwa (1,88%) dari penduduk Indonesia.

Irjen. Pol Drs. Arman Dapari mengatakan penyalah gunaan narkoba yang disebutkan, ditemukan 76 zat psikoaktif (new psychoactive substances – NPS) yang beredar di Indonesia dari jumlah 892 Narkotika di dunia

Perkembangan teknologi informasi ternyata juga ikut menyumbang angka penyalah gunaan narkoba—dalam hal ini pemasarannya. “Adanya tren ancaman teknologi informasi (Cyber) terhadap penyalahgunaan narkoba, yakni, peredaran narkoba dilakukan melaui media sosial dan website. Peredaran narkoba dilakukan melalui jaringan internet tersembunyi yang sangat sulit dilacak. Termasuk transaksinya menggunakan crypto-currency melalui internet, yang tidak mudah dilacak karena identitas tersembunyi. Apalagi perkembangan teknologi akan menciptakan celah bagi pelaku kejahatan, memproduksi ataupun mengedarkan narkoba dengan lebih mudah, murah dan tidak terdeteksi,”ungkapnya.

BACA JUGA  DR. John Palinggi Berbagi Kasih di 25 Desember 2020 “NATAL”

Irjen. Pol Drs. Arman Dapari, mengingatkan agar para orangtua dapat memberikan perhatian kepada anak-anak dari bahaya narkoba. Pertama, dapat memberikan waktu. Orangtua menyediakan waktu untuk mendengarkan anak dan berdialog dengan anak-anak. Kedua, Dapat memantau. Orangtua memantau langsung aktivitas anak, sehingga tetap dalam jangkauan orangtua. Tiga, mendidik Moral dan Spiritual. Memberikan pendidikan bernilai moral dan spiritual, sehingga akan tumbuh menjadi anak yang memiliki pertahanan diri dari pengaruh lingkungan yang negatif. “BNN mempunyai tiga langkah penanggulangan masalah narkoba, yakni, Pencegahan, Pemberantasan, dan Rehabilitasi,” ujarnya dan berharap para orangtua dapat memberikan perhatian kepada anak-anak dari bahaya narkoba.

Mantan petinggi Polri yang saat ini menjabat Ketua Umum Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama, Mayjen Pol. (Purn) Drs. Putera Astaman, mendukung razia-razia penyalah gunaan narkoba di tempat-tempat hiburan yang dilakukan Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol. Drs. Arman Depari. “Hal ini sangat perlu, tetapi jangan terbatas hanya kepada pengunjung tempat hiburan, harus juga dilakukan kepada pekerja, termasuk dilakukan kepada pemilik/pengelola tempat hiburan,”pintanya.

Zoom Meeting, Kamis 23 Juli 2020, jam 10 – 12 siang WIB.

Praktisi hukum, juga pengajar di Universitas Buya Hamka (UHAMKA) Jakarta, Ramdhansyah Bakir, memberikan masukan kepada BNN dan pemerintah Indonesia untuk segera memasukan pengetahuan bahaya narkoba dalam kurikulum sekolah, sebagai upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.

BACA JUGA  Kerjasama Diperlukan Kaum Perempuan untuk Menghilangkan Diskriminasi

Sarjana Kriminologi FISIP UI ini, memandang perlu pencegahan dilakukan dengan memperluas larangan merokok di tempat tempat yang berhubungan dengan anak selain di sekolah, seperti RPTRA, dll.

Ramdhan mengingatkan agar semua memiliki tanggungjawab untuk melindungi anak-anak, dari peredaran narkoba yang disamarkan dalam bentuk makanan atau minuman, termasuk anak-anak jalanan perlu juga mendapat perlindungan, agar tidak menjadi konsumen dan pengedar narkoba.

Pria kandidat Doktor yang juga penggiat sosial kemasyarakatan ini menegaskan agar anak yang tersangkut kasus narkoba, sebagai korban, perlu adanya perlindungan untuk tidak diekspos media.

Sedangkan, Helen Simarmata, dari DPP GAMKI, menyampaikan edukasi dan penyuluhan narkoba harus gencar dilakukan, terutama kepada orang tua, agar tanggap terhadap perubahan yang ditunjukkan oleh anaknya

“Era adaptasi kebiasaan baru (New Normal) menjadi titik awal, membangun kesadaran orang tua dan seluruh anggota keluarga, untuk menciptakan suasana harmonis dan saling mendukung serta menjaga satu sama lain,” ujar Dosen FISIPOL UKI.

Bagi Helen, dalam melakukan rehabilitasi anak harus melibatkan orangtuanya. Sebab anak sangat membutuhkan dukungan dan perhatian orangtuanya untuk menata kembali hidupnya.

Salah satu penggagas webinar, pengurus dari PAMEO, Dedy Tambunan, mengemukakan tidak sedikit yang tersangkut dengan penyalahgunaan bahaya narkoba itu anak-anak yang beragama Kristen. Dalam hal ini, diperlukan keterlibatan gereja, pendeta dalam hal ini untuk memberikan penyuluhan dan kotbah-kotbah yang mengingatkan bahaya dari penyalah gunaan narkoba. (Vifa5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here