GPdI dan GSPDI “Jabat Tangan” Dalam Sengketa GPdI di Jl. Hayam Wuruk Yogyakarta

0
ilustrasi : menyelesaikan permasalahan di wilayah GPdI Yogyakarta

Jakarta-Keputusan Majelis Pusat (MP) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) yang bernomor 239/MP-GPdI/S.Per/VI-2020, perihal; Tanggapan sekaligus Perintah Majelis Pusat, yang ditujukan kepada Majelis Daerah Yogyakarta, Ketua, Pdt. Dr. Samuel Tandiasa, M.Th, untuk segera melantik Pdm. Raden James Prayitno Tjahjono, sebagai Gembala GPdI, Jl, Hayam Wuruk, No. 22 Yogyakarta, yang otomatis menggantikan Pdt. Lianawati Soetrisno, yang sudah berusia memasuki 88 tahun.

Ketua Majelis Daerah Yogyakarta, Pdt. Dr. Samuel Tandiasa, M.Th.

Lewat surat keputusan itu, Majelis Daerah (MD) GPdI Yogyakarta, menindaklanjuti dengan menerbitkan surat keputusan pengangkatan, bernomor A.017/SK/MD GPdI-DIY/VI/2020, dan melakukan pelantikan.

Keputusan MP dan MD Yogyakarta ini diambil, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan, diantaranya, menurut Ketua MD Yogyakarta, Pdt. Dr. Samuel Tandiasa, M.Th, karena sudah usia lanjut, memasuki 88 tahun, sehingga banyak kegiatan gereja tidak dapat dilakukan. “Sudah sekitar 7-8 tahun tidak bisa naik mimbar dikarenakan usia sudah lanjut alias tahun ini akan berusia 88 tahun,”katanya.

Keputusan MP dan MD GPdI Yogyakarta, tidak semua jemaat menyetujuinya. Masih ada jemaat yang menolak. Hasilnya, info yang diterima vifamedia.com, jemaat-jemaat yang tidak setuju telah menyatakan bergabung dengan sinode, Gereja Sidang Pentakosta Di Indonesia, yang dipimpin oleh Pdt. Paul D Massie dan Sekretaris Umum, Pdt. Tono Yoshua Ray. “Intinya disarankan oleh MUSPIKA kepada kelompok jemaat Tuhan yang sudah menyatakan keluar dari GPdI untuk mencari naungan sinode Gereja dalam melangsungkan kegiatan-kegiatan gerejawi. Ketika ada yang datang kepada GSPDI, tentu GSPDI menerima dengan prosedur-prosedur yang sudah terjadi dan yang berlaku di GSPDI,”katanya.

Sekretaris Umum Sinode GSPDI, Pdt. Tono Yoshua Ray. (sumber: tabloidmitra).

Prosedur yang dimaksud Pdt. Tono Yoshua Ray, diantaranya surat keterangan keluar dari gereja lama dan tidak terikat dengan sinode gereja lainnya. “Prosedur-prosedur ini sudah mereka penuhi, baru kami melakukan visitasi (kunjungan), di situ terungkap bahwa asset-asset gereja sedang diperkarakan oleh pihak sinode yang lama. Kami mengambil keputusan kita tidak akan turut campur dalam proses peradilan. Intinya GSPDI menghormati proses hukum yang sedang terjadi, dalam hal ini sinode GPdI dan jemaat yang terlibat serta yang dilibatkan,”

BACA JUGA  Khoe Ribka : Imlek, Tradisi yang Harus Dilestarikan

Pdt. Tono Yoshua Ray, menegaskan GSPDI tidak ada hubungannya dengan asset-asset GPdI di Jl. Hayam Wuruk, bahkan tidak tertarik. Karena GSPDI dalam hal ini menampung orang-orang percaya dalam sebuah sinode gereja.

Kepada vifamedia.com, Pdt. Tono Yoshua Ray, mengungkapkan pimpinan pusat GSPDI menerima surat dari MD GPdI Yogyakarta. Surat itu berperikop Majelis Daerah GPdI Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan diberi nomor B.38/MD GPdI-DIY/Srt Keb/VIII/2020, yang isinya, diantaranya menyarankan GSPDI untuk mempertimbangkan sehubungan dengan penggunaan sarana prasarana dari GPdI di Jl. Hayam Wuruk No 15, Yogyakarta dan di Jl. Diponegoro, No. 26, Yogyakarta. Pasalnya MD GPdI Yogyakarta, mendapatkan informasi akan digunakan oleh kelompok yang pindah ke GSPDI dalam kegiatan-kegiatan gerejawi.

BACA JUGA  PGI Meminta Presiden Jokowi Menahan Pemberlakuan UU Cipta Kerja

Surat yang dikirim kepada GSPDI ini juga ditembuskan, diantaranya kepada Dirjen Bimas Kristen, PGPI Pusat, Kapolda DIY. “Surat itu bukan hanya sekretariat sinode yang terima tetapi Ketua Umum GSPDI dan Ketua MPR GSPDI. Isinya sama, pada dasarnya menyambut baik dengan keberadaan GSPDI di Yogyakarta. Tetapi MD GPdI Yogyakarta keberatan GSPDI Yogyakarta yang nanti akan dilantik oleh GSPDI memakai asset-asset yang dianggap GPdI, adalah hak milik GPdI. Itulah inti suratnya,” Ungkap Sekretaris Majelis Pusat Sinode, GSPDI, Pdt. Tono Yoshua Ray dan menegaskan GSPDI tidak ada hubungannya dengan aset-aset GPdI di Jl. Hayam Wuruk, bahkan tidak tertarik. Karena GSPDI dalam hal ini menampung orang-orang percaya dalam sebuah sinode gereja bukan assetnya.

Mendengar penjelasan dari pihak GSPDI, Ketua MD Yogyakarta, menyambut baik dan berterima kasih. Karena GSPDI menghormati keputusan MD Yogyakarta yang mempertahankan asset GPdI. (Vifa5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here