GPdI Jawa Barat Mencari Pengganti (alm) Pdt. J.E. Awondatu dengan Memperlihatkan Kematangan Berorganisasi

0

Meninggalnya Pdt. J.E. Awondatu, yang adalah Ketua Majelis Daerah, Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Rabu, (29 April 2020), otomatis terjadi kekosongan kepemimpinan di organisasi GPdI di Jawa Barat.

Menyikapi hal itu, Majelis Pusat (MP) mengangkat seorang pelaksana tugas ketua MD, Pdt. Marten Schalwijk dengan dikuatkan melalui Surat Keputusan.

Pelaksana tugas ketua MD, Pdt. Marten Schalwijk

Fungsi dari pelaksana tugas, pada umumnya dalam sebuah organisasi, tentu agar roda organisasi berjalan dengan baik sampai diputuskan ketua yang terpilih atau definitif.

Pdt. Ferdinand Rompas sedang memaparkan pendapat jalannya pleno. (Dok: Multimedia GPdI Jawa Barat).

Diorganisasi GPdI, khususnya ditingkat Majelis Daerah (MD), telah diatur dalam AD/ART untuk mengangkat seorang ketua yang resmi, khususnya dalam Bab VII Pengisian Kekosongan Pimpinan, Pasal 14 Ayat 3, Point a, ”Apabila terjadi kekosongan dalam kepengurusan MD, kecuali kekosongan Ketua MD pengisiannya diputuskan oleh rapat pleno MD. Point b, “Apabila terjadi kekosongan Ketua MD, pengisiannya diputuskan oleh MP dengan mempertimbangkan usulan rapat pleno MD”.

Menunggu pelaksana tugas Ketua MD dan pengurus MD menentukan waktu dilasanakan pleno, di lingkungan GPdI Jawa Barat, mulai berkembang nama-nama yang diingini untuk duduk menjadi ketua MD di sisa periode yang ada yaitu sampai 2022.

Pdt. Franky Turangan didampingi sekretaris MD GPdI Jawa Barat sedang menjelaskan AD/RT. (Dok: Multimedia GPdI Jawa Barat).

Dari nama – nama yang berkembang, yang sudah pasti, seperti yang dijelaskan dalam penjelasan AD/ART, Bab VII, Pasal 14,Ayat 3, Point b, “Yang dapat dipilih menjadi Ketua MD (untuk mengisi kekosongan-red) adalah anggota MD aktif yang memenuhi syarat sebagai Ketua MD,”

Baca juga:  Ps.Dr.Gunadi Gunawan, M.Th.(Ketua Sinode CMC): Visi Membuka 500 Gereja Lokal
Suasana Sidang Pleno.

Bunyi dalam AD/ART Bab VII, Pasal 14 dan penjelasan AD/ART Bab VII pasal 14 itu, melahirkan berbagai penafsiran berkembang di tengah – tengah hamba Tuhan GPdI Jawa Barat, dan masing-masing menuangkan dalam media sosial dan ditanggapi oleh yang lain, sampai terjadi diskusi yang tajam dan kritis. Tak dapat dipungkiri dalam diskusi-diskusi itu juga termuat kepentingan pencalonan tokoh-tokoh GPdI Jawa Barat yang dianggap layak.

Tante Melani Dicalonkan.
Dalam diskusi-diskusi itu menguat keinginan atau dukungan banyak hamba Tuhan GPdI di Jawa Barat untuk mencalonkan istri (alm) Pdt. J.E. Awondatu, yaitu yang akrab dipanggil tante Melani.

Keinginan dari banyak hamba-hamba Tuhan GPdI itu ternyata tidak sebatas diungkapkan di media sosial. Itu dibuktikan dengan berkumpulnya sebagian besar ketua dan sekretaris wilayah yang ada di GPdI Jawa Barat, berjumlah, 17 wilayah, mendatangi rumah tante Melani dan meminta kesediaannya.

“Kami datang meminta karena kami berpendapat hanya tante Melani yang dapat meneruskan visi dan misi Om Yoyo, (sebutan akrab nama Pdt. J.E. Awondatu). Dukungan kami ini juga karena kami melihat AD/ART memberikan peluang untuk Tante Melani,”kata Sekretaris Wilayah 11, Pdt. Glenn N Lengkong kepada vifamedia.

Dari Kiri – Kanan : Pdt. Glenn N Lengkong dan Pemred VifaMedia beserta Pdt. J.E Awondatu saat masih hidup. Mereka bertiga memiliki hubungan akrab “bapak dan anak”.

Begitu juga yang disampaikan oleh Ketua Wilayah VIII, yang juga Ketua Alumni SAC dan Sekolah Tinggi Teologia Cianjur, Pdt. Deni Tampi. “Kami mendukung bukan asalan, kami mendung karena Tante memiliki kapasitas, dan tolong berikan penghargaan pada tante dengan yang bernilai,”

Baca juga:  Tegas! Tokoh Politik Jangan Jerumuskan Tokoh Agama | Dr. John N. Palinggi

Permintaan dari ketua-ketua wilayah itu tidak langsung di iyakan oleh tante Melani. Sebagai seorang hamba Tuhan, tante Melani meminta supaya berdoa dan jangan sampai keinginan itu hanya berupa “emosi” karena kecintaan hamba-hamba Tuhan GPdI Jawa Barat kepada (alm), Pdt. J.E Awondatu yang akrab disapa Om Yoyo.

Jawaban tante Melani sangat tepat, karena memang dalam AD/ART, pencalonan seorang ketua untuk mengisi kekosongan kepemimpinan di tingkat MD, dicalonkan oleh pengurus MD bukan pengurus wilayah.

Jawaban dari tante Melani itu direspon positif oleh ketua-ketua wilayah dengan menyatakan dukungan di atas kertas, dan menyampaikan aspirasi itu kepada pengurus MD—sebagai aspirasi dari bawah.

Langkah-langkah yang diambil untuk mendukung tante Melani, memperlihatkan kematangan berorganisasi hamba-hamba Tuhan GPdI Jawa Barat. Termasuk bagaimana sikap pemimpin MD, tentu dalam hal ini termasuk Pelaksana Tugas, Pdt. Marten Schalwijk.

Buktinya, saat pleno, Selasa (30/06/2020) di Kantor MD GPdI Jawa Barat, di Cianjur, tepatnya di Sekolah Alkitab GPdI Cianjur, Pelaksana Tugas, Pdt. Marten Schalwijk, meminta persetujuan dari pengurus yang hadir untuk menghadirkan perwakilan pengurus wilayah masuk menyampaikan aspirasi secara tertulis dan resmi.

Padahal, nama ketua pelaksana sendiri dicalonkan oleh anggota MD untuk menjadi Ketua MD di sisa periode yang ada. GPdI Jawa Barat telah memperlihatkan kematangan dalam berorganisasi. (Vifa5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here