Harapan PGI kepada Menteri Agama Terkait Pelajaran Agama di Sekolah

0
Ilustrasi buku pelajaran

Jakarta – Ketua Umum (Ketum) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) berharap pelajaran agama di berbagai sekolah lebih mengutamakan budi pekerti dan nilai universal dari agama. Menurutnya, ini menjadi pekerjaan rumah Menteri Agama dan Menteri Pendidikan untuk membenahinya.

“Pelajaran agama yang dogmatis di ruang publik hanya akan menciptakan segregasi, bahkan bisa menciptakan permusuhan. Itu sebabnya, pendidikan agama dalam bentuk ajaran/dogma sebaiknya dilakukan di ruang privat (keluarga dan rumah ibadah) dan tidak di sekolah,” katanya.

Pdt. Gomar menjelaskan bila Negara menyusun kurikulum pendidikan agama dengan memasukkan dogma agama, maka Negara sudah ikut berteologi. “Mestinya cukuplah negara mendasarkan diri pada konstitusi dengan tafsir hukumnya dan tidak memasuki ranah teologi yang memiliki ragam mashab atau denominasi,” paparnya.

Baca juga:  Lumbung Nusantara dan My Home Peduli Guru

Sebelumnya di masyarakat ramai karena adanya buku pelajaran Agama Islam dan Budi Pekerti bagi siswa kelas 8 SMP dan kelas 11 SMA keluaran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2014 yang dinilai menyinggung agama lain.

“Ini adalah mata pelajaran agama Islam. Dan tentu saja isinya adalah pemahaman dan ajaran Islam, termasuk mengenai agama Kristen dan Injil. (Tapi) Tugas kita adalah memberikan informasi autentik tentang ajaran Kristen kepada murid-murid Kristen, bukan menggugat isi pengajaran agama yang lain,” ungkap Pdt. Gomar.

Baca juga:  PGI Minta Utamakan Pembinaan Pancasila Melalui BPIP, dan Mengapresiasi Penundaan Pembahasan RUU-HIP

Terkait hal tersebut, PGI telah mengirimkan surat sekaligus softcopy buku tersebut kepada Menteri Agama. Hasilnya Menteri Agama sudah menginstruksikan stafnya untuk berkoordinasi dengan pihak Kemendikbud untuk mengkaji materi dari buku-buku tersebut.

“Di tengah upaya kita membangun kerukunan, memang hal-hal seperti pelajaran agama ini menjadi ganjalan serius. Antara agama Kristen dan Islam memang terdapat titik temu dan titik tengkar yang cukup banyak, dan kalau tidak hati-hati mengelolanya bisa membuyarkan usaha menuju kerukunan tersebut,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here