Harmoni Masyarakat Indonesia ditengah Perbedaan

0

“Harmoni Kebangsaan” menjadi tema web seminar (webinar) yang dilaksanakan Jumat (19/06/2020), dari beberapa lembaga, diantararanya Chronosdaily, Generasi Muda Penerus Bangsa, Vox Point Indonesia, Puri Agung Singaraja-Bali, STT LETS Indonesia, Pengawal Indonesia Kerja, Matakin Indonesia, Fornas Bhineka Tunggal Ika, Visi Indonesia Unggul, Tirta TV Streaming, Forum Peduli NKRI Bali, Indonesia Hari.

Adapun yang menjadi Narasumber, Pdt. Hendrek Lokram (Sekretaris Eksekutif PGI)-Protestan, Handojo Budhisedjati (Ketua Umum VoxPoint Indonesia)-Katolik, Anak Agung Ngurah Ugrasena (Pengelisir Puri Singaraja-Bali)-Hindu, Peter Lesmana (Sekretaris Bidang Organisasi Matakin)-Konghuchu, Halili Hasan (Direktur Riset Setara Institute), Antonius Natan (Sekum PGLII DKI Jakarta) dan Roy Agusta (Moderator)

Webinar “Harmoni Kebangsaan” Jumat (19/06/2020)

Pdt.Hendrek Lokram mengatakan masyarakat Indonesia tidak dapat lepas dari perbedaan tetapi itu jangan diperlebar perbedaannya. Sebaliknya itu harus dilihat dari sudut pandang positif dimana perbedaan sebagai harmoni.

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 PGI, Pdt. Henrek Lokram menjadikan contoh di mana sekat perbedaan itu hilang karena rasa kebangsaan yang kuat di tenga-tengah anak bangsa. “
PGI telah bekerjasama dengan badan-badan yang menyalurkan bantuan kepada masyarakat, dari berbagai agama dan kepercayaan. Solidaritas kemanusiaan ini adalah panggilan kekristenan yang kita wujudkan untuk mewujudkan harmoni,”tuturnya.

Baca juga:  Visi Victorious Family untuk Membawa Keluarga (Jemaat) Berkemenangan, Sudah Menjadi Kenyataan

Pdt. Henrek Lokram mengakui bukan mudah untuk mewujudkan persatuan ditengah perbedaan yang ada. “Bukan pekerjaan yang mudah untuk mempersatukan perbedaan. Menganyam komunikasi antar umat beragama tidak mudah, perlu ada kesungguhan aparat untuk menegakkan perangkat undang-undang,”terangnya.

Sedangkan Handojo Budhisedjati menuturkan organisasi Katolik dibentuk untuk memberikan kader-kader terbaik buat bangsa ini. Misi Vox Point dalah misi kebangsaan. “Kita harus menjadi sahabat semua orang. Itu juga pesan KWI pada natal tahun 2019. Kami sangat terbuka dan membuka hubungan dengan lintas agama, termasuk dari Partai Keadilan Sejahtera, tadinya banyak yang tidak menerima, tapi ini merupakan konsukwensi. Perbedaan memang ada tetapi kita melihat persamaan yaitu sama-sama menjaga keutuhan bangsa Indonesia,”terangnya.

Peter Lesmana berkata salah satu prinsi yang ada di dalam agamanya adalah rendah hati. “Kami menekankan perlunya ada kebersamaan. Keharmonisan yang kita bangun jangan sampai terganggu dengan melebihkan eksistensi pribadi. Dari keyakinan kami ada prinsip yin dan yang, yaitu ada perbedaan, saling melengkapi,”paparnya.

Baca juga:  Rahasia Mengetahui dan Mengembangkan Kecerdasan Anak Sejak Dini

Halili Hasan dari Setara Institute memberikan perspektif tentang perbedaan yang ada di tengah masyarakat Indonesia. Ada sisi positif dan negatif, ada tantangan ada harapan. “ Persoalan kita ada dua lapis dalam membangun toleransi membangun harmoni,”.

Katanya, lapis negara adalah pertama penegakkan hukum, dimana ada ruang terjadinya pelanggaran dan intoleransi bagi minoritas di Indonesia. Konstruksi hukum dan regulasi diberbagai bentuk dimulai dari undang-undang sampai di daerah. Sila pertama memberikan kita untuk harmonis untuk memilih keyakinan masing-masing.

Kedua adalah kapasitas aparatur negara kita. Apapun agama aparatur negara seharusnya melindungi semua lapisan. Tapi kenyataaannya di lapangan aparatur negara masihi tidak tegas kepada kelompok intoleran.

Ketiga penegakkan hukum. Belum ditemukan contoh atau dijadikan gambaran bahwa penegakkan hukum itu adil untuk kelompok minoritas.

Acara ditutup dengan pemaparan kesimpulan mengenai keharmonisan oleh Antonius Natan (PGLII DKI Jakarta), yang berkata perlu dijaga dan dipertahankan harmoni dari kebangsaan Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. (Vifa 6)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here