Hubungan Antara Masyarakat Digital dengan Rutinitas Kekristenan

0
Foto: Istimewa

Jakarta – “Christian ini Habits in Digital Society” merupakan tema yang diangkat dalam seminar orang tua dan guru yang diadakan Sekolah Kristen Calvin bersama Sekolah Kristen Logos, Sabtu (29/5/2021).

Dalam pemaparan, Koordinator Sekolah Kristen Calin dan Logos, Pdt. Ivan Kristiono membuka dengan mengungkap hasil survei yang diadakan Barna beberapa waktu lalu tentang parenting masa kini dan lampau. Hasilnya, para responden menganggap parenting masa kini lebih kompleks.

“Jawaban yang paling tinggi karena teknologi informasi. Kita orang Kristen bergumul juga dengan hal itu,” katanya.

Ia juga mengutip penyataan dari Neil Postman (seorang ahli bidang komunikasi dan pendidikan/ekologi media). Menurutnya, ada dua pendekatan yang dilakukan manusia terhadap teknologi yaitu technophobia (bersifat antipati/takut) dan technophilia (positif terhadap teknologi baru).

“Yang diperlukan adalah kita menjadi di tengah-tengah antara technophobia dan technophilia,” pintanya.

Pdt. Ivan menjelaskan pada dasarnya teknologi berguna untuk kehidupan manusia saat ini karena diciptakan untuk mempermudah dan memperlancar aktifitas sehari-hari. Termasuk mempermudah christian habit alis kebiasaan (rutinitas) dalam kegiatan Kekristenan.

Baca juga:  Jejak Wisata, drh. Anggi Menawarkan Wisata Terjangkau

“Teknologi berfungsi sebagai penguat dan perpanjangan chirtian habit. Contoh, ada habit Fellowship, nah media itu digunakan untuk perpanjangan kita sehingga value fellowship itu terlaksana. Hal ini juga berlaku untuk menyampaian materi renungan firman Tuhan dan sebagainya lewat digital,” jelasnya.

Namun, lanjut Pdt. Ivan teknologi juga bisa merusak habit (kebiasaan) manusia. Seperti taksonomi abad teknologi yang dibuat oleh Neil Postman. Pertama, tool using culture (teknologi dipakai tapi di drive oleh iman Kristen, sehingga alat itu menjadi perpanjangan. Misalnya, medsos).

“Dalam tahap ini alat tersebut tidak merusak habit bahkan value dan faith. Tapi ada problemnya ketika kita juga (terlalu) membuka hati untuk teknologi, mereka (teknologi) masuk ke dalam seluruh kehidupan kita. Sehingga pelan-pelan kita diubah secara tidak sadar,” paparnya.

Baca juga:  Rakernas ke 5 PEWARNA Indonesia: Siap Berkarya

Kedua, teknokrasi. Ketiga, tekhnopoli. Pdt. Ivan menjelaskan tekhnopoli menyerahnya kebudayaan terhadap teknologi; atau lebih tepat disebut bahwa teknologi merajai segenap cara berpikir dan bertindak dalam kebudayaan. “(dalam konteks penelitian Neil Postman) saat ini orang tidak lagi percaya pada otoritas agama, tapi sekarang lebih percaya pada otoritas sains.”

Dari kemajuan teknologi, lanjut Pdt. Ivan, secara tidak sadar akan membangun mindset tersendiri dalam otak manusia. Seperti manusia bisa menjadi narsis, anominity, entertainment paradigm dan lain-lain. “Dalam era teknologi ini manusia memiliki pemahaman ingin mendapatkan hasil secara cepat.”

Menurutnya, manusia harus mampu menggunakan teknologi secara bijak agar teknologi menjadi perpanjangan bukan justru mengubah habit. “Teknologi harus dianggap sebagai perpanjangan yang mempermudah kita melakukan segala sesuatu khususnya dalam berbagai hal yang berkaitan dengan keimanan. Jangan sampai teknologi membuat habit bahkan iman kita (berubah).”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here