Ignatius Suharyo Pimpin Perayaan Paskah ASN Katolik, Menag Berikan Sambutan

0
Paskah ASN Katolik
Ignatius Suharyo bersama para perwakilan pemerintah yang hadir dalam perayaan Paskah bersama ASN Katolik di Katedral Jakarta. (Foto-foto: Tangkapan layar Hidup TV)

Jakarta – Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (Kerawam KWI) dibantu Komunitas Forum Gaudium et Spes (Forges) Indonesia, menyelenggarakan perayaan Paskah Bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) Katolik, Minggu (18/4/2021).

Acara dengan tema “100% Katolik, 100% Patriotik” ini digelar secara hybrid (online dan offline/Onsite). Perayaan secara onsite sendiri diselenggarakan di Katedral Jakarta.

Sebelum perayaan, misa dipimpin Ketua KWI yang juga Uskup Keuskupan Agung Jakarta Mgr Ignatius Kardinal Suharyo yang didampingi tiga pastor. Seperti Pastor Kolonel Yoseph Maria Marcelinus Bintoro Pr (Wakil Uskup Ordinariat Militer Indonesia), Pastor Paulus Christian Siswantoko Pr (Sekretaris Komisi Kerawam KWI), dan Pastor Agustinus Heri Wibowo Pr (Sekretaris Komisi HAK KWI).

Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam sambutan mengajak ASN maupun setiap warga negara Indonesia memahami 4 kesepakatan komitmen kebangsaan yang tertuang dalam buku Moderasi Beragama Kemenag tahun 2019.

“4 kesepakatan komitmen kebangsaan yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini perlu dilakukan agar kehidupan sosial kemasyarakatan dapat berjalan dengan baik,” katanya dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekjen Kemenag, Nizar Ali.

Baca juga:  Gereja Dibakar di Sulawesi Tengah, Ketua Umum PGI Minta Aparat Tuntaskan Sisa-sisa Kombatan Teroris

Cinta tanah air, kata Yaqut merupakan indikator pertama dari moderasi beragama. Yaqut memberikan salah satu contoh dari seorang tokoh Katolik, Alm. Mgr Albertus Soegijopranata SJ. Soegija, begitu sapaan akrabnya merupakan uskup pribumi Indonesia pertama dan dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang sering disebut “100% Katolik, 100% Indonesia”.

“Semasa hidupnya ia (Soegija) berjuang, alangkah baiknya seluruh ASN yang hadir mendalami dan menghayati semangat dan nilai patriotismenya,” jelasnya.

Yaqut menangkap istilah “100% Katolik, 100% Indonesia” yang diusung Soegija merupakan sebuah kesadaran tentang identitas diri sebagai seorang Katolik dan Indonesia.

“Kesadaran dirinya akan keutuhan dirinya sebagai pemeluk agama Katolik sangat tinggi, tapi pada saat yang sama kesadaran akan keutuhan dirinya sebagai putra Indonesia sejati. Kedua identitas ini menyatu tak terpisahkan dalam diri alm Soegija. Kekatolikannya dijamin 100% begitu juga Keindonesiaanya dijamin 100%,” paparnya.

“Ketika ibu kota pindah ke Yogyakarta, saat itu ketika Soegija sudah jadi Uskup Keuskupan Agung Semarang, ia memutuskan memindahkan rumah dan kantor Keuskupan ke Yogya agar dekat dengan sahabatnya Presiden Soekarno. Keputusan ini memperlihatkan semangat Keindonesiaan seorang Soegija, karena itu tidak mengherankan ketika meninggal Soekarno memahkotainya dengan pahlawan nasional,” tambah Yaqut.

Baca juga:  Menag Ajak Pemuda Gunakan Medsos untuk Menyebarkan Moderasi Beragama

Yaqut mengajak para ASN Katolik untuk meneladani semangat seorang Soegija untuk menjadi seorang abdi Negara yang religius sekaligus memiliki jiwa patriotisme.

“Saya tidak menyangsikan ASN Katolik tentang agamanya, tapi tentang cinta tanah air seutuhnya perlu didalami dan tingkatkan. Pro ecclesia et patria yang berarti untuk gereja dan negara adalah jargon yang perlu terus dipelihara. ASN Katolik tidak perlu jauh-jauh mencari model moderasi beragama karena banyak contoh dalam sejarah yang telah diperlihatkan,” pesannya.

Menjelang akhir perayaan, panitia memberikan kenang-kenangan kepada para pejabat maupun tamu undangan yang hadir. Seperti, perwakilan dari Kemenag, perwakilan dari Kominfo, perwakilan dari BKN, Ketua Umum Korpri dan lain-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here