Ikatan Sarjana Katholik Indonesia, Fokus 2 Edisi 8: Antara Kearifan Lokal dan Sikap Inklusif

0
ISKA
Ikatan Sarjana Katholik Indonesia (ISKA)

Yogyakarta – Prof Sumandiyo, Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengatakan kearifan lokal sama dengan iklulturasi dalam seni ritual keagamaan. Seni budaya dan agama secara empiris mempunyai hubungan yang erat karena fenomena itu mempunyai unsur yang sama, yakni ritual dan emosional.

“Seni dalam sebuah ritual agama, sangat menekankan nilai-nilai kearifan lokal atau dapat dipahami sebagai konsep “inkulturasi” – in culture yang berarti masuk dalam sebuah kebudayaan setempat – yang berusaha untuk menumbuhkan masyarakat inklusif,” kata Sumandiyo yang dikutip dari acara Fokus 2 Edisi 8: ‘Gerakan Inklusivitas Berbasis Kearifan Lokal’ di kanal Youtube ISKA Channel.

Sebagai informasi, ISKA merupakan singkatan dari Ikatan Sarjana Katholik Indonesia. Juga turut hadir pembicara lain Romo G. Budi Subanar, SJ, dosen program Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Baca juga:  Masa Pandemi Membuat Pendeta di Asosiasi Pendeta Indonesia Makin Kreatif

Kembali ke topik. Sumandiyo menjelaskan sejak tahun 1959 inkulturasi mulai populer dalam Teologi Misi. Inkulturasi berasal dari kata “in” dan “culture atau “masuk ke dalam kebudayaan.” sedangkan dalam gereja Katolik, “inkulturasi” memiliki arti bahwa Kristus harus berakar dalam nilai-nilai kearifan budaya lokal.

“Konsep ‘inkulturasi’ yang berusaha masuk ke dalam kebudayaan atau “in” & culture”, hakekatnya adalah berusaha untuk menumbuhkan inklusivitas, yakni melibatkan semua tipe kebudayaan atau masyarakatnya,” jelasnya.

Salah satu contoh dari inkulturasi yaitu perayaan selamatan di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Yogyakarta. Di sana setiap tahun acara selamatan merupakan bagian dari kearifan lokal dan dihadiri oleh umat dari agama apapun

Baca juga:  Ikatan Sarjana Katolik Indonesia: Solidaritas Tanpa Sekat di Tengah Pandemi

Hal tersebut, menurutnya merupakan sebuah bentuk sikap inklusif yang baik untuk selalu dijaga serta lestarikan dalam rangka membangun kerukunan. “Proses inkulturasi atau menyesuaikan dengan nilai-nilai kearifan budaya lokal, merupakan peranan yang sangat menentukan dalam gerakan inklusivitas,” tuturnya.

Di sisi lain, Sumandiyo menjelaskan secara empiris seni budaya dan agama memiliki hubungan yang erat. Pasalnya, kedua hal tersebut sama-sama memiliki unsur yang sama, ritual dan emosional. “Ritual keagamaan merupakan transformasi simbolis dan ungkapan perasaan dari pengalaman manusia. Dan hasil akhir dari artikulasi yang sedemikian itu, merupakan emosi yang spontan dan kompleks,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here