Ikatan Sarjana Katolik Indonesia: Solidaritas Tanpa Sekat di Tengah Pandemi

0
Solidaritas
Foto-foto: istimewa

Jakarta – Sosiolog dan dosen Fakultas Sospol Universitas Indonesia, Dr. Imam B. Prasodjo menjelaskan bahwa kemajemukan yang ada di Indonesia adalah anugerah dari Tuhan yang perlu dilestarikan.

“Jika semua anugerah Sang Pencipta ini tidak dirawat dan dilestarikan, maka bisa mendatangkan kehancuran di negara kita. Patutlah kita bersyukur kepada Tuhan Sang Pencipta atas semua anugerah ini, dan juga patutlah kita berterima kepada kedua proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta yang telah meletakan dasar berdirinya NKRI tercinta ini,” kata Imam dalam Forum Diskusi Ikatan Sarjana Katolik Indonesia, yang disiarkan melalui kanal Youtube ISKA Channel, Jumat 25/6/2021).

Selain Imam, hadir pendiri dan pegiat rganisasi nirlaba FoodCycle Indonesia Astrid Paramita dan DPP ISKA, Hermien Y Kleden sebagai moderator.

Baca juga:  SMRC: Mayoritas yang Tidak Setuju Pembubaran FPI dan HTI Berasal dari PAN, PKS, PPP

Menurut Imam, Indonesia dibangun berdasarkan kesamaan cita-cita, bukan dengan ikatan yang bersifat primordialisme. Hal tersebut tercermin dari pembukaan UUD 1945 alenia ketiga.

“Cita-cita luhur ini dirumuskan dalam kalimat bahwa pembentukan suatu Pemerintah Negara Indonesia adalah merealisasikan cita-cita kehidupan bersama, yakni ‘melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial’,” paparnya.

Imam mengatakan, dalam hidup berbangsa dan bernegara, setiap warga Indonesia dijamin kebebasannya sekaligus berkedudukan yang sama, seperti tertuang dalam Pasal 28 ayat 1 UUD 1945 dan Pasal 27 ayat 1 UUD 1945 (amandemen IV).

Baca juga:  Kenapa Agama yang Lahir Dari Ibrahim Memiliki Bahasa Berbeda? Mau Tahu?

“Solidaritas tanpa sekat di tengah pandemi merupakan sebuah solidaritas yang mampu menembus semua batas dan perbedaan budaya, agama, lapisan masyarakat, suku dan ras.”

Imam mengajak masyarakat untuk lebih memaknai nilai (arti) dari Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, Bhinneka Tungga Ika bukan sekadar keragaman, melainkan terdapat keterlibatan secara batin dalam keragaman itu. Maka itu terbentuk hubungan inter dan intra komunitas yang dinamis.

Bhinneka Tunggal Ika juga bukan sekedar toleransi melainkan merupakan upaya dalam memahami perbedaan antar berbagai kelompok.

Katanya lagi, Bhinneka Tunggal Ika berbasis pada dialog. Dialog yang dimaksud adalah sebuah proses menghasilkan pemahaman bersama dari sebuah kesamaan maupun perbedaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here