Kebanggaan Pdt Binsar Pakpahan Menjadi Anak Tokoh Buruh Alm. Prof Muchtar Pakpahan

0
Binsar Pakpahan
Pdt Binsar Pakpahan. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Minggu (21/3/2021) Tokoh buruh Prof Muchtar Pakpahan dipanggil ke pangkuan Bapa karena sakit yang ia derita. Kepergiannya ini membawa duka bagi keluarga maupun orang-orang yang mengenal almarhum.

Dalam sebuah tulisan yang ditulis oleh anak alm. Prof Muchtar, Pdt. Binsar Jonathan Pakpahan terungkap kebanggaan dirinya atas sosok ayahnya tersebut.

“Air mata saya masih mengalir ketika hendak menulis refleksi ini. Saya sadar bahwa duka yang saya rasakan akan kepergian ayah yang sangat saya kasihi juga bercampur haru melihat begitu banyaknya orang yang masih mengingat jasa dan perjuangannya terhadap kaum buruh Indonesia dan dunia,” ungkapnya dalam tulisan berjudul “Bangga Menjadi Anak Tokoh Buruh Prof. Dr. Muchtar Pakpahan (1)” yang dikirimkan Sekjen GAMKI Sahat Sinurat melalui WhatsApp, Selasa (23/3/2021).

Pdt. Binsar mengungkapkan salah satu kesedihan ayahnya sebelum berpulang adalah tentang UU Cipta Kerja yang mungkin akan menambah buruk nasib para buruh.

“Ketika saya mendapat kesempatan bicara berdua minggu lalu, 14 Maret, 2021, beliau mengucapkan bahwa satu hal yang masih disesalinya adalah nasib buruh yang mungkin akan bertambah buruk dengan UU Cipta Kerja. Hal ini ternyata menambah kesusahan hatinya, karena dia merasa tidak berhasil dalam memperjuangkan nasib buruh yang dibelanya. Saya sendiri berefleksi, apakah beban pikiran ini juga yang kembali membuatnya kembali sakit, cancernya yang sampai Januari 2020 dinyatakan bersih, ternyata relapse,” tuturnya.

Ketika masuk di STT Jakarta (saat ini STFT Jakarta), Pdt. Binsar ingat betul nama ayahnya sampai muncul di pertanyaan ujian masuk STT Jakarta bagian pengetahuan umum. Ia pun semakin sadar ketika itu bahwa ayahnya memang seorang tokoh yang disegani.

“Waktu masa ospek mahasiswa baru saya sering mendengar kakak kelas mengatakan, ‘Mana anak Muchtar Pakpahan itu?’ lalu memberi tugas yang tidak masuk akal ke saya, seperti merayu pohon (waktu itu, memang pola ospek masih seperti itu). Saya pikir, “it’s going to be a long period…,” ungkapnya.

Di sisi lain, Pdt. Binsar juga teringat pertama kali ia turun ke jalan untuk ikut demo menuntut reformasi. Ia merasa ‘jiwa’ ayahnya juga ada di dalam dirinya sehingga ia terpanggil untuk ikut turun ke jalan saat itu meskipun ibunya sering melarang.

Baca juga:  Paus Fransiskus, Penculikan Siswi di Nigeria Merupakan Tindakan Keji

“Mahasiswa STT Jakarta masuk dalam gerakan Forum Kota, yang salah satu simpul nasionalnya adalah bang Adian Napitupulu. Sebagai mahasiswa teologi, kami kerap kali berada di barisan depan demonstrasi, bersama dengan teman-teman mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN). Mungkin, kami diminta untuk menjadi barisan pendoa. Tapi, pendoa barisan Forkot ini cukup frontal juga, karena ada di depan, setahu saya pendoa harusnya di belakang. Saya langsung ikut berbagai demonstrasi 1998. Sebagai barisan depan, kami berhadapan langsung dengan macam-macam blokade demonstrasi, mulai dari tameng polisi sampai pasukan kuda. Biasanya kalau sudah begini, kami berdoa di depan mereka, agak demonstratrif juga, namanya juga jurusan rohani,” katanya.

Ketika demo, Pdt. Binsar sering membawa mobil ayahnya Daihatsu Zebra merah untuk membawa logistik demo. Alm. Muchtar kala itu setuju saja anaknya ikut demo karena idealisme perlu mendapatkan dukungan penuh. Sekalipun nyawanya hampir terancam ketika tragedi Semanggi November 1998.

“Kami melakukan aksi di atas jembatan pejompongan menuju gedung MPR/DPR. Jalan diblokade, dan mobil saya diparkir persis di atas jembatan, parkir bersama mobil logistik lainnya. Saya sendiri seperti biasa posisi mahasiswa STT, pergi ke garis depan. Di sana kami menemui barikade tameng dan kuda polisi. Barisan mahasiswa STT tidak terlalu provokatif, maklum kami anak yang berlaku teologis (apapun artinya itu), dan sering mengajak polisi berbicara. Namun, situasi yang tadinya kondusif berbalik menjadi chaos. Perintah pembubaran memukul mundur mahasiswa, saya lari namun merasakan juga beberapa kali pentungan di punggung saya karena kami paling dekat dengan barisan terdepan polisi. Mobil saya tinggalkan, yang penting selamat dulu. Kami lari ke gang-gang yang ada di daerah Pejompongan, dengan mengoleskan odol di bawah mata untuk mengurangi efek gas air mata,” urainya.

“Ternyata peristiwa tersebut masuk TV nasional. Mama saya menyaksikan mobil ayah terkena pentungan dan kondisi kaca pecah justru dari televisi. Saya bertelepon ke rumah dengan rasa gentar bukan karena baru kena pukul pentungan, namun untuk memberi kabar bahwa saya kehilangan mobil selagi demo. Mama dan ayah mengatakan bahwa mereka justru tahu mobil ada di mana. Asisten ayah saya pergi menjemput mobil ke kantor polisi yang sudah dalam kondisi kaca pecah. Di luar dugaan saya, Mama dan Ayah justru mengkhawatirkan saya, ‘Bagaimana kabarmu amang?’,” tambah Pdt. Binsar.

Baca juga:  MUKI DPW DKI Jakarta Eduard Carles Sianturi: Mendukung Kebijakan PPKM

Esoknya, Pdt. Binsar berencana ingin kembali ikut demo. Ia pun minta izin kepada kedua orang tuanya. “Saya minta izin lagi ke ayah dan mama. Di sinilah saya merasakan jiwa perjuangan ayah. Ayah berkata ke mama, ‘Jangan larang lagi dia ma, nanti kalau dilarang justru terjadi apa-apa, bilang saja hati-hati ya, dan doakan keselamatannya. Perjuangan mahasiswa ini penting.’,” kenangnya.

Dari sosok sang ayah, kata Pdt. Binsar dirinya benar-benar belajar mengenai berani memperjuangkan apa yang benar apapun risikonya. Sedangkan ibunya, selalu mengajarkan untuk berdoa. “Waktu mereka berdua anggota GMKI Medan, mereka ada dalam dua golongan yang berbeda, ayah di golongan aksi dan mama di golongan doa. Dua golongan ini menghasilkan kami anak-anak mereka,” jelasnya.

Pdt. Binsar mengungkapkan sosok ayah dan ibunya juga selalu mengajarkan dirinya peduli kepada rakyat kecil.

“Waktu saya umur 3 atau 4, saya ingat samar-samar yang dipertegas oleh foto-foto lama keluarga di mana kami ikut dibawa ke kampung-kampung (bahkan ada satu foto saya sepertinya takut akan babi), bahwa ayah selalu bilang ketika kami pergi mengunjungi daerah yang dia berikan advokasi dan mengatakan, ‘Kita harus peduli kepada mereka yang menerima ketidakadilan, karena itu tugas kita dari Tuhan, kita juga adalah rakyat, sesama rakyat harus saling membela.’ Ucapan ini dipegangnya, dan diperjuangkannya dengan risiko maut sekali pun. Karena itu, ketika saya pergi demonstrasi sebagai mahasiswa tingkat 1, dengan risiko tinggi, dia tetap melepas kepergian saya,” ungkap Pdt. Binsar.

Di akhir suratnya, Pdt. Binsar mengatakan pernah melihat sendiri bagaimana nyawa ayahnya sampai terancam karena perjuangannya. Namun, ayahnya tetap gentar. “Kejadian ini seperti film intelijen ala James Bond yang akan saya tulis di catatan berikutnya,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here