Kehidupan Bergereja Bergeser dalam Kebiasaan Baru

0

Pandemi Covid-19 memaksa berbagai kegiatan gereja-gereja di Indonesia digelar online, termasuk ibadah. Awalnya, harus diakui terjadi kepanikan untuk menyesuaikan dengan keadaan yang tidak mudah. Apalagi, tidak semua gereja memiliki peralatan untuk streaming, untuk video atau kesiapan menggelar ibadah online.

Dengan berbagai kegiatan gereja, termasuk ibadah digelar secara online, tentu berpengaruh dalam keuangan gereja. “Kebanyakan pengembalaan gereja pantekosta,keuangannya diatur gembala dan ibu gembala dari A sampai Z. Kalaupun ada yang lain, khususnya gereja-gereja yang sudah mempunyai management yang sudah punya The International Organization for Standardization (ISO) artinya managemen yang transparent, akuntabel,”kata Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman.

Saat shoting video untuk Vifa Media.

Tambahnya, gereja-gereja sudah menemukan format yang tepat setelah gereja-gereja beradaptasi dengan keadaan selama bulan April sampai Maret, termasuk soal pendapatan keuangan gereja dan pengelolaan kegiatan-kegiatan yang ada, semuanya berubah. “Kegiatan berubah, dan persembahan jemaatpun berubah, termasuk persembahan perpuluhan, janji iman dan lain-lain. Memasuki masa tiga bulan kedua ini saya percaya gereja mulai terbiasa dan sudah memulai mencari bentuk demi masa depan,”tuturnya.

Lebih jauh, Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, perubahan itu juga akan terjadi dalam jemaat, seperti gereja – gereja yang memuridkan maka tidak akan terpengaruh dengan keadaan yang ada, termasuk tidak akan pindah gereja. Apalagi kalau lahir dan bertobat dari gereja tersebut, menikah di gereja tersebut. “Gereja-gereja yang mampu memuridkan akan mampu bertahan dalam kondisi apapun, termasuk di masa pandemic Covid-19. Sedangkan gereja-gereja yang disebut “mega church”yang sewa di mall-mall akan berubah. Mereka akan mengakhiri sewanya dan akan mencari tempat yang bisa terjangkau. Tetapi saya percaya gereja Tuhan tidak akan mati. Dia akan bertahan, mungkin bentuknya saja yang akan berubah, bahkan akan muncul gereja-gereja online(virtual church) dan system keuangannya pun akan berbeda,”paparnya.

Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman bersama team Vifa Media.

Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, mengemukakan alasan gereja atau pengembalaan tidak akan mati, bertolak dari fakta yang ada di mana semuanya berdasarkan online. Ada atau tidak gedung gereja tidak akan menjadi yang utama sekarang ini seperti masa sebelum Covid-19. Sebab kalaupun diberikan kelonggaran maka yang diizinkan untuk ikut beribadah offline itu hanya 50 persen dari jumlah kursi yang disediakan. Begitupun yang online, tidak semua akan mengikuti ibadah, karena jemaat yang golongan ekonomi menengah ke atas tentu bisa mengikuti karena ada perangkat yang mendukung dan ada paket internet tetapi jemaat yang tidak mampu, tentu tidak bisa mengikuti ibadah online. “Ketika saya check di jemaat, jemaat terbagi dua golongan besar ketika kita akan memulai ibadah tatap muka lagi (offline). Pertama, golongan yang antusias untuk datang ke gereja dan harus diperhadapkan dengan aturan social distancing, dan dibatasi fellowship satu dengan yang lain. Kedua, golongan jemaat yang suka beribadah dengan sistem online. Alasannya, untuk datang ke gereja memiliki berbagai persyaratannya yang tertuang dalam protokol Kesehatan, termasuk yang sakit dan yang sudah usia lanjut serta anak kecil tidak boleh mengikuti ibadah offline. Belum lagi untuk naik kendaraan umum, ada berbagai peraturan, setelah di tempat ibadah duduk harus berjauhan dan hanya boleh satu jam ibadah. Padahal dari rumah ke tempat ibadah saja lebih dari satu jam,”terang Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman.

BACA JUGA  GAMKI Ajak Generasi Muda Gunakan Hak Pilih Dan Menolak Politik Uang
https://www.youtube.com/watch?v=AGFLojJUVNUhttps://www.youtube.com/watch?v=AGFLojJUVNU

Masih kata Pdt. Dr. Mulyadi menirukan pembicaraan jemaat, padahal dating beribadah ofline di gereja itu salah satu yang dibutuhkan adalah fellowship bersama-sama anak-anak Tuhan lainnya . “Itu tidak akan terjadi, aturan yang ada tidak boleh kumpul untuk ngobrol mesti langsung pulang, ya buat apa beribadah online di gereja, tauan ikut online saja,”paparnya.

BACA JUGA  Ikuti Doa “Trumpet Call America” Tema “DESTINY”, Pada 31 Oktober Bersama Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo

Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman menegaskan umat Tuhan harus dapat beradaptasi dengan yang namanya era new normal atau kebiasaan baru, termasuk teknis beribadah dan mengatur keuangan gereja. (Vifa5/Vifa6)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here