Kepedulian GKJW Terhadap Pekerja Migran

0
Pekerja migran
Pekerja migran. (Foto: Istimewa)

Jawa Timur – Menjadi pekerja migran memiliki tantangan tersendiri, kadang berbagai diskriminasi harus diterima para pekerja. Berangkat dari hal tersebut, Sinode Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) mengadakan seminar “Pelayanan Gereja Bagi Pekerja Migran GKJW”, Senin (1/3/2021). 

Seminar hasil kerjasama Bidang Teologi dan Bidang Kesaksian & Pelayanan GKJW bersama United Evangelical Mission (UEM) ini bertujuan ingin mendengarkan kondisi para pekerja migran yang bekerja di Hongkong. 

“Banyak jemaat GKJW yang bekerja di luar negeri. Harus kita akui (mereka) sering mengalami masalah yang kompleks. GKJW sebenarnya sudah memikirkan dan berusaha ikut dalam proses pendampingan saudara di luar negeri. Sidang Majelis Agung tahun 2020 memutuskan bahwa perlunya pengembalaan secara rohani maupun hukum untuk saudara yang menjadi pekerja migran,” ungkap Wasekum GKJW Pdt. Natael Hermawan Prianto dalam sambutan. 

Menurutnya hasil dari seminar ini akan dikaji oleh Sinode untuk diwujudkan dalam program strategis atau sinergis. 

Ketua Indonesia Migrant Workers Union dan Koordinator JBMI, Sring memaparkan data per bulan Februari 2020 buruh migran yang berasal dari Indonesia dan bekerja di Hongkong sebanyak 157.805 orang. “Mayoritas mereka menjadi PRT yang melayani 35.000 keluarga di Hongkong. Dari sebuah penelitian, PRT di Hongkong memberikan kontribusi sebesar 98,9 miliar untuk ekonomi Hongkong (2018),” katanya. 

Sring mengatakan para pekerja migran di Hongkong dilindungi oleh UU Perburuhan, memiliki kontrak kerja yang jelas dan mendapatkan bantuan hukum bila sewaktu-waktu ada perselisihan terkait hukum. 

Baca juga:  AVENT CHRISTIE, MANTAN AKTOR LAGA YANG SEKARANG DIPAKAI TUHAN LUAR BIASA UNTUK MELAYANI

Namun faktanya  di lapangan banyak pekerja migran yang bekerja secara full melebihi jam kerja yang ada. “Tidak dilindungi aturan upah minimun dan gaji yang ditetapkan oleh departemen tenaga kerja. Tidak ada standar jam kerja/istirahat,” ungkapnya. 

Sring membeberkan beberapa permasalahan lainnya yang sering dialami para pekerja migran di Hongkong. Misalnya dari sisi majikan banyak pekerja migran yang tidak diberikan tempat tidur yang layak dan sering mendapatkan makanan yang tidak layak konsumsi. 

“Berdasarkan survei, 43% tidak punya kamar sendiri, 57% punya kamar sendri. (Tapi) Rata-rata yang 57% ini tempat tidurnya (kamar) sebagai tempat jemur baju, tempat setrika, gudang, dan sebagainya. Maka bisa dibayangkan yang tidak punya kamar ini bagaimana,” tuturnya. 

Lebih jauh, soal toilet juga menjadi masalah bagi para pekerja migran. Sebanyak 14% rumah tidak memiliki akses toilet langsung, 67% rumah memiliki toilet sendiri. “Ada buruh migran yang diminta majikannya mandi di luar rumah, atau ada yang dibatasi per hari hanya boleh berapa kali memakai toilet,” paparnya. 

Sementara dari sisi lain, banyak pekerja migran yang “dipaksa” berhutang oleh perusahaan (agen) yang mengirim, penahanan paspor dan kontrak kerja oleh agen (biasanya untuk para pekerja migran pendatang baru).  

Baca juga:  Menag Yaqut Cholil, Mengutip Matius 22 : 27 – 40 di Pemaparan Materi Sidang MPL-PGI

“Bahkan ada kasus PRT migran memberikan laporan ke imigrasi bahwa jam kerjanya jam 5 pagi – 11 malam. Tapi imigrasi tidak menganggap pelanggaran karena yang dianggap pelanggaran bila bekerja di luar kontrak kerja,” jelasnya. 

Sring mengungkapkan data dari konsultan tahun 2020 bahwa sebanyak 114 PRT yang berasal dari Indonesia dan Filipina meninggal dunia. Biasanya disebabkan masalah kesehatan dan kecelakaan kerja. “Di masa pandemi ini kesehatan mereka sering terganggu karena majikannya ada di rumah terus sehingga mereka (PRT) bekerja ekstra setiap hari,” kata Sring. 

Sementara itu Ketua Oikumene Hongkong, Romo Heri Ha, SVD mengajak gereja di Indonesia untuk ikut mendampingi para jemaat yang menjadi pekerja migran. Pendampingan bisa dilakukan sebelum jemaat berangkat maupun ketika jemaat sudah selesai bekerja (kontrak) di Hongkong. 

Lebih jauh, Romo Heri meminta gereja bisa membangun komunikasi atau kerjasama dengan pemerintah maupun NGO untuk kesejahteraan para pekerja migran. “Libatkan pekerja migran dalam karya gereja dan buat ibadah/liturgi ‘rasa’ migran lewat doa-doa yang dipanjatkan,” pintanya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here