Pdt. Peter Julius Wowor : Pendeta dan Gembala Jemaat Jangan Henti-hentinya Belajar Teologia

0

Keinginan menjadi seorang hamba Tuhan (baca : pendeta) tentu sangatlah baik. Tetapi untuk menjadi seorang hamba Tuhan, tidaklah mudah seperti membangun cita-cita pada umumnya, diantaranya, menjadi sarjana ekonomi, sarjana tehnik, sarjana politik dan komunikasi, atau menjadi dokter.

Untuk menjadi sarjana ekonomi, sarjana tehnik, sarjana politik dan komunikasi atau dokter, dibutuhkan modal diawal, kemauan, kepintaran dan keuangan. Kalau sudah memiliki modal itu, besar kemungkinan titel sarjana sudah dapat digenggam. Ini tinggal butuh waktu yang namanya kuliah.

Tetapi untuk menjadi seorang hamba Tuhan (baca : pendeta), bermodalkan kemauan, kepintaran dan keuangan,tidak akan cukup untuk memastikan sudah didalam genggaman yang namanya hamba Tuhan. Sebab, selain diperlukan modal di atas juga diperlukan yang namanya panggilan. Apakah seseorang yang berkeinginan menjadi hamba Tuhan, juga dipanggil oleh Tuhan untuk melayani umatNya atau tidak!.

Pria berdarah Sulawesi Utara dengan nama lengkap Peter Julius, menceriterakan perjalanan hidupnya sampai menjadi seorang pendeta.

Peter Julius lahir di tengah-tengah keluarga Kristen, dimana ayahnya yang begitu taat kepada Tuhan. Hasil dari ketaatan ayahnya, kepada Tuhan, Peter Julia yang saat itu masih kecil, sering mendengar rekan-rekan ayahnya memanggil ayahnya pendeta, padahal ayahnya bukan seorang pendeta, melainkan seorang yang memiliki profesi sebagai kepala Mesin kapal milik Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) 

Sang ayah, menurut pria kelahiran Surabaya, 5 Juli 1962, banyak membimbing rekan-rekannya untuk hidup di jalan yang benar. Bahkan tidak sedikit rekan-rekan ayahnya menjadi percaya dan mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat.

Keteladanan dan ketaatan sang ayah kepada Tuhan Yesus Kristus, ternyata “membekas” dalam kehidupan Peter Julius, dan melahirkan sebuah cita-citanya untuk menempuh pendidikan teologia.

Anak bungsu dari 5 bersaudara ini mengungkapkan rasa syukurnya berada di tengah-tengah orangtua yang taat akan Tuhan dan diberkati Tuhan secara ekonomi.

Peter Julius mengaku menempuh pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas berjalan seperti biasa karena orangtuanya diberkati.

Selesai menamatkan pendidikan menengah atas, Peter Julius, begitu berkeinginan untuk mewujudkan cita-citanya sejak kecil yaitu ingin kuliah jurusan teologia. Ditambah juga sebelum menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, ia seperti mendapat panggilan dari Tuhan.

Panggilan yang dimaksud oleh Peter Julius, saat duduk dibangku pendidikan sekolah menengah atas, Tuhan mengijinkannya untuk mengalami sakitt. Saat itu ia berdoa meminta kesembuhan dari Tuhan, puji Tuhan kesembuhan diperolehnya.

Menerima mujizat kesembuhan itu, Peter Julius berjanji (bernazar) lulus sekolah menengah atas akan melanjutkan sekolah teologia. “Saya mengadap ke guru agama dan mengungkapkan keinginan untuk sekolah teologi, mau jadi pendeta,”.

BACA JUGA  Perjalanan Pdt. Yusak Itong Surjana Terpapar Covid-19

Mendengar yang disampaikan Pieter Julius, gurunya sempat terheran. Pasalnya waktu Peter Julius menyampaikan saat itu belum ada hasil lulus atau tidak. “Saya yakin lulus. Jadi saya berani katakan saya mau lanjutkan dalam pendidikan teologia,”kata pria lulusan Sekolah Menengah Atas Kristen Pringadi Surabaya, tahun 1982

Terperosok Dalam Kehidupan Malam

Keinginan Peter Julius akhirnya terwujud dengan menempuh pendidikan teologia di Universitas Kristen Satyawacana. Saat berada di akhir semester, tiba-tiba orangtuanya jatuh sakit dan mempengaruhi kehidupan ekonomi keluarga, termasuk mempengaruhi perjalanan kuliahnya.

Situasi itu membuat Peter Julius tertekan meninggalkan kampus dan kembali ke kota kelahirannya, Surabaya. Saat berada di kota Surabaya ia berusaha mengibur diri dengan mendatangi diskotik-diskotik atau hiburan malam.  Ironisnya, ia masih aktif bersama teman-temannya terlibat dalam pelayanan  di  gereja. “Saya pagi aktif di gereja dengan komunitas pelayanan ‘Cerio’, dan setelah malam tiba saya aktif di dunia malam,”katanya. Tuhan mengasihi Peter Julius, buktinya, pada tahun 1991 dapat menikahi sang kekasih bernama Deasy Tilly, warga Jakarta.

Pernikahannya membuat ia keluar dari jeratan dunia malam. Tetapi tidak mengilangkan kepercayaan dirinya tentang memahami alkitab—karena pernah menempuh pendidikan teologia sampai semester akhir. “Bicara alkitab, isinya sudah saya tahu,”ceriteranya mengulang perjalanan hidupnya di tahun 1990 an. Pada saat itu, Peter Julius dengan pemahaman teologianya sangat menentang perjalanan liturgy ibadah dengan menggunakan alat musik. Tak pelak melahirkan pertentangan antara dirinya dan istrinya.

Di tengah kebanggaanya pernah duduk di bangku kuliah teologia, kenyataannya, Piter Julius, tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahliannya yaitu teologia. Sebaliknya, pekerjaan yang harus dilakoni, menjadi seorang security di sebuah rumah makan cepat saji di daerah Melawai,Jakarta selama 9 (sembilan) tahun (1991 – 1999). 

Selama 9 tahun bekerja, diakuinya harus seperti bermain petak-umpet bila melihat ada temannya yang datang ke restoran tempatnya bekerja. Itu dilakukannya karena malu. Tapi sepintar-pintarnya bersembunyi, tetap ketahuan juga.

Saat itu, tanpa disengaja, Peter Julius bertemu dengan temannya semasa kuliah di Universitas Satyawacana Salatiga. Saat itu temannya melempar pertanyaan yang menohok,”Kamu kerja di sini?” Jawab Peter Julius, tanpa bisa mengelak, “Ia sebagai security,”

Dari pertemuan itu, temannya mendorongnya untuk menyelesaikan kuliahnya. Apa yang dikatakan temannya it uterus mengiang di kepalanya, dan sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyelesaikan kuliahnya.

BACA JUGA  Rahasia dari Direktur PT. Sumber Mitra Gasutri Dalam Mengukir Prestasi dan Meraih Keberhasilan

Selesai menamatkan kulianya, dengan gelar sarjana teologia, Peter Julius, kembali ke Jakarta, membantu istrinya yang sedang ada usaha menjual kue di depan salah satu gereja besar di Jakarta.

Kekerasan Hati

Istri dan anak-anakinya bersaman dengan menjalankan usaha jualan kue, aktif juga mengikuti berbagai kegiatan yang ada di Gereja, termasuk kegiatan doa.

Sedangkan, Peter Julius, tetap mengeraskan hati, tidak terlibat apapun di gereja tersebut. Tetapi Tuhan tidak kekurangan cara untuk memanggil seseorang yang sudah ditentukan untuk melayani umatNya.

Pad atahun 1993, Peter Julius, sedang menjaga usaha penjualan kue di gereja, mendengar firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba Tuhan dari dalam gereja. Saat itu tidak disadarinya, seperti di suruh untuk masuk mengikuti ibadah dalam gereja.

Pengakuannya, saat itu ia merasa Tuhan sedang berbicara kepadanya melalui pendeta tersebut dan membuka bahwa pandangan teologinya yang selama ini dianggapnya benar, ternyata salah.

Mengetahui pandangan teologianya salah, ia tersungkur di kaki Tuhan. “Saya sadar. Saya aktif bergereja di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Jati Bening, yang saat itu digembalakan Pdt. Rony Soedjak. Saya mendapatkan bimbingan dari gembala,”tuturnya.

Peter Julius, meminta ampun pada Tuhan dan Tuhan tidak hanya memberikannya pengampunan tetapi juga mendapatkan sesuatu dari Tuhan, yaitu melihat anaknya akan semakin naik dan diberkati Tuhan.

Sebagai informasi saja, kata Peter Julius, anaknya yang bernama Jhonny Arie Wowor saat ini Tuhan sudah tolong mendapatkan pekerjaan sambil menuntut ilmu S2 jurusan bisnis Retail Fashion di Italia. “Saya berterima kasih kepada Tuhan. Ketika saya bertobat, bukan hanya saya ditolong Tuhan tetapi seisi keluarga saya,”tegasnya.

Melayani Tuhan

Seiring berjalannya waktu, Peter Julius dituntun Tuhan masuk dalam dunia pelayanan, khususnya pengajaran.

Itu sebabnya sampai saat ini, Peter Julius terus belajar, sedang mengikuti pendidikan untuk S3 yang akan selesai pada Juni 2020.

Peter Wowor bersama istri dan anak.

Diakhir perbincangan, Peter mengemukakan menjadi seorang pendeta memiliki tugas untuk mengajar, membimbing dan memberitahu umat akan kebenaran Firman Tuhan. “Pendeta dan gembala harus diperlengkapi dengan yang namanya teologi. Untuk itu kita harus terus belajar sehingga mempunyai pandangan teologi yang benar,”terangnya dan mendorong para pendeta atau gembala jemaat untuk terus sekolah teologia untuk supaya dapat mengajar dan membimbing jemaat masuk dalam kebenaran yang hakiki. (Vifa 6)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here