Ketika Bencana Menimpa Sesama Kita (Sebuah Perenungan di Awal 2021)

0
Penulis : Pdt. Dr. S. Tandiassa

Yogyakarta – Indonesia berduka dan kita semua juga turut berduka. Tanggal 9 Januari 2021, Pesawat Sriwijaya Air dengan tujuan Jakarta – Pontianak jatuh di wilayah kepulauan seribu 4 menit setelah tinggal landas dari Bandara Cengkareng. 

Semua penumpang termasuk awak pesawat yang berjumlah 62 orang dinyatakan tidak ada yang selamat. Rasa duka kita (anak sebangsa) ini disertai rasa prihatin yang medalam, karena musibah Sriwijayan Air yang menelan nyawa seluruh penumpangnya, terjadi di tenga-tengah meningkatnya keganasan virus Corona yang juga masih terus memakan korban tanpa pandang buluh.

Peristiwa kecelakaan Sriwijaya Air tersebut mengingatkan kita pada beberapa peristiwa kelakaan pesawat sebelumnya, yang juga menewaskan seluruh penumpangnya. Tahun 2007, tepatnya tanggal 1 Januari, pesawat Adam Air dengan tujuan Jakarta – Surabaya – Manado jatuh di perairan laut Majene, Sulawesi Selatan. 

Lokasi jatuhnya pesawat itu diketahui setelah seorang nelayan di daerah itu menemukan puing potongan bagian sayap pesawat.  Seluruh penumpangnya dinyatakan tewas, bahkan tidak ada satupun jenasa korban yang ditemukan.  Menurut Informasi, sebagaian besar penumpang Adam Air tersebut adalah hamba Tuhan atau pendeta bersama keluargannya yang mudik ke Sulut untuk merayakan Natal dan Tahun Baru.  

Sebelumnya, 6 tahun lalu, pesawat AirAsia QZ8501 tipe Airbus A320-200 juga jatuh di wilayah perairan selat Karimata sesaat setelah lepas landas pada 28 Desember 2014. Tidak ada korban yang selamat dalam kecelakaan tersebut. AirAsia tersebut membawa 162 orang dari Surabaya ke Singapura. Pesawat dilaporkan hilang kontak setelah kurang lebih 40 menit lepas landas dari bandara Juanda. 

Selama 10 tahun terakhir, tepatnya 2011 – 2021, terjadi paling sedikit 7 kali peristiwa kecelaan pesawat, termasuk Sriwijaya Air, yang menewaskan seluruh penumpangnya. 6 peristiwa kecelakaan sebelumnya adalah: 

1. Merpati Nusantara – 2011

Merpati Nusantara 8968 yang membawa 25 penumpang jatuh dekat Bandar Udara Utarom, Kabupaten Kaimana, 7 Mei 2011. Seluruh penumpang tewas. Saat hendak mendarat, pesawat tersebut mengalami kecelakaan.

2. Nusantara Buana – 2011

Pesawat Nusantara Buana 823 jurusan Medan ke Kutacane jatuh pada pukul 07.41 WIB, 29 September 2011. Pesawat diduga kehilangan keseimbangan dan kemudian jatuh ke gunung akibat cuaca buruk. Seluruh penumpang, 18 orang, meninggal dalam kecelakaan tersebut. Lokasi kecelakaan membuat korban sulit dievakuasi.

3. Sukhoi Superjet –  2012

Sukhoi Superjet 100, penerbangan demo yang awalnya ingin menujukkan kehebatan pesawat Sukhoi, diwartakan. Pada 9 Mei 2012, Sukhoi terbang dengan membawa 45 orang di dalam pesawat tersebut termasuk 14 penumpang dari maskapai penerbangan Sky Aviation, dan tiga jurnalis Indonesia. 

4. AirAsia  – 2014

Pesawat tipe Airbus A320-200, yang membawa 162 Penumpang dari Surabaya ke Singapure, jatuh di wilayah perairan selat Karimata sesaat setelah lepas landas pada 28 Desember 2014. Tidak ada korban selamat dalam kecelakaan tersebut. 

5. Trigana Air – 2015

Trigana Air (IL 267/TGN 267) menabrak Gunung Tangok dalam rute dari Jayapura ke Oksibil pada 16 Agustus 2015. Jumlah korban tewas mencapai 54 orang. Pesawat dijadwalkan akan mendarat pada pukul 14.16 waktu setempat. Setelah 1 jam waktu yang ditentukan, pesawat tak juga mendarat setelah sempat kehilangan kontak dengan kontrol lalu lintas udara pada pukul 14.55 waktu setempat.

6. Lion Air – 2018

Lion Air 610 terbang dari Jakarta menuju Pangkal Pinang, hilang kontak pada 29 Oktober 2018. Pesawat mengangkut 181 penumpang (178 dewasa dan 3 anak) serta 6 awak kabin dan 2 pilot. Seluruh korban tewas. Pesawat terbang ke arah barat sebelum berbelok ke timur laut, lalu jatuh di lepas pantai sekitar pukul 06.33 di sebelah timur laut Jakarta di perairan berkedalaman 35 meter di Tanjung Pakis, Karawang. Bangkai pesawat ditemukan di lepas pantai Laut Jawa.

Kita semua tentu berharap dan berdoa pada Allah Sang Penguasa alam raya, kiranya peristiwa-peristiwa kecelakaan seperti tersebut di atas dan musibah-musibah lainnya yang mengancam nyawa manusia, tidak terulang di masa-masa yang datang. Semoga Dia yang di atas mendengar doa dan harapan umat-Nya. 

BACA JUGA  Perkembangan Terkini Penanganan Covid-19 di Seminari Bethel Jakarta

Keajaiban – Keajaiban 

Yang menarik perhatian adalah, di dalam setiap peristiwa kecelakaan, baik yang tersebut di atas maupun peristiwa musibah-musibah lainnya, hampir selalu terdapat apa yang disebut KEAJAIBAN, yaitu kejadian-kejadian yang unik, atau pengalaman-pengalaman ajaib. Perhatikanlah cerita-cerita berikut ini. 

1. Terlambat Check In

Satu kelurga calon penumbang Air Asia Surabaya – Singapure terlambat bangun. Mereka bergegas ke bandara dan tiba di sana saat counter check in Air Asia telah ditutup 15 menit yang lalu. 

Keluarga ini marah karena AirAsia tidak memberi toleransi waktu, mereka juga menyesal mengapa terlambat bangun. Mereka kembali ke rumah dengan sangat sedih. Dan saat suami istri dan anak-anaknya tiba di rumah, tepat saat masuk ruang tamu mendengar berita dari tv bahwa pesawat AirAsia dengan tujuan Surabaya – Singapura, hilang kontak dan diperkirakan jatuh. Sontak keluarga ini berpelukan sambil menangis dan bersyukur karena mereka selamat.

2. Hasil Rapid Tes Kadaluarsa

Paulus Yulius Kollo dan Indra Wibowo, adalah penumpang Sriwijaya Air, transit dari Makassar – Pontianak, transit di Jakarta. Nama mereka ada dalam manifest pesawat dengan tanda blok kuning. 

Paulus menceritakan bahwa awalnya dirinya hendak berangkat dari Makassar menuju Pontianak. Lantaran tidak ada penerbangan secara langsung, mereka transit di Jakarta. Karena hanya menggunakan hasil rapid test biasa, mereka tidak diperkenankan untuk melanjutkan penerbangan ke Pontianak. Dengan sangat menyesal dan marah, mereka terpaksa naik kapal laut, dan terjadilah peristiwa Sriwijaya Air.

3. Jadwal Tugas Berubah

Seorang pramugari bernama Ananda Lestari terhindar tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, Sabtu (9/1/2021). Sesuai jadwal, pramugari ini seharusnya bertugas di pesawat tersebut, namun mendadak batal karena jadwalnya berubah. Jadwal penerbangan Ananda Lestari berubah rute dari Jakarta – Pontianak menjadi Jakarta – Makassar. 

4. Karena Pesan Ibu

Seorang mahasiswa asal Singkawang Agustiawan rencana pulang kampung untuk menjenguk ibunya yang sakit. Namun karena sang ibu memintanya untuk tetap di Yogyakarta demi fokus menghadapi ujian, maka Agustiawan pun batal pulang. Agustiawan mengatakan bahwa dirinya berencana berangkat dari Yogyakarta ke Jakarta, lalu berangkat ke Kalimantan Barat dengan pesawat Sriwijaya tersebut. 

5. Hasil Test PCR Lambat 

Satu keluarga yang terdiri dari Jojo, Dini, Nauryn dan Falle batal berangkat menggunakan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 karena hasil uji tes swab PCR yang lama keluar dari sebuah rumah sakit. Keluarga Jojo sudah booking tiket untuk penerbangan ke Pontianak setelah liburan dari Jakarta. Namun, hasil tes swab keluarnya lambat sehingga tiket yang sudah di booking hangus dan diganti penerbangan lain.

Rencana Allah, Human Error atau Kebetulan?

Setiap kali terjadi peristiwa kecekalaan yang memakan banyak korban jiwa, entah itu kecelakaan transportasi udara, laut, atau darat, ataupun bencana alam, selalu muncul berbagai macam interpretasi yang bernuansa religius dari masyarakat. Terutama dari kelompok atau orang-orang yang merasa memiliki hubungan khusus dengan sang pencipta – Tuhan. 

– Ada kelompok yang dengan yakin mengatakan bahwa mereka yang selamat dari musibah-musibah kecelakaan atau bencana alam, mendapat anugerah dari Allah Sang Pencipta. Kata mereka, Allahlah yang mengatur alasan-alasan khusus, atau menciptakan kondisi-kondisi tertentu yang membuat mereka tidak bisa ikut di dalam suatu perjalanan yang berakhir dengan kecelakaan, atau tidak hadir di suatu tempat sehingga seseorang bisa luput dari bahaya maut. 

Tetapi pertanyaannya adalah: Apakah Sang Pencipta – Allah yamg Rahmani dan Rahimi itu, memberi anugerah hanya kepada beberapa orang saja, dan tidak kepada sejumlah orang lainnya? Bukankah Allah itu adalah Allah yang mengasihi, murah hati, dan baik kepada semua manusia tanpa membedakan etnis, ras, bangsa, dan agama? 

Kitab suci mengatakan: “Allah sangat mengasihi isi dunia ini” – terutama manusia ciptaan-Nya. Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah kejadian-kejadian seperti ini bukan kebetulan-kebetulan? Kebetulan terlambat bangun sehingga terlambat ke bandara? Atau kebetulan masa berlaku rapid testnya sudah habis, sehingga tidak dibolehkan untuk naik pesawat? Atau kebetulan jadwal kerjanya berubah sehingga tidak naik ke pesawat jurusan ke kota A tetapi ke kota Z ? Kebetulan tidak berada di lokasi itu ketika terjadi bencana sehingga selamat? Dan seterunya….

BACA JUGA  Warga Israel Bisa Bepergian ke UEA

– Selanjutnya, ada kelompok yang meyakini bahwa Allah memiliki rencana yang indah untuk mereka yang menjadi korban di dalam musibah-musibah kecelakaan. Ungkapan: ‘Ada rencana Allah yang indah di balik musibah itu’ hampir selalu menjadi jawaban sebagian besar kaum religius. 

Muncul pertanyaan, apakah rencana Tuhan itu termasuk kecelakaan atau musibah? Di dalam mewujudkan rencana-Nya yang indah, apakah Tuhan harus menggunakan cara ‘mencelakakan’ manusia? Jika demikian, bukankah itu berarti Allah melakukan cara yang kejam untuk tujuan yang indah? Bukankah kitab suci mengatakan: “Rancangan Allah itu BUKAN KECELAKAAN, tetapi DAMAI SEJAHTERA?” 

– Di sisi lain ada kelompok yang mengatakan bahwa musibah-musibah itu adalah akibat dari human eror. Entah kesalahan pilot, kesalahan kapten kapal, kesalahan awak darat, kesalahan teknisi, dst. Prinsipnya, kata kelompok ini, kecelakaan-kecelakaan itu terjadi karena kesalahan dari orang atau kesalahan satu unit kerja orang.

Masalahnya adalah apakah kesalahan satu orang atau satu unit kerja orang itu harus ditanggung oleh sejumlah besar orang (penumpang atau masyarakat sekitar) yang tidak tahu apa-apa, istilahnya “yang tidak berdosa?”  Atau dengan pertanyaan yang lebih spesifik: “Apakah Tuhan Allah yang mahakuasa, mahaadil, mahakasih, mahamurah, dan mahapenyayang itu akan membiarkan kesalahan satu orang untuk mencelakakan sejumlah besar orang yang tidak bersalah, yang dengan tulus hati ikut dan hadir dalam perjalanan dan dalam kumpulan itu?” Kitab suci mengatakan: Kesalahan dan dosa orang tua tidak ditanggung anak, demikian pula sebaliknya. 

Misteri Tetap Misteri

Argumen-argumen yang berusaha menjelaskan tentang berbagai musibah yang terjadi di sekitar kita, bisa berkembang semakin banyak dan semakin meluas. Argumen-argumen tersebut bisa berdasarkan keyakinan-keyakinan religius, bisa bersifat ilmiah, bisa berdasarkan pengalaman-pengalaman empiris, atau berupa gagasan-gagasan yang ideal. 

Akan tetapi, penjelasan-penjelasan atau jawaban tersebut juga akan akan mengundang pertanyaan -pertanyaan yang panjang. Dengan kata lain, semakin banyak penjelasan, akan semakin banyak pula pertanyaan yang muncul. Di sisi lain, semakin banyak pertanyaan tentang masalah-masalah musibah kecelakaan, akan semakin banyak pula argumen teoritis yang dimunculkan. 

Akhirnya kita akan sampai pada sebuah kenyataan bahwa ada banyak pertanyaan sekitar masalah musibah kecelakaan yang tidak pernah mendapat jawaban, dan sebaliknya ada banyak jawaban atau penjelasan yang tidak pernah menjawab  pertanyaan, sehingga misteri di balik semua musibah, kecelakaan, dan bencana kemanusiaan akan tetap menjadi sebuah misteri – atau misteri tetap misteri.

Realita misteri tetap misteri ini kiranya mengajak setiap orang beriman untuk menyadari betapa terbatasnya pengetahuan manusia tentang Allah Sang Pencipta. Kebanyakan apa yang sering disebut orang sebagai ‘ilham dari Tuhan’ tidak lebih dari sekedar perkiraan-perkiraan spekulatif, atau perasaan-perasaan emosional belaka. Kitab suci mengatakan: “Pikiran-Ku bukan pikiranmu, dan jalan-Ku bukan jalanmu. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”. 

Realita keterbatasan pengetahuan manusia di satu sisi, dan sifat ketidak terbatasan Allah di sisi yang lain itu kiranya membuat Anda, kaum religius, para rohaniawan, atau Anda yang menyebut diri hamba Allah, untuk menahan diri dari bersikap seolah-olah mengetahui akan misteri Sang Ilahi memberi penilaian terhada setiap musibah dan bencana yang terjadi atau menimpa sesama. Selain itu kiranya fakta keterbatasan manusia dan ketidak terbatasan Sang Ilahi ini juga menyadarkan setiap orang beriman dan terutama para rohaniawan untuk tidak memposisikan diri sebagai Jurubicara Allah… Amin.

Pdt. Dr. S. Tandiassa. Penulis adalah seorang dosen Sekolah Tinggi teologia Intheos, Surakarta. Juga seorang penulis buku Teologi dan Populer, sudah 12 judul buku. Dan sebagai Ketua Majelis Daerah (MD) Gereja Pantekosta di Indonesia, Daerah Istimewa Jogjakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here