Ketum PGI: Perlunya Revitalisasi Gerakan Penginjilan

0
Penginjilan
Ilustrasi : Sudah 165 tahun Pekabaran Injil ada Tanah Papua

Papua – Setiap tanggal 5 Februari di Papua selalu diperingati sebagai hari masuknya Injil di Tanah Papua. Injil pertama kali masuk Papua melalui Pulau Mansinam, Teluk Doreh, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat pada tanggal 5 Februari 1855. Injil masuk melalui dua misionaris asal Jerman, yakni Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler. 

Ketua Umum PGI Pdt. Gomar Gultom mengatakan saat ini diperlukan revilitasi gerakan penginjilan khususnya di Tanah Papua. Menurutnya, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kualitas (warga) gereja bukan jumlah gereja. 

“Saya kurang setuju pendekatan pertumbuhan gereja diterapkan di Papua karena akan memecah belah Papua. Ini kritik saya kepada gereja-gereja yang masuk di tanah Papua dan melakukan hal itu,” tegas Pdt. Gomar dalam Webinar “Gereja-gereja Papua Menuju Oikumene” Selasa (2/2/2021). 

Selain Pdt. Gomar, turut hadir sebagai pembicara Ketum PGLII Pdt. Ronny Mandang, Keuskupan Jayapura Mgr. Dr. Leo Laba Ladjar, OFM (Keuskupan Jayapura), Ketua PGPI Pdt. Dr. Daniel Tumbel dan dari Universitas Papua (Unipa) Andreas Jefri Deda. 

Baca juga:  Dirjen Bimas Kristen: SDM Papua Harus Disiapkan dari Sisi Agama dan Ilmu

Sedangkan hadir sebagai penanggap Ketua Sinode GKI di Tanah Papua Pdt. Andrikus Mofu, Presiden GIDI Pdt. Dorman Wandikbo, Ketua Sinode Gereja Kingmi Papua Pdt. Dr. Benny Giay, Presiden Gereja Baptis Pdt. Dr. Socrates Sofyan Yoman dan Abdon Bisei. 

Revitalisasi yang dimaksud Pdt. Gomar adalah gereja harus mampu mengupayakan dunia sebagai rumah yang ramah untuk didiami bersama yaitu bersaksi dan melayani tentang kerajaan Allah yakni shalom. “Bukan menjadikan dirinya (gereja) sebagai pusat dan tujuan misi,” paparnya. 

Gereja juga harus mampu mengajarkan orientasi hidup yang berbasiskan kebersamaan, solidaritas dan kesetiakawanan. Sebab, lanjut Pdt. Gomar kualitas bisa diukur bila kesalehan tidak sekedar bermakna individual, tapi juga kesalehan sosial yang pada akhirnya akan melahirkan sikap kemanusiaan dalam berbagai kebijakan politik maupun ekonomi. “Nilai-nilai tersebut bisa ditumbuhkan bila gereja menjadi inspirasi batin,” jelasnya. 

Sayangnya, kata Pdt. Gomar gereja saat ini cenderung mengabaikan peran sosial gereja sehingga gereja hanya berkutat soal ritual dan institusi. Padahal antara pekabaran injil dan keterlibatan sosial sebenarnya saling terkait. “Keterlibatan sosial, ekonomi dan politik merupakan pewartaan gereja. Tidak ada evangelisasi tanpa keterlibatan sosial. Tidak ada pewartaan iman tanpa perjuangan keadilan,” kata Pdt. Gomar. 

Baca juga:  Pdt. Lipiyus Biniluk : Masih Banyak Suku yang Belum Tersentuh Injil

Pdt. Gomar menjelaskan ada pelajaran yang bisa dipetik dari para pembawa Injil di Tanah Papua yaitu kesabaran dan kerendahan hati. Mereka benar-benar serius dan sungguh-sungguh memperkenalkan Injil melewati berbagai batas. “Bayangkan dari Eropa ke Papua, mereka rela menyebrangi batas-batas adat istiadat, teritorial. Dan ketika di Papua, mereka juga tidak membungkus injil dalam batas tertentu. Mereka sungguh-sungguh meresapi peradaban dan budaya di Papua,” urainya. 

Injil bisa bertumbuh begitu masif di Papua saat itu karena adanya pendekatan yang apik dari para missionaris. Zaman itu, kata Pdt. Gomar tidak ada gereja yang berdiri tanpa balai pengobatan atau sekolah. Ini perlu menjadi catatan bagi siapapun yang ingin menginjil ke tanah Papua. Diperlukan sikap yang menghamba. “Mereka (missionaris) bukan hanya dididik sebagai penginjil tapi juga pendidik,” katanya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here