Khoe Ribka : Imlek, Tradisi yang Harus Dilestarikan

0
Khoe RIbka
Founder Amos Cozy Hotel, Jakarta Khoe RIbka. (Foto: DOK PRI)

Jakarta – Tahun baru Imlek merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak puluhan tahun silam. Tahun baru ini selalu ditunggu-tunggu bagi etnis keturunan Tionghoa. Umat Kristen keturunan Tionghoa pun sampai saat ini masih terus merayakannya setiap tahun.

Salah satunya seperti yang dilakukan Founder dari Amos Cozy Hotel, Khoe Ribka. Ia memandang Imlek perlu dilestarikan karena memiliki makna kebersamaan.

“Intinya dalam Imlek kita menjaga kerukunan dan kekompakan keluarga. Kita juga silahturahmi menghormati yang tua, jadi semua (keluarga) kumpul,” ungkapnya seperti dikutip dari Youtube Channel BroPena, Kamis (11/2/2021).

Imlek, lanjut Ribka bila melihat dari sejarahnya Imlek adalah sebuah festival perayaan menyambut datangnya musim semi. “Zaman dulu mereka kumpul bersama keluarga juga. Kalau sekarang kita sebut silahturahmi,” katanya.

Ribka mengungkapkan anak-anak milenial merupakan kelompok yang harus senantiasa diberikan pengetahuan tentang kebaikan dari tradisi Imlek. Hal ini perlu dilakukan agar tidak ada jarak diantara sesama keluarga besar.

Baca juga:  Pengeboman Gereja Adalah Tindakan yang Keji “Jangan Balas Kejahatan dengan Kejahatan”

“Sebagai ibu, saya selalu imbau anak, cucu, harus kumpul supaya mereka kenal dengan sepupu, keponakannya. Jangan sampai ada keluarga yang tidak dikenal mereka. (Saya juga) kasih pengertian kepada mereka,” paparnya.

Founder Solideo School ini pun pun teringat masa kecilnya ketika merayakan Imlek bersama keluarga. Saat itu sang nenek selalu memberikan wejangan kepada dia dan keluarga untuk harus selalu menyalakan lampu dan tidak boleh melakukan beberapa pantangan.

“Jadi malam Imlek kami disuruh keramas, membersihkan rumah dan sembayang. Juga hari pertama Imlek kami tidak boleh nyapu, katanya nanti berkatnya hilang,” ceritanya.

Namun, setelah Ribka menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat, tata cara dalam Imlek yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran Firman Tuhan tidak ia lakukan lagi.

Baca juga:  Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham Bicara Soal Perceraian

“Malam kami tetap kumpul sama keluarga. Tapi (kami) tidak sembayang dengan cara mereka, jadi hanya makan malam bersama,” jelasnya.

Menurut Ribka, hal tersebut dilakukan karena ia memahami betul ajaran Tuhan yang meminta umat untuk tidak memiliki Allah lain selain Tuhan Yesus. Juga setiap orang yang di dalam Tuhan adalah ciptaan baru dan harus hidup untuk menyenangkan Tuhan.

“Sadar bahwa kita sudah dibeli Tuhan dengan darah yang mahal. Itu hal yang luar biasa. Jadi jelas, ketika sudah beriman, kita jangan kecewakan Tuhan. Kita harus menjadi anak Tuhan yang menyenangkan Tuhan. (Karena) Konsekuensi pasti ada ketika kita melanggar firman Tuhan itu sendiri,” ungkap Ribka yang juga Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DPC Jakarta Selatan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here