“Ledakan” akan Terjadi dalam Gereja di Era New Normal

0
Ketua STT Baptis Jakarta, Susanto Dwi Raharjo
Ketua STT Baptis Jakarta, Susanto Dwi Raharjo. (Foto: Noel)

Jakarta – Pandemi telah membuat gereja berubah secara drastis. Ibadah yang biasanya dilakukan secara onsite, mau tidak mau dialihkan menjadi online. Ketua STT Baptis Jakarta, Susanto Dwi Raharjo mengatakan gereja memang harus beradaptasi dengan kondisi, bila tidak gereja akan hilang.

“Persoalan terbesar adalah ketika gereja tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi. Maka itu gereja harus mampu beradaptasi dengan lingkungan tanpa menghilangkan esensi Kegerejaan,” ungkapnya.

Dwi menjelaskan gereja dan pola manajerial harus beradaptasi dengan kondisi saat ini. Termasuk dengan pola penginjilan yang berubah drastis dan membuat pengijilan menjadi semakin lebih mudah karena tidak terbatas ruang. “(Misalnya) live streaming ibadah. Ini akan mempermudah jemaat mengikuti ibadah di manapun, termasuk membuka peluang jemaat maupun orang lain melihat dan mengikuti ibadah yang diselenggarakan.”

Baca juga:  GBI Gilgal Gelar Seminar “5 Minutes After You Die”

Dwi mengatakan penanaman gereja juga mengalami perubahan pola. Dulu penanaman gereja yang dibarengi dengan penginjilan harus dilakukan dengan mengunjungi satu tempat ke tempat lainnya, tapi kini dapat dilakukan di depan komputer atau laptop (online). Menurutnya, dengan cara tersebut gereja menjadi lebih mudah dalam menjaring jiwa. “Mungkin saja setelah pandemi akan terjadi ‘ledakan’,” katanya.

‘Ledakan’ yang dimaksud Dwi adalah munculnya para petobat maupun jemaat baru di beragam wilayah. Hanya saja hal tersebut bisa dicapai bila gereja konsisten mengadakan pembinaan iman jemaat secara rutin.

Baca juga:  Tahta-Nya Memberkati Bangsa-Bangsa, Lahir Global Prayer 247 (Malaysia, Singapura, Vietnam dan Indonesia)

Menurut Dwi, ketika hal tersebut terjadi gereja harus siap. Siap dalam arti, menampung jemaat baru baik di gedung yang sudah ada saat ini maupun di tempat yang baru. Gereja juga harus siap dari sisi organisasi. “Karena organisasi itu perlu sebab terkait dengan legalitas,” tegasnya.

Diakhir, Dwi menjelaskan gereja harus mampu menangkap pandemi sebagai momen yang positif untuk melakukan penginjilan lebih luas lagi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun juga gereja harus tetap berjalan dalam koridor firman Tuhan agar benar-benar bisa memuridkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here