Masyarakat DKI Jakarta Mendapatkan Peringatan Dari 31 RW Rawan Zona Merah Covid-19

0

Perpanjagan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sampai akhir Juni 2020, tidak seperti PSBB sebelum-sebelumnya. PSBB kali ini, disebut PSBB transisi yang memberikan kelonggaran, termasuk di dalamnya dibukanya mal-mal di DKI Jakarta, perkantoran dan diberikan “ruang” untuk masyarakat dapat melakukan akitvitas berkumpul dalam beribadah.

Bersamaan dengan itu, pemerintah pusat juga telah memberikan ruang kepada masyarakat luas untuk beradabtasi di tengah masih terjadinya penularan Covid-19, yang diberi nama era new normal atau perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19

Bertolak dari dua istilah itu, PSBB transisi dan new normal, masyarakat Indonesia, ramai-ramai keluar rumah, melakukan banyak hal di luar rumah. Berbeda dengan diberlakukan PSBB, yang semuanya dikerjakan dari rumah.

Kelonggaran yang diperoleh ternyata, untuk di DKI Jakarta, sedikit menguatirkan. Pasalnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti mengungkapkan ada tambahan 31 RW yang masuk wilayah rawan zona merah penyebaran virus corona (Covid-19) dari yang sebelumnya ada 66 RW yang dalam pengendalian ketat Covid-19. “Ada irisannya. kami memantau tiap hari, tiap minggu, tapi bukan masuk sebagai tambahan 66 RW,” kata Widyastuti, Kamis (18/6).

Baca juga:  Pasangan Sesama Jenis di Jepang Minta Dilegalkan, Pemerintah Tolak

Informasi dari Kepala Dinas Kesehetan DKI Jakarta itu, mestinya otomatis memberikan warning kepada masyarakat DKI Jakarta dan masyarakat di sekitar DKI Jakarta yang bekerja atau melakukan aktivitas di DKI Jakarta bahwa di tengah masyarakat DKI Jakarta masih terus terjadi penjangkitan Covid-19, untuk itu diperlukan kewaspadaan dan kedisiplinan dalam menjalankan protocol kesehatan Covid-19.

Pemerintah DKI Jakarta, kata Widyastuti, akan bekerja maksimal agar 31 RW rawan zona merah itu tidak menjadi zona merah selama PSBB transisi. “Yang kami awasi adalah semua, se-DKI. Kalau ada kelurahan lain yang tiba-tiba tinggi, hati-hati kalau enggak cepat-cepat diatasi akan menjadi potensi rawan,” ujarnya.

Widyastuti mengungkapkan alas an pemerintah DKI Jakarta memasukkan 31 RW dalam rawan zona merah Covid-19, bertolak dari sejumlah indikator, diantaranya adalah incident rate atau proporsi antara kasus positif dibanding per 100 ribu penduduk. Pihak Dinkes nantinya akan menilai laju kecepatan incident rate di satu wilayah.

Berdasarkan pemaparan Dinkes DKI, 31 RW rawan zona merah, diantaranya:

  1. Kecamatan Menteng:
  • Kelurahan Pegangsaan: RW 01 (29 kasus)
  • Kelurahan Kebon Sirih: RW 08 (6 kasus) dan RW 10 (2 kasus)
  1. Kecamatan Senen
  • Kelurahan Kenari: RW 04 (30 kasus)
  • Kelurahan Senen: RW 04 Pasar Senen Dalam (8 kasus)
  1. Kecamatan Cempaka Putih
  • Kelurahan Cempaka Putih Timur: Pasar Rawa Kerbau RW 02 (13 kasus) dan RW 03 (5 kasus )
  1. Kecamatan Tanjung Priok
  • Kelurahan Sunter Jaya: RW 01 (14 kasus), RW 02 (13 kasus), dan RW 09 (6 kasus)
  1. Kecamatan Tambora
  • Kelurahan Jembatan Besi: RW 01 (10 kasus), RW 3 (1 kasus), RW 4 (9 kasus), RW 7 (12 kasus), dan RW 10 (13 kasus)
  1. Kecamatan Johar Baru
  • Kelurahan Kampung Rawa: RW 02 (14 kasus)
  1. Kecamatan Palmerah
  • Kelurahan Jatipulo: RW 5 (9 kasus), RW 6 (4 kasus), RW 7 (4 kasus), RW 10 (13 kasus)
  1. Kecamatan Grogol Petamburan
  • Kelurahan Tomang: RW 2 (1 kasus), RW 10 (1 kasus), RW 5 (1 kasus), RW 11 (1 kasus), RW 6 ( 3 kasus), RW 12 (6 kasus), RW 7 (2 kasus), dan RW 13 (1 kasus)
  1. Kecamatan Jatinegara
  • Kelurahan Kampung Melayu: RW 02 (12 kasus)
  1. Kecamatan Kemayoran
  • Kelurahan Kemayoran: RW 07 (9 kasus) (Vifa 5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here