Melakukan Pembaptisan di Masa Pandemi, Pendeta yang Membaptis Tidak Masuk Dalam Air

0
ilustrasi baptisan selam.

Sudah hampir 5 bulan, masyarakat Indonesia diperhadapkan dengan penularan virus Covid-19. Selama itu pula masyarakat Indonesia, termasuk gereja-gereja di diharuskan mengikuti himbauan pemerintah untuk mematuhi secara disiplin protokol Kesehatan.

Bahkan dalam protokol kesehatan, telah diatur protokol beribadah. Sejak bulan Maret, khususnya gereja-gereja dalam menggelar ibadah, mayoritas telah mematuhi dan secara disiplin menjalankan protokol Kesehatan.

Pertanyaannya, bagaimana dengan melakukan baptisan selam yang ada di lingkungan gereja-gereja aliran pentakosta? Ketua Umum Gereja Bethel Indonesia (GBI), Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham, menegaskan pelaksanaan baptisan di lingkungan GBI terus berjalan.

Ketua Umum Gereja Bethel Indonesia (GBI), Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham

Pelaksanaan baptisan selam di lingkungan GBI tetap mengikuti protokol Kesehatan. “Dalam kondisi tertentu seperti ini tidak harus turun air dan tidak harus menumpangkan tangan kepada yang akan dibaptis, dan diharapkan baik gembala, keluarga yang akan dibaptis, termasuk yang akan dibaptis diharuskan menjaga jarak, memakai masker. Ini semua kita lakukan untuk memutus mata rantai atau mencegah terjadinya penularan Covid-19,”terang pendeta yang berdomisili di Kota Bandung, Jawa Barat ini.

Selain itu, Ketua Umum GBI ini menegaskan syarat utama bagi orang yang akan dibaptis, bertobat dan percaya Yesus. “Pelaksanaannya dilaksanakan demi nama Bapa Putra dan Roh Kudus. Kalau yang lainnyakan sifatnya protokoler kesehatan. Jadi dalam masa pandemi kita memberikan ruanglah, Karena tidak mungkin melakukan baptisan dengan kebiasaan yang sudah ada, karena salah satu yang harus dilakukan memegang tangan atau menumpangkan tangan,”tegasnya..

Pdt. Rubin Adi Abraham berkata, bila ada gembala di lingkungan GBI melakukan pembaptisan, dan ingin melakukan seperti biasanya sebelum ada pandemi, diantaranya, mendoakan dengan menumpangkan tangan, masuk ke kolam air bersama (gembala/pendeta dan yang akan dibaptis) dan membantu ‘menenggelamkan tubuh yang dibaptis’ maka terlebih dahulu harus melakukan Test Swab, bukan Rapit Test lagi karena itu sudah tidak dijadikan rujukan.

Baca juga:  Ada Apa Dengan GBI?

“Untuk melakukan Swab membutuhkan waktu, dan cukup panjang urusannya. Nah untuk itu kita memberikan ruang bagi gembala yang akan melakukannya supaya mengikuti protokol kesehatan, termasuk air dalam kolam baptisan harus sesuai standar yang dapat membunuh virus, termasuk Covid-19,”paparnya.

Tak berbeda dengan Gereja Bethel Apostolik dan Profetik (GBAP), yang didirikan oleh Pdt. Mary Hartanti, dan diketuai oleh, Pdt. Hendroto Halim. ”GBAP membolehkan baptisan air di masa pandemi bagi orang-orang yang sungguh-sungguh mendesak dan minta segera untuk dilayani. “Untuk melakukan pembaptisan kami menjaga jarak, dan dan menjaga kesehatan bersama yang membaptis tidak masuk ke dalam air,”.

Gereja Bethel Apostolik dan Profetik (GBAP), Pdt. Hendroto Halim.

Diakuinya, tentu dihati paling dalam dari umat yang ingin dibaptis pasti ada ketakutan. Pasalnya dari air itu berkemungkinan terjadinya penjangkitan atau penularan. “Walau begitu, kalua memang ada jemaat yang ingin dibaptis tentu akan dilayani dengan mengikuti semua protokol kesehatan secara disiplin,”tandasnya.

Pdt. Hendroto Halim, menerangkan, untuk kepentingan baptisan masal belum terpikirkan di lakukan di lingkungan GBAP. Sementara ini GBAP hanya melayani baptisan pribadi-pribadi dan tidak dilakukan pembaptisan di kolam renang. “Mungkin untuk amannya kita tidak membaptis secara massal tapi lebih ke pribadi dan tidak dilakukan di kolam atau kolam renang seperti biasa , tapi kita bisa pakai bathtub atau kolam renang karet anak anak. Ini sering kami lakukan saat membaptis orang tua yang sulit atau tidak bisa turun kedalam kolam renang . Orang yang akan dibaptis itu masuk ke dalam dengan posisi duduk dan yang membaptis berdiri atau jongkok di luar . Lalu orang yang dibaptis akan ditengelamkan kedalam air. Dan untuk tetap melakukan protokol kesehatan yang membaptis harus tetap pakai masker dan pakai sarung tangan untuk menumpangkan tangan,”terangnya.

Baca juga:  Kampung Adat, Sebuah Restorasi Pembangunan di Tanah Papua yang Digagas Bupati Jayapura Mathius Awotiauw

Diakhir, Pdt. Hendroto Halim, melihat tidak ada masalah melakukan pembaptisan bila pendeta tidak masuk ke dalam air. Intinya hati orang yang dibaptis itu sudah sungguh sungguh percaya dan dari mulutnya mengaku Yesus adalah Tuhan . “Percayalah Tuhan kita penuh kuasa,”katanya.

Ketua Sinode, Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPDI), Pdt. Paul Massie, mengakui organisasi gereja yang dipimpinnya belum mengijinkan melakukan pembaptisan iar sampai keadaan lebih kondusif.

Ketua Sinode Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPDI), Pdt. Paul Massie

“Kalau kami belum mengijinkan baptisan air sampai keadaan lebih kondusif. Untuk bisa beribadah saja kita sudah harus bersyukur,”katanya.

Tambahnya, dalam melakukan pembaptisan diperlukan hikmat. “Kita perlu berhikmat, hal-hal yang bisa kita tunda, ya kita tunda dulu mengingat Covid-19 masih terus terjadi penjangkitan.

Tetapi, Pdt. Paul Massie menegaskan keputusan gerejanya untuk belum melakukan pembaptisan itu bukan berarti melarang ada pembaptisan, sama sekali tidak, semuanya sifatnya sesuai keadaan dan waktu.”Menurut saya pribadi itu sifatnya flexible. Jadi bisa saja pembaptisan dilakukan dalam kondisi tertentu,”tegasnya.

Pdt. Paul Massie sependapat dengan Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham dan Pdt. Hendroto Halim, dimana tidak melihat ada masalah bila pendeta yang melakukan pembaptisan tidak turun ke dalam air tempat pembaptisan. (Vifa5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here