Menag Yaqut Cholil, Mengutip Matius 22 : 27 – 40 di Pemaparan Materi Sidang MPL-PGI

0
Pdt. Gomar Gultom dan Sekretaris-Umum-PGI-Pdt.Jacklevyn Frits Manuputty di Sidang MPL-PGI 2021, secara resmi didampingi

Jakarta – Pegelaran Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja – gereja di Indonesia, yang diselenggarakan 25 – 26 Januari 2021, diharapkan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas untuk dapat menghasilkan program-program strategis yang bisa menjangkau umat. Sebab, umat butuh bimbingan dari para tokoh agamanya. 

“Saya berharap sidang ini menghasilkan program-program strategis yang bisa menjangkau umat karena umat butuh bimbingan dari para tokoh agamanya. Saya khawatir bila kita meregangkan hubungan dengan umat maka umat tidak ada yang ‘menggembala’ seperti istilah dalam umat Nasrani,” kata Menag Yaqut Cholil saat mengisi rangkaian Sidang MPL – PGI.

Pada kesempatan itu, Menag mengungkapkan, Kementerian Agama saat ini sudah melakukan pemetaan problem keagamaan di Indonesia dan bertemu dengan para tokoh lintas agama, termasuk dengan PGI.

“Kemarin saya ke Katedral untuk bertemu dengan Uskup Agung Jakarta dan beberapa tokoh agama lainnya untuk berdiskusi moderasi beragama. Dalam beberapa kali pertemuan saya ilustrasikan pemeluk agama itu seperti suporter sepakbola yang kadang bisa bersatu, kadang tawuran di lapangan. Nah semua itu tergantung pada bagiamana wasit yang memimpin pertandingan sehingga tidak memancing penonton untuk tawuran,” katanya.

BACA JUGA  Menteri Agama Imbauan Peringati Imlek dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Untuk itu, ditegaskannya bahwa Menag akan tampil menjadi wasit yang bersikap adil “Semua agama pasti menonjolkan norma kedamaian, kasih sayang dan cinta kasih. Saya ingin meletakkan diri saya sebagai wasit yang benar-benar bersikap adil kepada semua pemeluk agama. Tentu ini tidak berhenti hanya sekadar jargon. Saya mohon dikritik dan diingatkan jika komitmen saya untuk menjadikan Kementerian Agama sebuah kementerian yang melayani semua umat beragama tidak berjalan dengan semestinya,” paparnya.

Menag kemudian mengutip Matius 22:37-40, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia-manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Ayat dalam Matius 22 itu kata Menag, sangat luar biasa dan sekaligus mengingatkan umat manusia untuk menjalankan agama tidak berdasarkan keimanan buta namun ada kasih Tuhan. “Syarat untuk kita melakukan moderasi beragama itu kita dituntut memiliki sifat inklusif dalam melihat kemajemukan masyarakat Indonesia,” tegasnya.

BACA JUGA  HARUS TEGAS ! WNA DILARANG MASUK INDONESIA DI MASA PPKM

Menag menegaskan juga moderasi agama dituntut untuk memiliki sifat yang inklusif yang mutlak. Apalagi di negara Indonesia yang memiliki kemajemukan yang tidak dimiliki oleh negara lain. 

Lanjutnya, selain inklusifitas, dalam moderasi agama diperlukan kejujuran atas kelebihan dan kekurangan dari agama masing – masing yang dianut. Terutama dalam merespon situasi kontemporer. 

“Bicara moderasi agama, masing-masing umat beragama harus jujur, harus mengakui bahwa ada di ajaran agama kita masing-masing ini ada yang memang tidak pas jika ajarannya dilakukan atau dilaksanakan dengan seperti sekarang. Oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk merekontekstualisasi lagi. Apalagi jika melihat masyrakat Indonesia yang sangat majemuk. Nah, inklusifitas, kejujuran menilai agama kita masing-masing itu menjadi kata kunci saya kira,”paparnya.

Moderasi ditegaskannya, perlu dipahami dan ditumbuhkembangkan bukan hanya sebagai diskursus atau wacana tetapi juga sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna. Dimana setiap warga masyarakat apapun suku, etnis, agama, budaya, bahkan pilihan politiknya, bersedia untuk mendengarkan satu sama lain. Saling belajar untuk mengelola dan mengatasi perbedaan yang ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here