Menyelenggarakan Kuliah Online Memiliki Tantangan Lain

0

Masa-masa pandemi Covid-19 sekarang ini memberi tantangan tersendiri bagi institusi pendidikan, diantaranya pendidikan teologia. Bila tidak ingin ketinggalan, institusi pendidikan harus segera mengikuti kebutuhan perubahan yang terjadi, diantaranya jalannya proses belajar-mengajar.

Seperti Sekolah Tinggi Teologia Institut Keguruan Alkitab dan Teologia (STT-IKAT), yang diungkapkan, Ketua, Dr. Melton Robert Lumintang, MBA, M.Th, walau adanya Covid-19, kalender akademiknya STT IKAT tidak ada yang terlewati.

Dr. Melton Robert Lumintang, MBA, M.Th (Ketua STT-IKAT, Jakarta).

Hanya, kata Dr. Melton Robert Lumintang, yang akrab disapa Pdt. Jimmy Lumintang berkata pendekatan-pendekatan pembelajaran terjadi perubahan seperti yang dibutuhkan hari-hari ini. “Tanggal 12 Maret 2020, dengan informasi Covid-19 itu kami sudah merespon dengan proteksi mahasiswa sebanyak 140 orang tidak boleh keluar dari asrama kampus. Kemudian tanggal 18 Maret saya mengeluarkan keputusan supaya perkuliahan jalan terus,”katanya.

Diakuinya, terjadi pergumlan dalam melaksanakan proses belajar mengajar atau perkuliahan. Bagi dosen-dosen yang berada di luar Kampus diwajibkan untuk memberikan kuliah dengan menggunakan aplikasi atau online. “Kita sudah coba karena kita ada program off campus. Dengan adannya Covid-19 ini mau tidak mau kita harus menggunakan Zoom, termasuk ujian akhir semester, ujian skripsi, ujian tesis dan ujian disertasi,”diakuinya, termasuk menggelar wisuda, yang belum lama dilakukan.

Baca juga:  Ketum PBNU dan Ketua BISMA ke Makassar, dalam Merajut Kerukunan Umat Beragama
Ruangan Chapel STT-IKAT.

Menggunakan zoom, kata Pdt. Jimmy Lumintang, bukan berarti biayanya murah, sebaliknya hanya biaya untuk menyewa zoom saja dibutuhkan biaya yang besar. “Untuk proteksi 140 orang, dari soal kehidupan hari-hari itu ada tantangannya. Mahasiswa di sini tidak bayar, semuanya dapat beasiswa,”paparnya.

Kepada vifamedia, Pdt. Jimmy Lumintang, mengungkapkan status STT IKAT, sudah terakreditasi, semisal sarjana teologi terakreditasi B, Sarjana PAK terakreditasi B, Magister PAK terakreditasi B, Magister Teologi Kepemimpinan terakreditasi B, gelar Doktor terakreditasi C. “Semua sudah mendapatkan ijin dari Bimas Kristen,”ungkapnya dan menambahkan, karena itu salah satu tantangannya, untuk menjaga supaya status tetap eksis, sebagai bentuk tanggung jawab kepada para alumnus-alumnus yang mempunyai ijazah.

Baca juga:  Pemberian Paket Sembako kepada Driver Ojol yang Beroperasi di Jembatan Dua, Jakarta Utara
https://youtu.be/_Q59qJc2Tgo

Tantangan lain, saat proses belajar-mengajar online, dibutuhkan kedisiplinan yang harus disertai dengan dua hal, yaitu reward dan punishment. “Kalau reward it’s oke, tetapi punishment itu agak sulit. Mahasiswa dan dosen-dosen sering kita berikan reward karena prestasi. Kita setiap akhir tahun memberikan reward kepada para mahasiwa teladan, mahasiswa yang menerima Cum Laude. Ada mahasiswa terbaik dan sebagainya. Dosen-dosen dan para staf kantor juga diberikan reward khusus, memang setiap 5 tahun mereka mendapatkan reward, termasuk setiap mahasiswa tingkat 3 itu mereka punya program keluar negeri harus studi banding, ”tuturnya.

Untuk mengetahui lebih jauh, dapat menonton di YouTube Chanel Vifa Media. (Vifa5/6/9)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here