Millenials Family Conference, Perlengkapi Pasangan Milenial dalam Membangun Kehidupan Pernikahan

0
Ilustrasi : Praise-and-Worship-dari-PAHAT-Persekutuan-Anak-Hamba-Tuhan

Dalam rangka memperlengkapi pengetahuan kehidupan rumah tangga pasangan milenial, Departemen Pembinaan Keluarga BPH GBI menggelar “Millenials Family Conference” secara live melalui kanal Youtube Sinode GBI Official, Sabtu (21/11/2020).

Hadir sebagai pembicara Pdt. Hengky So, M.Th (Ketua IV BPH GBI dan Gembala GBI Ecclesia), Pdt. Dr. Jarot Wijanarko (Owner Happy Holy Kids Penasihat ASPIRASI Founder IFA DAHSYAT), Ps. Yehuda So, M.Th, MM (Wakil Gembala GBI Ecclesia GLC dan Dep. Pembinaan Keluarga BPH GBI), Ps. Antonius Sitompul & dr. Anggia Hapsari, SpKJ (K) (Ketua Dep. Pembinaan Keluarga BPH GBI dan Psikiater Anak dan Remaja), Bonar Tanudjaja, M.CI dan Pdp. Jessica Abraham, M.Th (KPA GBI Bethel Bandung, founder media online @dariduajadisatu), Ps. Ferry Felani (Gembala GBI Citygate, Trainer Disciple.Id, Trainer Spotter Training & Coaching, & mentor beberapa komunitas di Jakarta), Ps. Albert Egmont (CEO Life Talk Asia Founder Moms Journey Community Official Partner YOUTHNOW UN Habitat Family, Career & Character Teens Coach), Ps. Yoseph K. Tandian, M.Th (NextGen Pastor GBI Miracle Service Harapan Indah, Lifecoach & Trainer – Puzzle Life Coach & Puzzle of Life).

Baca juga:  Presiden Mengutuk Tindakan Biadab, Lembaga Kristen Meminta Tangkap Pelakunya dan Hukum Seberat-beratnya
Pdt. Hengky So ketika memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Pdt. Hengky So mengatakan acara ini patut diikuti para pasangan milenial untuk memperkaya pengetahuan dalam membangun kehidupan pernikahan zaman now. “Saya menyambut baik milenial conference. Karena yang berbicara adalah pasangan suami istri yang masih milenial dan pembicara milenial. Tentunya pemaparan mereka akan sesuai dengan pergumulan yang sedang dihadapi,” katanya dan menutup dengan doa pembukaan.

Sementara itu dalam pemaparannya, Bonar Tanudjaja dan Pdp. Jessica Abraham menjelaskan pernikahan tidak bisa hanya didasarkan rasa cinta saja karena dibutuhkan komitmen dan mau saling mengisi. “Tujuan utama dari pernikahan adalah bertumbuh bersama serupa dengan Kristus,” katanya.

Lebih jauh, ada 4 hal yang harus diutamakan dalam pernikahan atau yang disingkat GROW. G yaitu God (Amsal 3:6), R yaitu Relationship (Amsal 5:18), O yaitu Obidience (Efesus 5:22-23), W yaitu Wisdom (Amsal 24:3-4).

Ps. Ferry Felani mengatakan tantangan para pasangan milenial saat ini adalah dalam hal mendidik anak di tengah pesatnya kemajuan teknologi. Para pasangan milenial harus mampu membagi waktu untuk kesibukan dalam perkerjaan/pelayanan dengan waktu untuk mendidik anak.

Ps. Ferry menegaskan diperlukan prioritas agar anak tetap dapat mendapatkan kasih sayang. Ia memberikan contoh ketika orang tua pulang ke rumah setelah bekerja. Biasanya yang terjadi adalah mereka sibuk dengan gadget masing-masing dan suka lupa ada anak yang harus diperhatikan. “Hadirlah penuh secara penuh untuk anak kita jangan disambi,” tegasnya.

Baca juga:  Willem Frans Ansanay “Jokowi Tidak Ada Beban Politik Bila Melakukan Reshuffle Kabinet”
Ps. Antonius Sitompul dan dr. Anggia Hapsari, SpKJ (K)

Senada, Ps. Antonius Sitompul mengatakan keluarga yang baik adalah keluarga yang kebutuhan seperti kesejahteraan, ekonomi, psikis, fisik, emosional serta rohaninya dapat terpenuhi dengan baik.

Di sisi lain, dr. Anggia Hapsari, SpKJ (K) menjelaskan kaum milenial saat ini rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa. Gangguan tersebut dapat terjadi karena penggunaan media soaial, sikap perfeksionis dan berbagai faktor lainnya. “Menurut artikel yang dilansir dari lama Psychology Today, angka gangguan jiwa didapatkan meningkat pada generasi milenial khususnya dalam hal depresi, kecemasan, gangguan makan, penggunaan zat yang tidak tepat dan perilaku menyakiti diri sendiri,” jelasnya.

Untuk menghindari mengalami gangguan jiwa, lanjut dr. Anggia para milenial harus membangun kedekatan dengan komunitas atau keluarga. Hal lainnya yang bisa dilakukan adalah menyadari tanda-tanda dari gangguan jiwa itu sendiri. “Ketahui tanda-tanda dari gangguan jiwa untuk mendeteksi dini supaya tidak terlambat penanganan,” pesannya. (Kontributor: LN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here