Mujizat Tuhan Bagi Negeri di Atas Awan Melalui Presiden Jokowi

0

Jakarta – Setelah menunggu 13 tahun, akhirnya Negeri di Atas Awan memiliki bandar udara. Bandara yang terletak di Toraja Sulawesi Selatan ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis (18/03/21) bersamaan dengan Bandara Pantar yang terletak di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur secara virtual.

Keberadaan Bandara yang diberi nama Buntu Kunik ini diharapkan dapat mempermudah akses wisatawan baik lokal maupun asing untuk mengunjungi Tana Toraja yang sangat kental dengan kebudayaannya, dan kopinya yang terkenal mendunia. Harapan lainnya juga, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah Toraja itu sendiri.

Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr. John N. Palinggi, MBA yang juga sebagai Putra Nasional berasal dari Tana Toraja yang turut hadir bersama Presiden Joko Widodo dan menjadi saksi sejarah terwujudnya Bandara di Tana Toraja ini mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden KH. Maaruf Amin serta Menteri Perhubungan, dan Menteri Pekerjaan Umum hingga Pemerintah Daerah terkait sampai penyelesaian pembangunan bandar udara di Toraja dapat terwujud. “Peresmian kemarin tanggal 18 itu adalah mujizat dari Tuhan, anugerah dari Tuhan, putusan Tuhan melalui Bpk. Jokowi,” katanya saat ditemui di kantornya yang terletak di kawasan Jakarat Pusat.

Tidak henti – hentinya, John mengungkapkan penyelesaian bandara yang memakan anggaran Rp. 800 Miliar ini merupakan mujizat Tuhan. Hal ini beralasan dilihat dari sisi pembangunan di Kawasan Indonesia Timur, dalam pemberian fasilitas Tana Toraja sangat terisolasi dan cenderung diskriminasi oleh beberapa pihak tertentu, padahal Toraja, sejak Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono sempat ditetapkan sebagai pilihan destinasi pariwisata ke-2 setelah Bali.

Baca juga:  Alwi Shihab: Bukan Agamanya, Tapi Orang Beragama yang Salah

John tidak mau menyinggung dan mengungkit saat presiden siapa, Tana Toraja hilang dari 10 proyek infrastruktur strategis nasional sebagai destinasi wisata nomor dua di Indonesia. Sebaliknya ia sebagai Ketua DPP Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang Dan Distributor Indonesia (ARDIN) ini mengatakan hadirnya Bandara Buntu Kunik otomatis akan berdampak signifikan pada sektor pariwisata lantaran para wisatawan dapat lebih mudah sampai menikmati panorama alam yang ditawarkan Tana Toraja. “Sebelum ada bandara, 9 jam perjalanan dari kota Provinsi (Makasar) ke Tana Toraja. Para wisatawan pasti kelelahan, walaupun sudah tahu akan kelelahan mereka (wisatawan) tetap datang ke Tana Toraja,” katanya.

Lelah akan terhapus dengan pesona yang ada di Tana Toraja. Baik adanya negeri di atas awan, kopi Toraja yang sudah mendunia dan kearifan lokal yang kental dijaga secara turun temurun masyarakat Tana Toraja.

Oleh karena itu, John berpendapat, bisa terselesaikannya Bandara Buntu Kunik, tidak terlepas dari adanya orang – orang yang berpikiran positif dan besar serta kemakmuran masyarakat Tana Toraja pada umumnya.

“Terbangunnya bandara Toraja itu, dikelola dan diputuskan oleh orang-orang yang berpikiran positif dan berpikiran besar,” serunya.

Lebih jauh, John berkata pemerintah daerah khususnya tana Toraja dan Toraja Utara harus berembuk bagaimana menciptakan program, konsep,  pembinaan-pembinaan masyarakat terhadap industri pariwisata di Tana Toraja dengan tujuan agar para wisatawan betah berada di sana.

John mencontohkan Bali yang menurutnya sukses dalam “melayani” para wisatawan yang berkunjung. “Keunggulan orang Toraja itu, ramah orangnya,” imbuhnya sambil tersenyum.

Menurut pria yang pernah meraih penghargaan dari ASEAN Development Citra Award 2004-2005 sebagai tokoh berprestasi tingkat ASEAN ini mengatakan keramahan masyarakat Toraja bisa menjadi stimulus wisatawan hadir di Tana Toraja.

Baca juga:  Vaksinasi Cara Pemerintah Lindungi Rakyatnya

John menambahkan di Toraja sendiri kita tidak hanya mendapatkan pemandangan alam yang luar biasa bahkan popular seantero dunia dengan julukan Negeri Di Atas Awan, tetapi kita juga menikmati beberapa kebudayaan yang dapat dinikmati seperti tradisi Ma’pasilaga Tedong (Adu Kerbau), Upacara Adat Ma’ Nene dan acara perkubururan adat Toraja.

Lanjut John, dalam rangka  fasilitas baru yang diberikan oleh negara ini tentu ada tantangan berada di Pundak pemerintah kabupaten untuk melakukan suatu kreatifitas yang tinggi sehingga dapat menjadi nilai tambah tidak hanya dari segi pariwisata tetapi juga dalam rangka upaya peningkatan ekonomi di daerah Tana Toraja dan Toraja Utara secara bersama. “Jadi kunci utama untuk berfungsinya membawa nilai tambah bandara Toraja adalah perlunya kita toleransi dan bersatu,” serunya.

Efek Domino Dukungan Presiden 3 Periode

Hadirnya Bandara Buntu Kunik tentu menjadi kegembiraan masyarakat Tana Toraja. Saat yang bersamaan, dibenak masyarakat Tana Toraja bahwa Bandara yang direncanakan 13 tahun yang lalu, dan telah berkali – kali ganti Presiden, tapi tidak juga menjadi kenyataan kalau bukan Joko Widodo.

Hal itu membuat tingkat kepercayaan publik akan kinerja Presiden akan bertambah. Ibarat dahaga yang diberikan air, itulah yang mungkin dirasakan masyarakat Tana Toraja kepada Joko Widodo.

Sehingga, isu yang kini santer terdengar mengenai masa jabatan presiden menjadi 3 periode ini akan menjadi terus berkembang mengingat kepuasan masyarakat terhadap kinerja presiden.

John Palinggi menegaskan berbicara mengenai Presiden 3 periode seperti orang “terbodoh” di negara ini. “Tidak ada dasar apapun, bicara tiga priode dan presiden sendiri menegaskan tidak berminat, jadi jangan undang-undang itu diubah melalui mulut orang per orang,” serunya.

Ditambahkannya, pihak-pihak yang menebar isu Presiden 3 periode itu hanya membuat “keruh” kehidupan di negara ini. Itu sebabnya tidak perlu dibicarakan. “Pak jokowi pun tidak mau sudah jelas,” ungkapnya.

Kembali John bicara soal Tana Toraja. Terima kasihnya kepada Joko Widodo sebagai presiden yang telah menuntaskan pembangunan Bandara Buntu Kunik. “Walaupun tantangannya berat, sampai-sampai 3 gunung di potong untuk tempat bandara itu,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here