Optimalkan Kepemimpinan Antar Generasi dalam Gereja

0
Ilustrasi : Pentingnya kepemimpinan antar generasi di gereja. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi : Pentingnya kepemimpinan antar generasi di gereja. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Regenerasi selalu digaungkan di manapun, termasuk di gereja. Hal ini perlu karena generasi muda adalah calon pemimpin di masa depan yang akan meneruskan kepemimpinan yang ada. Namun, masih ada banyak orang yang salah dalam mengartikan regenerasi sehingga tujuannya tidak dapat tercapai. 

Dalam sebuah webinar Church in The New Landscape “Intergenerational Leadership”, Minggu (28/2/2021) malam dikupas tuntas mengenai kepemimpinan dan bagaimana mengkolaborasi lintas generasi dalam sebuah organisasi. 

Dalam pemaparannya, Dr. Bambang Budijanto menjelaskan tentang Intergenerational Leadership (IL-red) atau kepemimpinan antar generasi adalah semua generasi duduk bersama, memimpin sama-sama dengan tugas yang jelas. “Konsepnya sama-memimpin (berkolaborasi) bukan menunggu giliran,” ungkapnya. 

Lebih jauh, IL akan memberikan beberapa dampak baik dalam sebuah organisasi, seperti, Pertama, lintas generasi akan belajar dan tumbuh bersama. Kedua, pengambilan keputusan berdasarkan informasi (fakta). Ini berarti keputusan yang diambil akan benar-benar relevan dengan apa yang dibutuhkan atau diperlukan. Ketiga, membuat kinerja pelayanan semakin baik karena adanya semua lini dapat bekerja secara efektif. 

Baca juga:  Pernah Dalam Titik Terendah, Desainer Muda Ini Sadar Tuhan Punya Tujuan Yang Besar

Untuk mencapai hal tersebut, Dr. Bambang mengatakan setiap organisasi atau gereja harus memiliki budaya yang baik serta dapat mengakar mulai dari tingkat atas hingga bawah. Diantaranya, ada kolaborasi antar tim, mau terus belajar sekalipun dari kesalahan, saling percaya serta bertanggungjawab, tidak melihat perbedaan sebagai ancaman dan berorientasi pada hasil.  

“Intergenerational leadership bukan multi generationalship yang tidak ada interaksi. Intergenerational leadership golnya adalah meningkatkan (kinerja) tim supaya makin efektif dengan cara membangun interaksi yang intens,” jelasnya. 

Sementara itu Senior Pastor IFGF Bandung, Ps Sam Hartanto mengatakan ada 3 hal yang harus dipahami dalam memimpin. Pertama, clarity (kejelasan). Kejelasan yang dimaksud adalah jelas dalam tugas maupun target apa yang ingin dicapai. “Kepemimpinan itu harus membangun relantionship with purpose,” katanya. 

Kedua, culture (budaya). Gereja atau organisasi harus memiliki iklim kerja (pelayanan) yang baik hingga itu menjadi sebuah budaya. Dengan begitu maka setiap pemimpin atau jemaat akan terikut dalam budaya yang tercipta tersebut. 

Baca juga:  HUT GBI WTC ke-17, Pdt. Dr. Ir. Wiryohadi Ajak Jemaat Miliki Hidup yang Bertanggung Jawab

Ketiga, cultivate (mengolah). Seorang pemimpin harus mampu mengelola semua sumber daya yang dimiliki agar bisa berkembang secara maksimal. “(Maka itu pemimpin harus mau) 3i yaitu inspire, invest (menabur), install (berikan waktu kepada kader kita untuk mengaplikasikan apa yang sudah diajarkan/pelajari),” paparnya. 

Lebih jauh, Ps Sam menjelaskan seorang pemimpin juga harus memiliki jiwa yang bertanggung jawab, konsisten, mau terus belajar, mengetahui prioritas, mau berkorban, mau mengerjakan semua tugas, mampu memecahkan masalah dan menghormati serta menghargai orang lain. 

Diakhir, Ps Sam mengatakan gereja harus mau memberikan waktu dan tempat kepada anak muda khususnya calon pemimpin untuk belajar hingga berhasil. Soal kesalahan, itu harus dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan berikan waktu kembali untuk memperbaiki serta belajar. “Jangan berikan landasan pacu untuk kapal capung, padahal mereka harus bawa pesawat herkules,” pesannya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here