Pahami Nilai ICE untuk Kuat di Tengah Pandemi

0
Nilai ICE
Nilai ICE

Bandung – Pandemi telah memporak porandakan banyak hal. Namun, mau tidak mau orang harus beradaptasi. Dalam sebuah webinar ICE Dream 2.0 yang diselenggarakan Universitas Maranatha, dijelaskan bahwa pandemi harus dipandang sebagai sebuah peluang, bukan krisis.

“Dalam falsafah Tionghoa ada kalimat Weiji yang berasal dari kata Wei dan Ji. Wei artinya bahaya (ancaman) dan Ji artinya peluang. Dimasa krisis ini, krisis harus dianggap peluang. Sebab ada peluang baru untuk bisa tetap eksis bahkan berkembang di semua yang serba digital,” ungkap Pdt. Hariman Andrey P, Wakil Ketua DPD PIKI Jabar, seperti dikutip dari kanal Youtube Universitas Kristen Maranatha, Kamis (25/2/2021).

Pendeta yang berasal dari sinode Gereja Kristen Pasundan (GKP) ini mengajak untuk melihat 3 kondisi (zona) yang tercipta di masa pandemi ini. Pertama, zona ketakutan; Kedua, zona belajar; Ketiga, zona bertumbuh. Menurutnya, saat ini seharusnya banyak orang sudah berada di zona bertumbuh karena telah mampu melewati pandemi lebih dari 10 bulan.

Baca juga:  Ketua Umum GBI Blak-Blakan "SETORAN" ke GBI

“Ketika sudah berada di zona bertumbuh bukan berarti kita tidak akan merasa takut. Tapi setidaknya ketika berada di zona ini pikiran sudah semakin terbuka untuk melihat segala peluang,” jelasnya.

Di masa pandemi ini, lanjut Pdt. Hariman orang dituntut untuk terus berpikir secara out of the box. Ia mengingatkan tentang 4 pilar dalam pendidikan yaitu belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi dan belajar untuk hidup bersama. “Bila sudah mengetahui apa kemampuan kita, kita harus bertindak kemudian berkreasi lalu berinovasi setelah itu berkolaborasi,” ungkap Pdt. Hariman yang juga menjabat sebagai pendeta Universitas Maranatha ini.

Baca juga:  Harapan PGI Terhadap GPM di Bawah Kepemimpinan Pdt. E.T. Maspaitella

Selain itu, untuk dapat berhasil dan menjadi pemenang maka siapapun harus memiliki nilai kehidupan. ICE merupakan sebuah nilai kehidupan yang perlu diketahui dan dihidupi orang dalam menjalani hari-harinya.

“I adalah integritas (jujur, tanggung jawab), C adalah care/peduli, dan E adalah excellent. ICE ini merupakan spirit hidup di Universitas Kristen Maranatha. (Jadikan) ICE sebagai etos yang di mana kalau menghadapai masalah apapun, etos akan tetap baik,” jelasnya.

Di akhir, Pdt. Hariman mengajak siapapun untuk tetap berkreasi di masa pandemi dan jangan pernah putus asa. “Mari terus berkreasi karena berkreasi tidak dilarang, berkreasi tidak harus mahal, berkreasi semua ornag bisa dan berkreasi itu hidup serta hidup adalah kreativitas,” pintanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here