Pandangan Teologis GBI Soal Gereja Online

0

Sejak Covid-19 melanda Indonesia bulan Maret 2020, ibadah online menjadi pilihan banyak gereja. Sikap ini diambil karena pemerintah melarang orang berkumpul untuk menekan penyebaran Covid-19.

Saat ini, meskipun sudah masuk dalam masa new normal, beberapa gereja sudah kembali menggelar ibadah offline tapi juga masih banyak yang menggelar ibadah online. Lantas bagaimana sebenarnya pandangan teologis soal ibadah online ini?

Gereja Bethel Indonesia (GBI) secara teologis berpandangan gereja online sebagai sebuah kebutuhan umat di tengah  perkembangan teknologi saat ini.

“Generasi ini banyak yang lebih tertarik untuk konek secara online lebih daripada tatap muka. Para pemimpin gereja tidak dapat menutup mata mereka menghadapi perubahan ini. Lebih penting lagi gereja perlu kreatif menjangkau mereka yang tidak mungkin hadir secara fisik karena beberapa penyebab seperti: penyakit, cacat, jarak yang jauh dan penyebab-penyebab lainnya, seperti tantangan keluarga dan lingkungan masyarakat,” isi pernyataan GBI dalam Dokumen Sikap GBI Mengenai Gereja Online yang dikutip vifamedia.com melalui Channel Youtube Sinode GBI Official, Rabu (15/7/2020).

Sinode Gereja Bethel Indonesia.

Masih dari Dokumen GBI Mengenai Gereja Online, GBI lebih setuju sebutan yang lebih tepat bukan gereja online melainkan pelayanan online. Hal ini dilakukan agar agar tidak menimbulkan salah tafsir di banyak kalangan.

Pelayanan online dilihat GBI sebagai sebuah sarana efektif yang bisa dipakai gereja. Hal ini didasarkan pada Firman Tuhan dari injil Matius 28:19-20; Markus 16:15-17; Kisah Para Rasul 1:8 yang menjelaskan untuk memberitakan firman Tuhan ke seluruh dunia. Artinya, pelayanan online bisa digunakan untuk menjangkau orang yang tidak mungkin dilakukan dengan metode klasik (gereja fisik).

Baca juga:  MIRIS!DANA OTSUS MELIMPAH, MASIH ADA MAHASISWA PAPUA NGAMEN

GBI juga berpandangan bahwa pelayanan online sebagai sebuah metode dan media yang dapat dipakai oleh Roh Kudus. “Ladang sudah menguning tapi penuainya sedikit (Yohanes 4:35, Lukas 10:2).”

GBI berharap para gembala bisa memanfaatkan pelayanan online untuk mengoptimalkan pelayanan di gerejanya dalam hal pengajaran maupun pembinaan. Namun pelayanan online dilakukan hanya untuk memperlengkapi, ketika situasi sudah membaik ibadah secara tatap muka harus kembali dilakukan.

Baca juga:  Pasangan Sesama Jenis di Jepang Minta Dilegalkan, Pemerintah Tolak

Sementara itu, GBI meminta para pejabat GBI (Pdp, Pdm, Pdt) untuk memperhatikan pelayanan yang hanya bisa dilakukan secara tatap muka seperti ibadah di suatu tempat secara konvensional yang kemudian disiarkan secara live streaming, pelayanan sakramen (baptisan air dan perjamuan kudus), juga pemberkatan pernikahan serta pemakaman.

Khusus untuk sakramen perjamuan kudus, GBI memperbolehkan dilakukan secara online karena sampai saat ini masih dalam keadaan darurat pandemi. (Kontributor: LN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here