Paus Fransiskus di Ur “Kekerasan Tidak Lahir dari Hati yang Religius”

0
Paus Fransiskus bertemu dengan Pimpinan agama - agama di Tanah UR (Foto : Ist)

Jakarta – Perjalanan Paus Fransiskus ke Irak, seperti teah diberitakan akan mengunjungi kota Ur yang diyakini sebagai tempat kelahiran Abraham. Tanah Ur yang tercatat di dalam alkitab, dengan sebutan tanah Ur Kasdim (Ur orang Kasdim), Irak Selatan, Paus Fransiskus menggaungkan pentingnya hidup rukun para pengikut agama monoteistik, Yahudi, Kristen dan Muslim.  

“Dari tempat inilah lahir iman, dari tanah bapak kita Abraham, marilah kita tegaskan bahwa Tuhan Maha Pengasih dan penghujatan terbesar adalah mencemarkan nama-Nya dengan membenci saudara-saudari kita,”serunya.

Pimpinan tertinggi Katolik, Paus Fransiskus, tegaskan permusuhan, ekstrimisme dan kekerasan tidak pernah dan tidak akan lahir dari hati orang – orang penganut agama. “Permusuhan, ekstremisme, dan kekerasan tidak lahir dari hati yang religius: itu  adalah pengkhianatan terhadap agama,”tegasnya seperti ditulis Catholic News Agency yang diberitakan katoliknews.

“Tempat yang diberkati ini membawa kita kembali ke asal kita, ke sumber karya Tuhan, ke kelahiran agama kita. Di sini, tempat tinggal Abraham, ayah kita, kita tampaknya telah kembali ke rumah,”tutur Paus Fransiskus.

“Di sinilah Abraham mendengar panggilan Tuhan; dari sinilah dia memulai perjalanan yang akan mengubah sejarah. Kita adalah buah dari panggilan itu dan perjalanan itu. Tuhan meminta Abraham untuk mengangkat matanya ke surga dan menghitung bintangnya. Di bintang-bintang itu, dia melihat janji dari keturunannya; dia melihat kita,”katanya.

Baca juga:  Menag Yaqut Cholil Silaturahim Dengan Uskup Agung Jakarta dan Bersedia Memberikan Sambutan di Perayaan 50 Tahun PGLII

Bapa Suci, Paus Fransiskus mengajak pemeluk agama Abrahamik, Yahudi, Kristen dan Muslim, bersama agama lainnya untuk mengormati Abraham dengan melakukan seperti yang dilakukan Abraham,. 

 “Semoga kita – keturunan Abraham dan perwakilan dari agama yang berbeda – merasakan bahwa, di atas segalanya, kita memiliki peran ini: membantu saudara dan saudari kita untuk mengangkat mata dan berdoa ke surga.”ajaknya.

“Kita mengangkat mata kita ke surga untuk mengangkat diri kita dari kedalaman kesombongan kita; kita melayani Tuhan untuk dibebaskan dari perbudakan ego kita, karena Tuhan mendorong kita untuk mencintai. Ini adalah religiusitas sejati: menyembah Tuhan dan mencintai sesama kita.”tuturnya.

Paus Fransiskus juga berbicara tentang kerjasama antaragama di tengah pergolakan Irak abad ke-21. “Ketika terorisme menyerbu bagian utara negara tercinta ini, itu dengan sembarangan menghancurkan sebagian dari warisan religiusnya yang luar biasa, termasuk gereja, biara, dan tempat ibadah berbagai komunitas,”katanya.

Walau begitu, ungkap Paus Fransiskus, hubungan antara agama tidak mampu dibubarkan. “Pada waktu yang gelap itu, beberapa bintang tetap bersinar. Saya memikirkan relawan muda Muslim di Mosul, yang membantu memperbaiki gereja dan biara, membangun persahabatan persaudaraan di atas puing-puing kebencian. Orang-orang Kristen dan Muslim yang saat ini memulihkan masjid dan gereja bersama. ”ungkapnya

Baca juga:  Perjamuan Kudus Online di Masa Pandemi Covid-19, Boleh?

Bertolak dari peristiwa – peristiwa yang ada, Paus Fransiskus meminta semua orang percaya untuk mengambil jalan yang sama, untuk membuka diri terhadap orang lain. Sebab tidak akan ada perdamaian kecuali orang-orang mengulurkan tangan kepada orang lain. “Tidak akan ada kedamaian selama kita melihat orang lain sebagai mereka dan bukan kita,”tegasnya. 

Paus Fransiskus menambahkan, perdamaian tidak menuntut pemenang atau pecundang, melainkan persatuan. Apalagi pada hakekatnya orang – orang percaya kepada Tuhan tidak memiliki musuh untuk berperang. Selain dari musuh yang berdiri di depan pintu hati dan mengetuk untuk masuk. “Musuh itu adalah kebencian,” katanya.

Untuk tercapainya perdamaian, Paus Fransiskus menekankan, semuanya tergantung pada diri masing – masing penganut agama. “Untuk mengubah alat kebencian menjadi alat perdamaian. Tergantung kita untuk memohon dengan tegas kepada para pemimpin negara agar peningkatan proliferasi senjata memberi jalan bagi distribusi makanan untuk semua. ”paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here