Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham Bicara Soal Perceraian

0
Perceraian
Ilustrasi : Dalam Kristen masih banyak pasangan yang memutuskan untuk bercerai

Menikah bukan perkara yang gampang. Umur pernikahan yang sudah lama sekalipun bukan jaminan pernikahan itu akan bertahan sampai maut memisahkan. Faktanya, ada banyak perceraian yang terjadi, termasuk dari kalanan Kristen. Alasannya macam-macam, karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, tidak cocok dan lain-lain.

Ketua BPH GBI Pdt. Rubin Adi mengatakan pada dasarnya membenci perceraian dalam Maleakhi 2:16. Itu artinya kalau cerai sama saja melanggar perintah Tuhan.

“Memang ada ayat yang mengatakan Allah mengampuni dosa, tapi itu jangan dijadikan sebagai alasan untuk kita berbuat dosa sesuka hati. Karena ciri orang yang cinta Tuhan kan menyuaki apa yang Tuhan sukai dan membenci apa yang Tuhan benci,” ungkap Pdt. Rubin Adi dalam acara live instagram bersama Ps. Juan Mogi, Selasa (17/2/2021) malam.

Pdt. Rubin sadar jika membina pernikahan tidak mudah. Namun, perceraian bukan jalan keluar karena hanya akan mendatangkan masalah baru. “Dalam hidup orang biasanya memiliki ilusi atau pengharapan yang semu bahwa ketika bercerai akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Kalau memakai data pernikahan dan perceraian di Amerika itu 50:50. Tapi orang yang sudah bercerai dan menikah lagi kemudian bercerai, angkanya 60:40,” paparnya.

Baca juga:  Kunjungan Kasih GBI VOT ke Panti Jompo Pniel

Lebih jauh, alasan tidak cocok, tidak memiliki keturunan hingga KDRT tidak bisa dijadikan alasan untuk bercerai. “Kalaupun karena KDRT, saya menganjurkan untuk pisah sementara waktu sambil di konseling masing-masing pasangan tapi tidak bercerai. Karena siapa tahu Tuhan buka jalan untuk mereka rujuk,” katanya.

Lanjutnya, hanya ada satu alasan orang Kristen dapat bercerai yaitu karena zinah (Matius 9:19). Zinah yang dimaksud adalah berasal dari kata porneia. Artinya, ketika pasangan yang sudah menjadikan zinah seperti habit dan terjadi terus menerus serta tidak ada keinginan untuk bertobat sedikitpun.

Di sisi lain, gembala GBI Bethel Bandung ini menjelaskan orang Kristen sebenarnya memiliki peluang untuk menikah kembali. Namun dengan catatan yaitu ketika pasangannya sudah meninggal dunia.

Sementara itu, bagi pasangan yang dulu menikah bukan dalam Kristiani kemudian cerai lalu salah satu pasangannya menjadi Kristen dan menikah lagi, Pdt. Rubin memandang orang tersebut dimungkinkan kembali untuk menikah. “Dalam 1 Korintus 7:13 dan 15 ini dimungkinkan karena setelah diceraikan ia tidak terikat,” ucapnya.

Pdt. Rubin menekankan Tuhan tidak senang dengan perceraian. Sebab pada dasarnya Tuhan memiliki kehendak yang sempurna (the perfect will of God), tapi juga ada kehendak yang diizinkan terjadi karena kekerasan hati manusia (the permissive will of God).

Baca juga:  Peduli Hamba Tuhan, API DKI Berikan Bantuan

Katanya lagi, the permissive will of God lebih tepat disebut sebagai “pembiaran” oleh Tuhan karena kekerasan hati manusia. Meskipun pada dasarnya manusia diberikan free will tapi bukan berarti free will itu bisa digunakan sesuka hati. Sebab Tuhan sendiri sudah menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

“Jadi kalau kehendak yang sempurna jangan cerai, tapi kalau maksa ya sudah terserah walaupun kamu (umat) sudah tahu itu salah. Tapi juga karena engkau tetap anak-Ku, Aku akan tetap mendampingi walaupun engkau juga sudah tahu konsekuensi melanggar firman yang mungkin saja akan banyak luka atau masalah yang terjadi dalam kehidupan,” urainya.

Pdt. Rubin berpesan supaya para pasangan tetap saling mengasihi sekalipun ada yang melenceng ke kiri atau kanan. Disaat itulah peran pasangan diuji, apakah tetap mengasihi dan membantunya kembali atau justru ikut melenceng. “Sebuah kesalahan tidak bisa dibalas dengan kesalahan yang lain untuk menghasilkan kebenaran,” pesannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here