Pdt. Prof. Joas: Perlunya Habitus Baru Bagi Gereja di Tengah Pandemi

0
Pdt Prof Joas Adiprasetya
Pdt Prof Joas Adiprasetya. (Foto: istimewa)

Jakarta – Pdt. Prof. Joas Adiprasetya mengatakan pandemi telah mendorong gereja masuk pada tatanan baru yang biasa disebut gereja digital. Ini tidak mudah baik bagi jemaat maupun gereja (para pelayan) itu sendiri. “Cara mengatasinya dengan pembiasaan-pembiasaan (habitus) yang baru. Umat harus memiliki new habit,” katanya webinar “Gereja Digital” yang ditayangkan dalam kanal Youtube Sinode GKJ, Senin (15/2/2021).

Menurut Prof Joas, yang dimaksud dengan habitus baru atau new habit yaitu sebuah pembiasaan baru yang mengakar pada pemahaman ideal mengenai gereja dan melekat pada kesadaran situasi baru dunia.

Baca juga:  Optimalkan Kepemimpinan Antar Generasi dalam Gereja

“(Juga) Dibutuhkan kesetiaan pada pemahaman eklesiologi ideal kita sekaligus kemampuan elastis untuk menciptakan tindakan-tindakan baru yang responsif,” jelasnya.

Lebih jauh, dalam gereja analog terdapat transendensi, inkarnasional dan relasi – face to face, transformasi, terlibat dan mempersaksikan. Sedangkan gereja digital terdapat relevansi, virtual, koneksi – screen to screen, informasi, terhibur, menonton. Menurutnya, kedua hal ini yang harus kombinasikan agar tidak ada satu nilaipun yang hilang.

“Perbedaan gereja sebelum dan setelah pandemi adalah dulu kita fokus tentang gereja hanya hari Minggu. Tapi sekarang fokus kita bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada setiap hari di masa murung ini. Itu poin utamanya,” jelasnya.

Baca juga:  JPCC Worship Online Worship Night “Kau Ada”, Lebih dari 11 Ribu Orang Menyembah Tuhan Bersama

Namun, Prof. Joas mengingatkan gereja perlu memahami dunia digital ini secara bijak. Jangan sampai gereja justru terjebak dalam bahaya digital dan meninggalkan esensi dari sebuah persekutuan atau pelayanan itu sendiri.

“Misalnya, budaya digital menekankan kecepatan. Itu bisa berarti kita masuk dalam kultur tidak sabaran dan bisa membawa spirit individualisme,” kata dosen Teologi Konstruktif dan Teologi Agama-agama STFT Jakarta ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here